Hadits Arbain Ke 5 Latin dan Artinya Beserta Syarahnya

Hadits Arbain Ke 5 Latin dan Artinya Beserta Syarahnya

Bismillah, Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah , semoga shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad beserta keluarganya, para sahabatnya, dan juga para pengikut setianya hingga hari kiamat.

Pada artikel kali ini, kita akan pelajari bersama materi tentang hadits arbain yang ke 5 dilengkapi dengan latin dan artinya serta syarah atau penjelasannya. Berikut teks redaksi hadits arbain ke 5 serta latin dan artinya :

A. Teks Hadits Arbain Ke 5

عَنْ أُمِّ المُؤمِنِينَ أُمِّ عَبْدِ اللهِ عَائِشَةَ - رَضِيَ اللهُ عَنْهَا - قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ: مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

B. Teks Latin Hadits Arbain Ke 5

"Man ahdatsa fii amrina haadzaa maa laisa minhu fahuwa roddun"

C. Arti Hadits Arbain Ke 5

Dari Ummul Mu'minin; Ummu Abdillah; 'Aisyah radhiyallaahu 'anha, beliau berkata : Rasulullah bersabda : "Barang siapa yang mengada-ngada di dalam perkara agama kami ini, yang bukan berasal darinya, maka ia tertolak."

D. Syarah Hadits Arbain ke 5

Berikut merupakan syarah atau penjelasan tentang hadits arbain yang ke 5 :

Sekilas Tentang Hadits Arbain ke 5

Hadits ini merupakan hadits yang menjadi pokok di dalam menimbang amalan yang bersifat lahir. Jika ada seseorang yang mengamalkan suatu amalan ibadah yang tidak ada di dalam ajaran Islam maka amalan tersebut akan ditolak oleh Allah dan tidak akan diterima. Berdasarkan hadits ini, para ulama sepakat bahwa amal ibadah itu bersifat tauqifiyyah, yaitu seseorang tidak boleh mengamalkan suatu amal ibadah yang tidak ada di dalam ajaran agama Islam.

Berdasarkan hadits ini pula, para ulama menjadikan ittiba' sebagai salah satu syarat diterimanya amal ibadah. Maksudnya, ketika seseorang hendak mengamalkan suatu amal ibadah, maka ia harus mengikuti ajaran Islam yang diajarkan oleh Rasulullah . Di dalam mengamalkan amal ibadah tidak cukup hanya dengan ikhlas saja, akan tetapi juga harus mengikuti ajaran agama Islam yang diajarkan oleh Rasulullah .

Apa Yang Dimaksud Mengada-ngada dalam Agama?

Istilah lain dari sesuatu yang diada-adakan di dalam agama adalah bid'ah. Banyak kaum muslimin yang masih salah faham tentang konsep bid'ah itu sendiri. Mereka beranggapan bahwa bid'ah adalah sesuatu yang tidak ada di zaman Rasulullah . Padahal bid'ah bukanlah sesuatu yang tidak ada di zaman Rasulullah .

Lalu, apa itu bid'ah? "Bid'ah adalah suatu jalan dalam agama yang diada-adakan yang menyerupai ajaran islam dan hal tersebut dilakukan untuk berlebih-lebihan di dalam beribadah kepada Allah ."

Berdasarkan definisi tersebut dapat kita ambil sebuah poin bahwa bid'ah adalah hal baru yang berkaitan ajaran dengan agama. Artinya, hal baru yang tidak berkaitan dengan ajaran agama bukanlah bid'ah. Poin lain yang dapat kita ambil dari definisi tersebut adalah bahwa bid'ah itu dilakukan karena berlebih-lebihan dalam beribadah. Hal ini disebabkan karena ketidakpuasan para pelaku bid'ah terhadap syariat yang sudah diajarkan oleh Rasulullah . Sehingga mereka mengada-ngadakan amalan baru yang tidak ada di dalam ajaran agama Islam.

Agar lebih mempermudah, mari kita ambil contoh ajaran Islam tentang jumlah roka'at dalam sholat subuh. Berdasarkan ajaran agama Islam yang diajarkan oleh Rasulullah , jumlah roka'at dalam sholat subuh adalah dua roka'at. Jika ada seseorang yang melaksanakan sholat subuh lebih dari dua roka'at atau kurang dari dua roka'at, dan ia melakukan hal itu dengan sengaja karena merasa tidak puas dengan dua roka'at yang diajarkan oleh Rasulullah , maka sholat subuh yang ia lakukan adalah bid'ah.

Amal Ibadah Yang Diada-adakan Ditolak Oleh Allah

Perbuatan bid'ah adalah perbuatan yang tercela. Sorang yang melakukan perbuatan bid'ah, baik sadar maupun tidak, secara tidak langsung telah menganggap bahwa ajaran agama Islam adalah ajaran agama yang belum sempurna. Selain itu, seorang yang melakukan perbuatan bid'ah, secara tidak langsung juga menganggap bahwa Rasulullah tidak amanah dalam menyampaikan ajaran agama. Sehingga ia membuat model ajaran dan amalan baru yang menurut dia belum diajarkan oleh Rasulullah . Tentu saja ini merupakan sebuah pelecehan terhadap ajaran Islam dan pembawa ajaran Islam itu sendiri.

Maka dari itu, setiap perbuatan ibadah yang diada-adakan tidak akan diterima oleh Allah , meskipun ia bermaksud baik dan ikhlas dalam melaksanakan ibadah tersebut. Bahkan pelakunya diancam dengan laknat dari Allah , malaikat, dan juga seluruh manusia. Rasulullah bersabda :

‌مَنْ ‌أَحْدَثَ فِيهَا حَدَثًا، أَوْ آوَى مُحْدِثًا، فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Barang siapa yang mengada-ngada sebuah amalan di dalamnya, atau memberikan tempat tinggal kepada orang yang mengada-ngada tersebut, maka ia mendapatkan laknat Allah, para malaikat, dan seluruh manusia.


[HR. Bukhari]

Hal Baru di Luar Ajaran Agama Bukanlah Bid'ah

Banyak kaum muslimin yang salah dalam memahami konsep bid'ah. Sebagai contoh, mereka mengatakan bahwa berdakwah melalui channel Youtube adalah bid'ah karena tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah . Padahal bukan itu yang dimaksud dengan bid'ah.

Perlu ditekankan lagi, bahwa bid'ah adalah sesuatu yang berkaitan dengan ajaran agama. Maka sesuatu yang tidak ada sangkut-pautnya dengan agama dibebaskan untuk berkreasi sekreatif mungkin. Termasuk hal-hal yang membantu di dalam menjalankan agama bukanlah bagian dari agama, karena hal tersebut hanyalah alat bantu yang digunakan untuk memudahkan dalam melaksanakan ajaran agama.

Sebagai contoh, membaca Al-Quran dengan menggunakan kacamata. Pertanyaannya adalah :

  • Apakah membaca Al-Quran dengan menggunakan kacamata adalah bid'ah?

Jawabannya tentu saja tidak! Kacamata hanyalah alat bantu untuk melihat. Menggunakan kacamata bukan bagian dari amalan ibadah. Oleh karena itu membaca Al-Quran dengan menggunakan kacamata bukanlah bid'ah, meskipun Rasulullah tidak pernah membaca Al-Quran dengan menggunakan kacamata. Demikian pula berdakwah melalui channel Youtube bukanlah bid'ah. Karena Youtube hanyalah fasilitas/alat bantu yang digunakan untuk menyebarkan dakwah dengan mudah ke seluruh penjuru dunia.

Lain lagi jika kasusnya adalah membaca Al-Quran saat melakukan rukuk dan sujud di dalam sholat. Rukuk dan sujud saat sholat adalah amal ibadah yang tata caranya sudah ditentukan di dalam ajaran Islam. Oleh karena itu, barang siapa yang melakukan rukuk dan sujud tidak sesuai dengan yang Rasulullah ajarakan maka barulah hal seperti ini disebut dengan bid'ah.

E. Ringkasan dan Penutup

  • Siapa yang mengamalkan ajaran baru di dalam agama yang diada-adakan maka amalannya tertolak.
  • Ajaran baru dalam agama yang diada-adakan disebut dengan bid'ah.
  • Bid'ah adalah perkara yang tercela.
  • Hal-hal baru yang diada-adakan di luar agama bukan termasuk bid'ah

Related Posts :