Pengertian Akhlak dalam Islam, Pembagian, Urgensi dan Keutamaannya

Pengertian Akhlak dalam Islam

Islam sangatlah menekankan pentingnya akhlak. Bahkan, salah satu diantara tujuan diutusnya Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Pada kesempatan kali ini, kita akan mempelajari konsep dan pengertian akhlak dalam Islam, mulai dari pengertian akhlak secara bahasa dan istilah, pembagian akhlak dalam Islam, urgensi akhlak dalam Islam, dan lain sebagainya.

DAFTAR ISI

A. Pengertian Akhlak dalam Islam

Apa pengertian akhlak secara bahasa? Akhlak (arab : الأخلاق) merupakan bentuk jamak dari kata al-khuluq (الخُلُق) yang berarti budi pekerti, perangai, watak, atau tabiat. Adapun pengertian akhlak secara istilah adalah watak atau sifat asli dari seseorang yang muncul secara spontan dan tidak dibuat-buat.

Al-Jurjani mengatakan :

عبارة ‌عن ‌هيئة للنفس راسخة تصدر عنها الأفعال بسهولة ويسر من غير حاجة إلى فكر وروية

Ungkapan dari dalam keadaan jiwa seseorang yang melekat yang menghasilkan perbuatan yang spontan tanpa berfikir atau merencanakannya.


[At-Ta’rifat hlm. 101]

B. Sumber Akhlak dalam Islam

1. Al-Quran

Tidak diragukan lagi bahwa sumber utama akhlak dalam Islam adalah Al-Quran. Al-Quran adalah kitab yang menunjukkan pada jalan yang lurus. Di dalamnya terdapat petunjuk dalam segala aspek termasuk berakhlak.

إِنَّ هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانَ يَهۡدِي لِلَّتِي هِيَ أَقۡوَمُ

Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus


[QS. Al-Isra’ ayat 9]

Selain itu, Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam adalah seorang yang berakhlak dengan akhlak Al-Quran. Diriwayatkan bahwa ketika Aisyah ditanya tentang akhlak beliau maka Aisyah menjawab :

‌فَإِنَّ ‌خُلُقَ ‌نَبِيِّ اللهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ الْقُرْآنَ

Sesungguhnya akhlak Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam adalah Al-Quran


[HR. Muslim no. 746]

2. As-Sunnah

Sumber kedua akhlak dalam islam adalah sunnah Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam. Beliau adalah manusia terbaik yang paling patut dijadikan sebagai teladan dalam berakhlak. Allah subhanahu wata'ala sendiri telah memuji keagungan akhlak beliau di dalam Al-Quran.

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٖ ٤

Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.


[QS. Al-Qolam ayat 4]

Selain itu, Allah subhanahu wata'ala juga mengakui keteladanan beliau dalam berakhlak bagi orang-orang yang mengharapkan negeri akhirat.

لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا ٢١

Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.


[QS. Al-Ahzab ayat 21]

Bahkan, Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam diutus oleh Allah subhanahu wata'ala untuk menyempurnakan akhlak yang baik.

إِنَّمَا ‌بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.


[HR. Ahmad no. 8952]

C. Pembagian Akhlak dalam Islam

1. Akhlak Kepada Allah

Akhlak kepada Allah subhanahu wata'ala adalah akhlak yang paling penting dan paling utama karena kita adalah makhluk dan hamba-Nya. Tidaklah pantas seorang hamba berakhlak buruk dan menyombongkan diri di hadapan Tuhannya. Kepada sesama makhluk saja kita harus berakhlak baik, apalagi kepada Tuhan yang telah menciptakan dan memberikan banyak nikmat kita.

Contoh-contoh berakhlak kepada Allah subhanahu wata'ala sangatlah banyak. Di antara contoh akhlak kepada Allah subhanahu wata'ala ialah : beriman kepada Allah, mengakui kesempurnaan sifat-sifat dan perbuatan Allah, membenarkan apa yang dikabarkan oleh Allah, bersyukur kepada Allah, bertawakkal kepada Allah, dan lain sebagainya.

2. Akhlak Kepada Sesama Manusia

Berakhlak kepada manusia adalah sebuah keniscayaan. Berakhlak baik kepada manusia juga merupakan konsekuensi dari berakhlak kepada Allah subhanahu wata'ala. Seseorang belum dikatakan berakhlak baik kepada Allah subhanahu wata'ala hingga ia berakhlak baik juga kepada sesama manusia apalagi sesama saudara seiman.

لَا ‌يُؤْمِنُ ‌أَحَدُكُمْ ‌حَتَّى ‌يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri.


[HR. Bukhari no. 13]

Akhlak yang baik atau akhlak yang terpuji disebut juga dengan istilah Al-Akhlaqul Karimah (arab : الأخلاق الكريمة). Diantara contoh akhlak baik tersebut ialah : jujur, amanah, iffah, adil, ihsan, pemaaf, melaksanakan kewajiban, memberikan hak kepada yang berhak menerimanya, dan lain sebagainya.

Adapun akhlak tercela disebut juga dengan istilah Al-Akhlaqul Madzmuumah (arab : الأخلاق المذمومة). Akhlak yang tercela wajib dihindari oleh seorang muslim. Di antara contoh akhlak tercela ialah : berbohong, khianat, zalim, saling bermusuhan, kikir, tidak memberikan hak pada yang berhak menerimanya, dan lain sebagainya.

3. Akhlak Kepada Diri Sendiri

Akhlak kepada diri sendiri adalah akhlak yang berhubungan dengan diri sendiri. Di antara contoh akhlak terpuji terhadap diri sendiri yaitu : sabar dalam menghadapi musibah, tidak tergesa-gesa dalam setiap perkara, disiplin, dan lain sebagainya.

Sebaliknya, akhlak tercela terhadap diri yang harus dihindari oleh seorang muslim di antaranya ialah : tergesa-gesa dalam suatu perkara, tidak bersabar menghadapi musibah, tidak disiplin, dan lain sebagainya.

4. Akhlak Kepada Hewan

Di dalam Islam, kita tidak hanya diajarkan untuk berakhlak kepada sesama manusia. Akan tetapi, kita juga diajarkan bagaimana berakhlak kepada makhluk hidup yang tidak berakal yaitu hewan. Di antara akhlak yang diajarkan oleh Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam adalah hendaknya tidak menyiksa hewan. Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda :

عُذِّبَتِ امْرَأَةٌ فِي هِرَّةٍ سَجَنَتْهَا حَتَّى مَاتَتْ فَدَخَلَتْ فِيهَا النَّارَ لَا هِيَ أَطْعَمَتْهَا وَلَا سَقَتْهَا إِذْ حَبَسَتْهَا وَلَا هِيَ تَرَكَتْهَا تَأْكُلُ مِنْ خُشَاشِ الْأَرْضِ

Ada seorang wanita disiksa disebabkan seekor kucing yang dikurungnya hingga mati kelaparan. Lalu wanita itupun masuk neraka karena dia tidak memberinya makan dan minum ketika mengurungnya. Ia juga tidak melepaskannya agar dapat menyantap serangga tanah.


[HR. Bukhari no. 3482]

D. Urgensi Pembinaan Akhlak dalam Islam

Akhlak merupakan simbol yang mewakili jiwa dan hati seseorang. Tabiat dan perilaku yang muncul dari seseorang berasal dari jiwa dan hatinya. Jika jiwa seseorang itu baik maka akan baik pula perbuatannya. Sebaliknya, jika jiwa seseorang itu buruk maka akan buruk pula perbuatannya.

Allah subhanahu wata'ala tidak menilai baik buruknya seseorang dari rupa dan hartanya. Akan tetapi, Allah subhanahu wata'ala menilai baik buruknya seseorang dari hati dan perbuatannya. Oleh karena itu, orang yang paling mulia di sisi Allah subhanahu wata'ala adalah orang yang hatinya paling bertakwa. Allah subhanahu wata'ala berfirman :

إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ

Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.


[QS. Al-Hujurat ayat 13]

إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَادِكُمْ، وَلَا إِلَى صُوَرِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ

Sesungguhnya Allah tidak melihat jasad dan rupa kalian. Akan tetapi Allah melihat pada hati kalian.


[HR. Muslim no. 2564]

Berdasarkan ayat dan hadits di atas, dapat kita pahami bahwa orang yang paling mulia di sisi Allah bukanlah orang yang paling indah rupanya dan paling banyak hartanya. Akan tetapi, orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang memiliki ketakwaan di dalam hatinya.

Selain itu, Allah subhanahu wata'ala tidak menilai baik buruk seorang hamba dari jasad dan rupanya. Akan tetapi, Allah subhanahu wata'ala menilai kebaikan seseorang dari hati yang dimilikinya dan perbuatannya yang merupakan cerminan dari hatinya.

Setiap muslim tentu ingin mendapatkan kemuliaan di sisi Allah subhanahu wata'ala. Oleh karena itu, pembinaan akhlak sangatlah penting karena pembinaan akhlak dapat memperbaiki hati yang menjadi tolak ukur kemuliaan di sisi Allah subhanahu wata'ala. Jika jiwa dan hati seseorang itu baik maka ia akan mendapatkan kedudukan yang mulia di sisi Allah subhanahu wata'ala.

E. Mungkinkah AKhlak Seseorang Diubah?

1. Pembagian Akhlak Manusia

Pada hakikatnya setiap manusia telah diberikan kadar akhlaknya masing-masing oleh Allah subhanahu wata'ala. Di antara manusia itu ada yang penyabar, ada yang tergesa-gesa, ada yang mudah marah, ada yang penyayang, dan lain sebagainya. Perbedaan akhlak setiap manusia itu seperti perbedaan fisik manusia yang Allah subhanahu wata'ala ciptakan dengan berbagai macam bentuk. Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda :

إِنَّ اللهَ خَلَقَ آدَمَ مِنْ قَبْضَةٍ قَبَضَهَا مِنْ جَمِيعِ الْأَرْضِ، فَجَاءَ بَنُو آدَمَ عَلَى قَدْرِ الْأَرْضِ، جَاءَ مِنْهُمُ الْأَحْمَرُ وَالْأَبْيَضُ وَالْأَسْوَدُ، وَبَيْنَ ذَلِكَ، وَالسَّهْلُ وَالْحَزْنُ، وَالْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ

Sesungguhnya Allah menciptakan Adam dari segenggam tanah dari semua jenis tanah. Kemudian datanglah keturunan Adam dengan beragam sesuai dengan unsur tanahnya. Ada di antara mereka yang berkulit merah, putih, hitam, dan lain sebagainya. Ada yang lembut dan ada yang kasar, ada yang buruk dan ada yang baik.


[HR. Abu Dawud no. 4693]

Berdasarkan hadits di atas, kita mengetahui bahwa Allah subhanahu wata'ala menciptakan fisik dengan bentuk yang bermacam-macam. Selain itu, Allah subhanahu wata'ala juga menciptakan akhlak manusia yang bermacam-macam. Di dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Allah subhanahu wata'ala telah membagi-bagi akhlak kepada manusia sebagaimana membagi rezeki di antara mereka.

إِنَّ اللهَ قَسَمَ بَيْنَكُمْ أَخْلَاقَكُمْ، كَمَا قَسَمَ بَيْنَكُمْ أَرْزَاقَكُمْ

Sesungguhnya Allah telah membagi akhlak di antara kalian sebagaimana membagi rezeki di antara kalian.


[HR. Ahmad no. 3672]

Meskipun para ulama menilai hadits di atas lemah, makna hadits di atas adalah benar. Buktinya, terdapat hadits lainnya yang dinilai hasan yang menunjukkan makna yang serupa. Diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda :

أَلَا وَإِنَّ مِنْهُمُ البَطِيءَ الغَضَبِ سَرِيعَ الفَيْءِ، وَمِنْهُمْ سَرِيعُ الغَضَبِ سَرِيعُ الفَيْءِ، فَتِلْكَ بِتِلْكَ، أَلَا وَإِنَّ مِنْهُمْ سَرِيعَ الغَضَبِ بَطِيءَ الفَيْءِ، أَلَا وَخَيْرُهُمْ بَطِيءُ الغَضَبِ سَرِيعُ الفَيْءِ، أَلَا وَشَرُّهُمْ سَرِيعُ الغَضَبِ بَطِيءُ الفَيْءِ

Ingatlah! Sesungguhnya di antara mereka ada yang lamban marah dan cepat sadar. Ada juga yang cepat marah dan cepat sadar. Maka itu sebagai ganti yang itu. Ingatlah! Di antara mereka ada yang cepat marah dan lamban sadar. Ingatlah! Yang terbaik dari mereka adalah yang lamban marah tapi cepat sadar. Ingatlah! Yang terburuk dari mereka adalah yang cepat marah dan lamban sadar.


[HR. Tirmidzi no. 2191]

Bisakah Akhlak Diubah?

Kita mengetehui bahwa akhlak yang kita miliki telah dibagi oleh Allah subhanahu wata'ala berdasarkan kadarnya masing-masing sesuai dengan kehendak-Nya. Maka dari itu, mungkinkan akhlak yang kita miliki saat ini diubah menjadi lebih baik?

Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Sebagian mereka berpendapat bahwa akhlak tidak dapat diubah sama sekali. Sebagian yang lainnya berpendapat bahwa akhlak dapat diubah secara mutlak. Tentu pembahasan dan perdebatan dalam masalah ini sangatlah panjang dan luas. Namun, pendapat yang terbaik adalah pendapat yang pertengahan yaitu yang membagi akhlak menjadi dua jenis :

  • Akhlak bawaan
  • Akhlak perolehan

Akhlak bawaan adalah akhlak atau tabiat yang sudah ada sejak lahir. Akhlak ini tidak dapat diubah sama sekali karena memang Allah-lah yang menghendaki demikian. Adapun jenis akhlak yang kedua adalah akhlak perolehan atau tabiat yang dapat diubah dengan mengupayakannya.

Perumpamaan pembagian akhlak ini dapat kita analogikan dengan bentuk atau rupa tubuh manusia. Tidak semua bagian tubuh manusia dapat diubah. Contoh bagian tubuh yang tidak bisa diubah ialah bentuk dan posisi kedua tangan, bentuk dan posisi kedua kaki, bentuk dan posisi kepala, dan lain sebagainya.

Adapun bagian tubuh yang lain masih bisa diubah dengan cara mengupayakannya. Contohnya seperti badan yang gemuk bisa diubah menjadi kurus dengan cara mengatur pola makan dan berolahraga, kulit yang robek dapat dikembalikan dengan cara diobati, rambut yang panjang bisa dipendekkan dengan cara mencukurnya, dan lain sebagainya.

Jika akhlak manusia tidak bisa diubah sama sekali maka tidak mungkin Allah subhanahu wata'ala mengutus utusan yang diutus untuk menyempurnakan akhlak. Selain itu, tidak mungkin pula Allah subhanahu wata'ala menurunkan nasehat kepada manusia melalui Al-Quran. Seandainya akhlak tidak bisa diubah sama sekali maka diutusnya utusan dan diturunkannya Al-Quran adalah hal yang sia-sia dan tidak perlu dilakukan.

F. Keutamaan Akhlak dalam Islam

1. Merupakan Amalan Penghuni Surga

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا، وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا، وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسُنَ خُلُقُهُ

Aku menjamin rumah di tepi surga bagi seseorang yang meninggalkan perdebatan meskipun ia berada di pihak yang benar. Aku juga menjamin rumah di tengah surga bagi seseorang yang meninggalkan kedustaan meskipun bercanda. Dan aku juga menjamin rumah di surga yang paling tinggi bagi seseorang yang berakhlak baik.


[HR. Abu Dawud no. 4800]

سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الجَنَّةَ، فَقَالَ : تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الخُلُقِ

Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam pernah ditanya tentang perkara yang banyak memasukkan manusia ke dalam surga, beliaupun bersabda : “Bertakwa kepada Allah dan akhlak yang baik.”


[HR. Tirmidzi no. 2004]

2. Dicintai Allah dan Rasul-Nya

قَالُوا : ‌فَمَنْ ‌أَحَبُّ ‌عِبَادِ ‌اللَّهِ ‌إِلَى ‌اللَّهِ؟ ‌قَالَ : ‌أَحْسَنُهُمْ ‌خُلُقًا

Orang-orang Arab pedalaman bertanya : “Siapakah hamba Allah yang paling dicintai?” Rasulullah menjawab : “Mereka yang paling baik akhlaknya.”


[HR. Hakim no. 8214]

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ القِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا

Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat kedudukannya denganku di hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya.


[HR. Tirmidzi no. 2018]

3. Memperberat Timbangan Amal

مَا شَيْءٌ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ المُؤْمِنِ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ

Tidak sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin kelak pada hari kiamat daripada akhlak yang baik. Sesungguhnya Allah amatlah murka terhadap seorang yang keji lagi jahat.


[HR. Tirmidzi no. 2002]

4. Kedudukan Yang Tinggi

إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَةَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ

Sesungguhnya seorang mukmin akan mendapatkan kedudukan ahli puasa dan shalat dengan ahlak baiknya.


[HR. Abu Dawud no. 4798]

5. Amalan Terbaik

عَلَيْكَ بِحُسْنِ الْخُلُقِ ، وَطُولِ الصَّمْتِ ، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا عَمِلَ الْخَلائِقُ بِمِثْلِهِمَا

Hendaknya engkau berakhlak dengan baik dan perbanyaklah diam. Demi Dzat yang diriku berada di tangan-Nya, tidak ada makhluk yang beramal yang bisa menyamai keduanya.


[HR. Al-Bazzar no. 7001]

6. Menambah Kemakmuran dan Memakmurkan Surga

إِنَّهُ مَنْ أُعْطِيَ حَظَّهُ مِنَ الرِّفْقِ، فَقَدْ أُعْطِيَ حَظَّهُ مِنْ خَيْرِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَصِلَةُ الرَّحِمِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ وَحُسْنُ الْجِوَارِ يَعْمُرَانِ الدِّيَارَ، وَيَزِيدَانِ فِي الْأَعْمَارِ

Sesungguhnya, barang siapa yang diberikan bagian sifat lemah lembut, maka sungguh ia telah diberikan bagian dari kebaikan dunia dan akhirat. Menyambung silaturrahim, akhlak yang baik dan berbuat baik pada tetangga, keduanya memakmurkan surga dan menambah kemakmuran.


[HR. Ahmad no. 25259]

G. Ringkasan Materi

  1. Pengertian Akhlak dalam Islam
    • Secara bahasa : tabiat, watak, perangai.
    • Secara istilah : sesuatu yang ada di dalam jiwa seseorang yang mendorongnya untuk berbuat sesuatu tanpa berfikir atau merencanakan terlebih dahulu.
  2. Sumber Akhlak dalam Islam
    • Al-Quran
    • As-Sunnah
  3. Pembagian Akhlak dalam Islam
    • Akhlak kepada Allah
    • Akhlak kepada manusia
    • Akhlak kepada diri sendiri
    • Akhlak kepada hewan
  4. Urgensi Pembinaan Akhlak
    • Akhlak adalah simbol yang mewakili jiwa seseorang.
    • Allah menilai seseorang dari hati dan perbuatannya.
    • Tingkah laku seseorang berasal dari hatinya.
    • Maka dari itu, akhlak perlu dibina agar membentuk pribadi yang berakhlak mulia.
  5. Mungkinkah Akhlak Diubah?
    • Allah subhanahu wata'ala membagi kadar akhlak kepada manusia berbeda-beda.
    • Akhlak ada yang bisa diubah dan ada yang tidak bisa diubah.
    • Akhlak yang tidak bisa diubah adalah akhlak yang sudah ada sejak lahir.
    • Akhlak yang bisa diubah adalah akhlak yang bisa dilatih dan diupayakan agar menjadi lebih baik.

Referensi Bacaan

  • Mausu'ah Al-Akhlaq Al-Islamiyyah oleh beberapa ulama di bawah bimbingan Syaikh 'Alwi bin Abdul Qadir As-Saqqaf.

Related Posts :