Arti Dua Kalimat Syahadat, Makna, Syarat Serta Konsekuensinya

Dua Kalimat Syahadat
Dua kalimat syahadat adalah kalimat yang sangat agung. Dua kalimat syahadat merupakan rukun yang pertama dari kelima rukun Islam. Dua kalimat syahadat juga merupakan syarat apabila seseorang hendak memeluk agama Islam.

Bagi kita seorang muslim, mengucapkan kedua kalimat syahadat adalah hal yang sering dan biasa. Mulai dari melaksanakan shalat, mengumandangkan azan, selepas wudhu, kita selalu mengucapkan dua kalimat tersebut.

Namun, apakah kita sudah tahu makna dan arti dari dua kaliamt syahadat yang biasa kita ucapkan?

Nah, pada artikel ini akan kita ketahui bersma makna dua kalimat syahadat serta konsekuensi bagi orang yang mengucapkan dua kalimat tersebut. Dengan mengetahui arti dua kalimat syahadat inilah kita semakin menghayati kedua kalimat tersebut ketika mengucapkannya.

Sebelum kita melangkah pada pembahasan arti dari kedua syahadat tersebut ada baiknya kita mengetahui apa arti dari “Syahadat” itu sendiri.

A. Makna Syahadat

Syahadat secara bahasa berarti persaksian. Syahadat adalah pernyataan atau ikrar lisan terhadap apa yang diyakini di dalam hati. Orang yang mengucapkan syahadat hanya dengan lisannya tidak bisa dikatakan orang yang bersyahadat. Karena orang munafikpun juga bersyahadat dengan lisannya, namun tidak dengan hatinya. Syahadat mengandung empat hal, yaitu :

1. Ikrar

Ikrar adalah pernyataan tentang apa yang diyakini dalam hati. Ketika seseorang bersyahadat berarti ia telah menyatakan apa yang ia yakini dalam hatinya.

2. Sumpah

Seorang yang bersyahadat berarti ia telah bersumpah bahwa ia bersedia menerima konsekuensi dari apa yang ia ikrarkan. Maka tidaklah sempurna dikatakan orang yang bersyahadat namun tidak menjalankan kosekuensi dari apa yang ia syahadatkan.

3. Janji

Syahadat adalah janji. Seorang yang bersyahadat berarti dia telah berjanji setia terhadap apa yang ia syahadatkan. Orang yang bersyahadat namun ia menarik janji apa yang disyahadatkannya maka ia telah berkhianat terhadap syahadatnya sendiri.

4. Persaksian

Orang yang bersyahadat berarti menjadi saksi atas apa yang ia syahadatkan. Artinya ia menjadi saksi atas pernyataan ikrar, sumpah, dan janji yang ia ucapkan.

B. Makna Kalimat Syahadat yang Pertama

1. Lafal Kalimat Syahadat Pertama dan Maknanya

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّٰهُ

Terjemahan : ”Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah”

Makna : “Aku meyakini dan mengakui bahwa tidak ada Ilah (sesembahan) yang berhak disembah kecuali Allah. Aku bersedia menerima segala konsekuensi dan akibat dari apa yang akui dan aku yakini ini. Serta aku bersumpah dan berjanji untuk setia dalam melaksanakan konsekuensi dari pengakuan dan keyakinanku itu, yaitu hanya beribadah kepada Allah semata, dan mengingkari peribadatan yang ditujukan pada selain-Nya.”

2. Rukun لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّٰهُ

Allah subhanahu wata’ala berfirman :

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاءٌ مِّمَّا تَعْبُدُونَ ﴿٢٦﴾

إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ ﴿٢٧﴾

Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: "Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah,

tetapi (aku menyembah) Tuhan Yang menjadikanku; karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku".

[QS. Az-Zukhruf : 26 - 27]

Dalam ayat tersebut kita dapat meneladani bagaimana Nabi Ibrahim mengingkari apa yang disembah oleh kaumnya dan menetapkan hanya akan menyembah kepada Allah semata yang telah menciptakannya.

Dari ayat tersebut kita mengambil kesimpulan bahwa kalimat لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّٰهُ memiliki dua rukun :

Yang pertama, adalah an-Nafyu, yang artinya peniadaan. Maksudnya mengingkari atau menolak segala sesembahan selain Allah.

Yang kedua, adalah al-Itsbat, yaitu menetapkan. Maksudnya adalah menetapkan bahwa hanya Allahlah satu-satunya yang berhak untuk disembah dan tidak ada sekutu bagi-Nya.

Kedua hal ini (an-Nafyu dan al-Itsbat), tidak boleh dipisahkan. Karena keduanya merupakan rukun yang apabila dipisahkan maka syahadat Laa Ilaaha Illallaah menjadi tidak sah. Kedua rukun ini juga ditunjukkan dalam firman Allah ta’ala :

فَمَن يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انفِصَامَ لَهَا

Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus

[QS. Al-Baqarah : 256]

Dari ayat tersebut kita mengetahui bahwa kalimat لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّٰهُ berarti mengingkari Thaghut (sesembahan selain Allah) dan beriman bahwa hanya Allahlah satu-satunya yang berhak untuk disembah.

3. Syarat dan Konsekuensi لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّٰهُ

Setelah kita ketahui bersama tentang makna dan rukun لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّٰهُ ternyata kalimat tersebut akan sia-sia kita ucapkan apabila kita tidak memenuhi syarat dan koneskuensinya.

Apabila kita menengok kembali ke zaman Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, kita mengetahui betapa enggannya orang-orang kafir mengucapkan dua kalimat syahadat. Mengapa demikian? Karena orang-orang kafir mengetahui betul makna dua kalimat syahadat beserta konsekuensi yang harus mereka jalankan.

Mereka juga mengetahui betul bahwa bersyahadat bukanlah hal begitu seenaknya dipermainkan. Mereka tahu bahwa syahadat ini memiliki koneskuensi yang harus dipenuhi oleh yang mengucapkannya.

Berbeda halnya dengan orang munafik. Mereka tidak memperdulikan konsekuensi dari dua kalimat syahadat yang mereka ucapkan. Mereka berdusta dalam syahadatnya, hanya mengucapkan syahadat dengan lisannya saja, namun tidak dengan hatinya. Allah ta’ala berfirman :

إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ

Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: "Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah". Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.

[QS. Al-Munafiqun : 1]

Nah, tentu disini kita tidak ingin seperti orang-orang munafik yang mempermainkan kalimat لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّٰهُ. Oleh karena itu mari kita pelajari bersama apa saja syarat dan konesekuensi dari kalimat syahadat yang pertama agar kalimat لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّٰهُ itu tidak sia-sia kita ucapkan dan membuahkan keselamatan di dunia maupun di akhirat.

Pertama adalah mengetahui. Orang yang mengucapkan لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّٰهُ harus mengetahui makna dari apa yang ia ucapkan. Allah ta’ala berfirman :

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا

Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah

[QS. Muhammad : 19]

Percuma saja apabila kita mengucapkan لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّٰهُ akan tetapi tidak mengetahui maknanya. Seperti ucapan bayi yang baru bisa berbicara, ia hanya meniru-niru ucapan namun tidak mengetahui maknanya.

Kedua adalah meyakini. Apabila kita mengucapkan kalimat لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّٰهُ maka kita harus yakin terhadap apa yang kita ucapkan. Artinya kita benar-benar meyakini bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah. Allah ta’ala berfirman :

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.

[QS. Al-Hujurat : 15]

Apabila kita mengucapkan kalimat لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّٰهُ akan tetapi ragu maka sama halnya dengan orang munafik. Hanya berucap tetapi tidak meyakininya di dalam hati. Hal ini dikarenakan ada penyakit keraguan di dalam hati orang-orang munafik. Allah ta’ala berfirman :

فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا

Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya

[QS. Al-Baqarah : 10]

Ketiga adalah ikhlash. Ikhals secara bahasa artinya memurnikan. Orang yang mengucapkan لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّٰهُ berarti memurnikan ibadahnya hanya kepada Allah semata dan tidak berpaling pada selain Allah. Allah ta’ala berfirman :

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus

[QS. Al-Bayyinah : 5]

Dari ayat tersebut kita mempelajari bahwasanya kita harus ikhlas dalam beribadah kepada Allah. Janganlah kita beribadah namun disitu diiringi riya’ atau agar dilihat orang lain. Namun, hendaknya kita benar-benar memurnikan ibadah kita untuk Allah ta’ala.

Keempat adalah jujur. Jujur adalah kesesuaian antara keyakinan, ucapan, dan juga perbuatan. Seorang yang bersyahadat harus jujur atas syahadat yang ia ucapkan. Allah ta’ala berfirman :

الم ﴿١﴾

أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ ﴿٢﴾

وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ ﴿٣﴾

Alif laam miim

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?

Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.

[QS. Al-Ankabut : 1-3]

Janganlah kita seperti orang munafik yang berdusta dalam syahadatnya. Mereka bersyahadat hanya bertujuan untuk menipu Allah dan orang-orang beriman. Padahal sejatinya merekalah yang tertipu dengan dirinya sendiri. Allah ta’ala berfirman :

يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.

[QS. Al-Baqarah : 9]

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka.

[QS. An-Nisa’ : ]

Kelima adalah cinta. Orang iman yang sejati adalah orang yang lebih mencintai Allah dibandingkan yang lain-Nya. Rasa cintanya kepada Allah mengalahkan rasa cinta pada selain-Nya. Allah ta’ala berfirman :

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللَّهِ أَندَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّهِ

Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.

[QS. Al-Baqarah : 165]

قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ ﴿٢٤﴾

Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.

[QS. At-Taubah : 24]

Konsekuensi dari cinta kepada Allah adalah juga mecintai apa saja yang Allah perintahkan untuk dicintai, seperti mencintai Rasul-Nya, mencintai agama Islam, mencintai orang-orang beriman, dan juga yang lainnya.

Konsekuensi dari cinta kepada Allah juga adalah membenci apa saja yang dibenci oleh Allah, seperti membenci kesyirikan dan kekufuran, membenci musuh-musuh Allah, dan lain sebagainya. Allah ta’ala berfirman :

لَّا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ

Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin.

[QS. Ali Imran : 28]

إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَىٰ إِخْرَاجِكُمْ أَن تَوَلَّوْهُمْ ۚ وَمَن يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

[QS. Al-Mumtahanah : 9]

Keenam adalah tunduk. Apabila kita mengaku sebagai orang yang bersyahadat “bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah” maka wajib bagi kita untuk tunduk dengan kalimat tersebut.

Artinya kita wajib tunduk atas apa yang Allah perintahkan meskipun itu berlawanan dengan keinginan kita. Karena ketundukan merupakan wujud kita benar-benar menyembah hanya kepada Allah.

Orang yang mengakui Allah sebagai satu-satunya yang berhak disembah harus berserah diri kepada-Nya dengan tunduk, menyerah, tidak melawan, dan tidak membangkang terhadap apapun yang Allah perintahkan kepadanya. Allah ta’ala berfirman :

وَأَنِيبُوا إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ

Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya

[QS. Az-Zumar : 54]

Ketujuh adalah menerima. Seorang yang bersyahadat harus menerima dengan lapang dada atas kandungan dan konsekuensi dari kalimat “لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّٰهُ” yang ia ucapkan. Dalam hal ini hendaknya ia menerima apa saja yang datang dari Allah.

Jangan sampai kita sombong seperti orang-orang kafir yang tidak mau menerima kalimat لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّٰهُ. Allah ta’ala berfirman :

إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ ﴿٣٥﴾

وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُو آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَّجْنُونٍ ﴿٣٦﴾

Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: "Laa ilaaha illallah" (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri,

dan mereka berkata: "Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?"

[QS. Ash-Shaffat : 35 -36]

Kedelapan adalah mengingkari sesembahan selain Allah. Jika kita sudah mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya yang berhak disembah maka konsekuensinya adalah mengingkari segala sesembahan selain Allah. Allah ta’ala berfirman :

فَمَن يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انفِصَامَ لَهَا

Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus

[QS. Al-Baqarah : 256]

C. Makna Kalimat Syahadat yang Kedua

1. Lafal Kalimat Syahadat Kedua dan Maknanya

وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ ٱللَّٰهِ

Terjemahan : ”Dan aku bersaksi bahwa bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”

Makna : “Aku meyakini dan mengakui secara lahir dan batin bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah yang diutus kepada jin dan manusia secara keseluruhan. Aku siap menerima dan melaksanakan konsekuensi dari keyakinanku ini, yaitu mentaati beliau, membenarkan ucapan beliau, menjauhi larangan beliau, beribadah kepada Allah dengan yang beliau ajarkan, serta memposisikan beliau sebagai hamba bukan sesembahan.”

2. Rukun مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ

Allah ta’ala berfirman :

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ

Muhammad itu adalah utusan Allah

[QS. Al-Fath : 29]

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنزَلَ عَلَىٰ عَبْدِهِ الْكِتَابَ

Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al-Quran)

[QS. Al-Kahfi : 1]

Dari kedua ayat tersebut kita mengambil pelajaran bahwa ada dua rukun dalam kalimat syahadat tersebut.

Yang pertama, adalah mengakui kerasulan beliau, yakni meyakini bahwa Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam adalah utusan Allah. Maka kita juga harus meyakini bahwa risalah yang beliau bawa adalah risalah yang sempurna. Demikian pula ibadah beliau kepada Allah juga yang paling sempurna.

Yang kedua, adalah meyakini bahwa beliau adalah hamba Allah. Kita harus meyakini bahwa beliau adalah hamba dan makhluk yang paling sempurna akhlaknya. Namun, tidak boleh kita memposisikan beliau sebagai Tuhan yang disembah. Karena beliau adalah manusia, hanya saja beliau diberikan kemuliaan oleh Allah dengan diturunkannya wahyu kepada beliau.

3. Syarat dan Konsekuensi مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ

Sama seperti kalimat syahadat yang pertama, bahwa kalimat syahadat yang kedua juga memiliki syarat dan konsekuensi yang harus dijalankan. Apabila kita tidak menjalankan syarat dan konsekuensi syahadat yang kedua ini maka sia-sialah syahadat kita. Bahkan akan berujung celaka kelak di akhirat.

Berikut ini syarat dan konsekuensi dari kalimat syahadat kedua yang harus kita kerjakan :

Yang pertama, adalah membenarkan apa yang beliau kabarkan. Apabila kita mengakui bahwa Muhammad adalah utusan Allah maka kita harus percaya apa yang dikabarkan oleh beliau meskipun bertentangan dengan akal kita. Karena apa yang beliau sabdakan bukan berasal dari hawa nafsunya, melainkan merupakan wahyu dari Allah. Allah ta’ala berfirman :

وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ ﴿٣﴾ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ ﴿٤﴾

dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.

Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).

[QS. An-Najm : 3-4]

Yang kedua, adalah taat pada apa yang beliau perintahkan. Mentaati perintah yang datang dari Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam merupakan perintah dari Allah. Allah ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.

[QS. An-Nisa : 59]

Dalam ayat tersebut, selain taat kepada Allah, Allah juga memerintahkan orang-orang yang beriman untuk taat kepada Rasul-Nya. Hal ini menunjukkan bahwa taat kepada Rasul-Nya juga merupakan konsekuensi dari syahadat yang pertama.

Yang ketiga, adalah menjauhi apa yang beliau larang. Allah subhanahu wata’ala berfirman :

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا

Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.

[QS. Al-Hasyr : 7]

Yang keempat, tidak boleh menyembah Allah kecuali dengan cara yang beliau syariatkan. Syariat Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam adalah syariat yang sempurna. Allah ta’ala berfirman :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.

[QS. Al-Maidah : 3]

Ayat ini menunjukkan bahwa agama yang Allah turunkan kepada beliau sudah beliau sampaikan secara sempurna kepada manusia. Tidak ada satupun agama Allah yang beliau sembunyikan dari kita.

Oleh karena itu, kita tidak boleh membuat syariat baru atau cara ibadah baru dalam Islam. Karena perkara baru dalam syariat Islam meskipun terlihat baik, tidak akan diterima oleh Allah.

Selain itu, mengikuti apa yang beliau bawa tanpa mengurangi dan menambahnya adalah bukti cinta kepada Allah. Apabila kita cinta pada Allah, seharusnya kita mengikuti cara beliau dalam beribadah. Karena ibadah beliau adalah ibadah yang paling sempurna yang harus kita ikuti. Allah ta’ala berfirman :

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي

Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku,

[QS. Ali Imran : 31]

Demikianlah makna dan arti dua kalimat syahadat serta syarat dan konsekuensi yang harus dijalankan. Apabila ada kekurangan mohon kami memohon maaf dan kritik serta sarannya. Semoga Allah menjadikan artikel ini bermanfaat kepada diri kami dan juga umat Islam pada umumnya.

Oleh : Adam Rizkala

Berlangganan untuk menerima pembaruan email gratis:

0 Response to "Arti Dua Kalimat Syahadat, Makna, Syarat Serta Konsekuensinya"

Posting Komentar