Ceramah Tentang Hilangnya Rasa Malu Beserta Dalilnya

Ceramah Tentang Hilangnya Rasa Malu

Di dalam agama Islam, rasa malu merupakan salah satu akhlak yang terpuji. Dengan memiliki rasa malu maka kita akan cenderung menjauhi perbuatan yang keji dan tercela. Malu di dalam Islam bukan berarti tidak percaya diri. Akan tetapi malu yang dimaksud adalah adanya perasaan tidak nyaman ketika hendak melakukan perbuatan keji.

Pada artikel kali ini, saya ingin berbagi salah satu naskah ceramah tentang hilangnya rasa malu yang cocok dibawakan baik itu di acara pengajian, acara formal ataupun acara non-formal. Dengan kita membawakan ceramah tentang hilangnya rasa malu, diharapkan umat tersadar akan pentingnya rasa malu.

Berikut ini merupakan contoh naskah ceramah tentang hilangnya rasa malu yang disajikan secara lengkap mulai dari salam, pembukaan, isi, kesimpulan, sampai penutup dan dilengkapi dengan dalil tentag rasa malu :

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. وَبَعْدُ

(Alhamdulillahi robbil-‘aalamiin, wash-sholaatu was-salaamu ‘ala asyrofil-ambiya-i wal-mursalin, sayyidina wa nabiyyina Muhammadin, wa ‘alaa aalihi wa shohbihi ajma’in. Wa ba’du)

Hadirin yang semoga dirahmati oleh Allah... pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kepada Allah yang telah memberikan banyak kenikmatan kepada kita sehingga kita bisa bertemu kembali pada pertemuan yang mudah-mudahan diberkahi oleh Allah.

Yang kedua, saya berdoa kepada Allah semoga shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Nabi Muhammad , beserta keluarganya, para sahabatnya, serta para pengikutnya hingga hari kiamat.

Hadirin yang semoga dirahmati oleh Allah... sebagaimana yang telah diinformasikan sebelumnya, bahwa tema ceramah pada pengajian kali ini adalah ceramah tentang hilangnya rasa malu. Namun, sebelum saya menyampaikan ceramah tentang hilangnya rasa malu kepada para hadirin, saya hendak berwasiat terlebih dahulu. Yang mana wasiat ini saya tujukan untuk diri saya sendiri secara khusus dan kepada hadirin yang hadir pada pengajian pada pagi hari ini.

Adapun isi wasiatnya adalah : "Marilah bersama-sama kita tingkankan ketakwaan kita kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa dan jangan sampai kita wafat melainkan dalam keadaan sebagai seorang muslim". Allah berfirman :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.


[QS. Ali Imron ayat 102]

Hadirin yang semoga dirahmati oleh Allah... jika kita mengamati fenomena yang terjadi akhir-akhir ini, maka sesungguhnya kita akan menyadari bahwa betapa banyak manusia yang telah kehilangan rasa malunya.

Di antara bukti banyaknya manusia yang telah kehilangan rasa malunya adalah banyaknya wanita muslimah yang tidak malu mengumbar auratnya baik itu di hadapan publik maupun di sosial media. Padahal, sebagaimana yang kita ketahui bahwa aurat itu adalah aib yang harus kita tutupi. Jikalau kita masih memiliki rasa malu tentulah kita akan merasa tidak nyaman bila aurat kita tersingkap.

Selain itu, bukti lain banyaknya manusia yang telah kehilangan rasa malunya adalah banyaknya pasangan suami istri yang menyebar aib rumah tangganya sendiri baik itu di publik maupun sosial media. Seperti memamerkan kemesraan yang tidak sepantasnya dilihat publik, mempublikasi permasalahan yang terjadi dalam rumah tangganya, bahkan membicarakan aib pasangannya ketika terjadi masalah dalam rumah tangganya.

Akan tetapi bukan hanya itu saja. Termasuk ketika kita melakukan kemaksiatan secara sembunyi-sembunyi maka sesungguhnya hal itu juga pertanda bahwa diri kita telah kehilangan rasa malu. Apalagi di zaman yang modern seperti ini. Maksiat secara sembunyi-sembunyi sangatlah mudah dilakukan hanya melalui smartphone kita.

Hadirin yang semoga dirahmati oleh Allah... jika kita merujuk kepada Hadits Rasulullah , maka sungguh benar apa yang pernah disabdakan oleh Rasulullah di mana beliau pernah bersabda :

إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَافْعَلْ مَا شِئْتَ

Jika engkau tidak merasa malu maka lakukanlah apa saja yang kamu mau


[HR. Bukhori]

Jikalau kita mau merenungkan hadits tersebut, maka sesungguhnya kita akan paham bahwa di antara ciri orang yang tidak memiliki rasa malu adalah suka berbuat semaunya. Sedangkan kita tahu, bahwa makhluk yang berbuat semaunya tanpa menggunakan akalnya itu adalah hewan. Lantas, maukah kita disamakan dengan hewan?

Bukankah makhluk yang tidak berpakaian itu adalah hewan?

Bukankah makhluk yang punya anak tanpa akad pernikahan itu adalah hewan?

Bukankah makhluk yang makan dan minum tanpa memperhatikan halal dan haram adalah hewan?

Lantas, mengapa masih banyak di antara manusia yang berperilaku seperti hewan? Na'udzubillaahu min dzaalik.

Hadirin yang semoga dirahmati oleh Allah... sebagai seorang yang beriman, kita harus memiliki rasa malu. Selain itu, kita juga harus menjaga rasa malu tersebut dengan terus memperbarui iman dan bertholabul ilmi agar ia tidak pergi meninggalkan kita. Ketahuilah bahwa rasa malu adalah sebagian dari iman, Rasulullah bersabda :

الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَةً. وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإيمان

Iman itu memiliki 70 cabang. Dan malu adalah salah satu cabang dari keimanan.


[HR. Muslim]

Selain itu, jika kita memiliki rasa malu maka tidaklah rasa malu itu datang kecuali pasti membawa kebaikan. Bukankah Rasulullah bersabda bahwa ‌الْحَيَاءُ ‌لَا ‌يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ yang artinya : "malu tidaklah datang kecuali dengan kebaikan"?

Oleh sebab itu, jika kita memiliki rasa malu pastilah kita akan condong pada kebaikan. Mengapa demikian? Karena fitrahnya manusia itu akan merasa tidak nyaman jika melakukan keburukan dan perbuatan keji. Dan perasaan tidak nyaman tersebutlah yang disebut dengan rasa malu.

Hadirin yang semoga dirahmati oleh Allah... hal terakhir yang hendak penceramah sampaikan adalah bahwa rasa malu yang paling afdhol dan paling utama adalah malu kepada Allah. Mengapa demikian?

Orang yang malu kepada Allah pasti akan timbul perasaan tidak nyaman ketika hendak berbuat maksiat. Hal ini dikarenakan ia menyadari ada Allah yang mengawasi perbuatannya. Selain itu, di kala sendiri pun ia juga merasa malu jika hendak melakukan perbuatan keji. Apalagi jika ada orang lain yang melihatnya tentu ia akan lebih merasa malu. Karena bukan hanya Allah yang melihatnya, bahkan para malaikat, serta orang lain di sekitarnya juga ikut melihat perbuatannya.

Jika kita kembali kepada hadits Rasulullah , maka orang yang malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya adalah ketika ia memiliki empat kriteria, yaitu :

  1. أَنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى yang artinya : "engkau menjaga kepala beserta isinya"
  2. وَالبَطْنَ وَمَا حَوَى yang artinya : "engkau menjaga perut beserta isinya"
  3. وَلْتَذْكُرِ المَوْتَ وَالبِلَى yang artinya : "engkau mengingat kematian dan kebinasaan"
  4. وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ تَرَكَ زِينَةَ الدُّنْيَا yang artinya : "siapa yang menginginkan akhirat maka ia tinggalkan perhiasan dunia."

Apa maksud dari keempat hal tersebut?

  • Yang dimaksud menjaga kepala dan seisinya adalah : tidak menggunakan kepala untuk bermakisat kepada Allah, seperti menggunakan kepala untuk sujud kepada selain Allah, menggunakan mata untuk melihat hal yang haram, menggunakan telinga untuk mendengarkan hal yang haram, menggunakan lisan untuk berucap dusta dan keji, mengangkat kepala untuk menyombongkan diri, dan lain sebagainya.
  • Adapun yang dimaksud menjaga perut dan isinya adalah : menjaga perut dari makanan dan minuman yang diharamkan serta menjaga apapun yang ada di dalam perut seperti hati dan yang mengelilingi perut seperti tangan, kaki, dan kemaluan dari perbuatan maksiat.
  • Adapun mengingat kematian dan kebinasaan maksudnya adalah : jika seseorang memiliki rasa malu pastilah senantiasa mengingat kematian dan kebinasaan. Hal ini terjadi dikarenakan ia malu jika setelah kematiannya ternyata kemaksiatan yang dilakukannya ditanyakan oleh Allah.
  • Sedangkan yang dimaksud menginginkan akhirat dan meninggalkan perhiasan dunia adalah : mencintai akhirat, beramal untuk kehidupan akhirat, tidak mencintai dunia, serta meninggalkan perhiasan serta syahwat-syahwat dunia yang menipu.

Jika keempat hal tersebut bisa kita lakukan, maka kata Rasulullah :

فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ اسْتَحْيَا ‌مِنَ ‌اللَّهِ ‌حَقَّ ‌الحَيَاءِ

Barang siapa yang melakukan hal itu maka ia telah malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya.

Demikianlah ceramah tentang hilangnya rasa malu yang dapat saya sampaikan. Semoga dengan disampaikannya ceramah ini, membuat diri kita semakin malu kepada Allah untuk melakukan perbuatan keji, baik itu dikala sendiri maupun ketika bersama orang lain.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Related Posts :