Tafsir Ringkas Surat Al-Fatihah ayat 1-7

Tafsir Surat Al-Fatihah

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memberikan hidayah Islam kepada kita semua. Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam, keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya.

Al-Quran merupakan kalam Allah azza wa jalla yang wajib kita pelajari dan kita amalkan. Untuk bisa mengamalkannya maka kita harus mengetahui isinya. Oleh karena itu jalan agar kita mengetahui isinya adalah dengan mempelajari tafsirnya.

Saat ini banyak sekali beredar kitab-kitab tafsir yang ditulis oleh para ulama. Namun, kitab tafsir yang banyak beredar rupanya agak sulit dipelajari oleh orang awam. Selain itu membutuhkan waktu yang lama pula untuk mempelajarinya.

Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini akan kami terjemahkan kitab At-Tafsir Al-Muyassar, yang mana ia merupakan salah satu kitab tafsir yang mudah untuk dipelajari.

Tafsir ini disusun oleh tim ahli tafsir yang telah diseleksi oleh para ulama yang berwenang di Mujamma’ Raja Fahd untuk penerbitan Al-Quran, dan juga di bawah pengawasan dan arahan seorang ulama yang mumpuni, Syaikh Dr. Shalih Alu Asy-Syaikh yang menjadi pembimbing utama di lembaga tersebut.

Selain itu, penyusunan tafsir ini telah melalui berbagai proses dan langkah yang sangat hati-hati serta pengkajian yang mendalam.

Screen Shoot kitab At-Tafsir Al-Muyassar Surat Al-Fatihah


Sebelum kita melangkah pada tafsir surat Al-Fatihah, ada baiknya kita dengarkan dahulu bacaan atau murottal surat Al-Fatihah agar kita bisa mengetahui cara membacanya sesuai dengan tajwid yang baik.

Berikut video contoh bacaan QS. Al-Fatihah beserta artinya :

Murottal atau Bacaan QS. Al-Fatihah Beserta Artinya

Setelah kita ketahui bersama bacaan atau murottal QS. Al-Fatihah mari kita tadabburi bersama tafsir ringkas surat Al-Fatihah yang kami terjemahkan dari kitab tafsir muyassar.
 
Berikut terjemahannya dalam bahasa Indonesia :

Isti’adzah

(Memohon Perlindungan)

(أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ)

Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk

Allah ta’ala mensyariatkan bagi yang hendak membaca Al-Quran agar ia meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. Allah ta’ala berfirman :

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.
(QS. An-Nahl : 97)

Hal itu dikarenakan Al-Quran adalah petunjuk bagi manusia dan obat untuk hati. Sedangkan setan adalah penyebab keburukan dan kesesatan. Oleh karena itulah Allah subahanhu wata’ala memerintahkan setiap pembaca Al-Quran untuk meminta perlindungan kepada-Nya dari setan yang terkutuk, was-wasnya dan juga golongannya.

Para ulama sepakat bahwa lafal isti’adzah bukan bagian dari Al-Quran. Oleh karena itulah lafal ini tidak termaktub di dalam mushaf.

Makna (أَعُوْذُ بِاللهِ) “Aku berlindung” adalah : Aku memohon perlindungan kepada Allah semata

Makna (مِنَ الشَّيْطَانِ) “dari setan” adalah : (Aku berlindung) dari setiap pembantah dan pendurhaka dari kalangan jin dan manusia yang dapat memalingkanku dari ketaatanku terhadap tuhanku dan memalingkanku dari membaca kitab-Nya.

Makna (الرَّجِيْمِ) “yang terkutuk” adalah : terusir/jauh dari rahmatnya Allah.

Tentang Surat Al-Fatihah

Surat ini dinamai “Al-Fatihah” (Pembukaan) karena dengan surat inilah Al-Quran yang agung dibuka. Ia juga dinamai dengan “Al-Matsaaniy” (yang diulang-ulang) karena ia dibaca disetiap rakaat. Ia juga memiliki beberapa nama yang lainnya.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ ﴿١﴾

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang[1]

Aku memulai bacaan Al-Quran dengan nama Allah sembari memohon pertolongan kepada-Nya.

Allah (اللَّهِ) adalah sebuah nama Tuhan – yang Maha Berkah lagi Maha Tinggi – yang berhak disembah, bukan selain-Nya. Nama tersebut merupakan nama-nama yang paling khusus diantara nama-nama Allah ta’ala. Selain Allah subhanahu tidaklah dinamai dengan nama tersebut.

Makna (الرَّحْمَٰنِ) “Yang Maha Pemurah” adalah : Yang Memiliki Rahmat secara menyeluruh yang luas rahmatnya untuk seluruh makhluk.

Makna (الرَّحِيمِ) “Maha Penyayang” adalah : (yakni penyayang) terhadap orang-orang yang beriman (secara khusus). 

Keduanya (الرَّحْمَٰنِ dan الرَّحِيمِ) merupakan dua nama dari nama-nama Allah ta’ala. Keduanya mengandung penetapan sifat rahmat (penyayang) bagi Allah ta’ala sesuai dengan kemuliaan-Nya.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿٢﴾

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam[2]

Seluruh pujian bagi Allah dengan sifat-Nya yang semuanya sempurna, dan dengan nikmat-Nya yang lahir maupun yang batin, baik nikmat agama maupun dunia.

Di dalam ayat ini terdapat perintah bagi hamba-hamba-Nya untuk memujinya. Dan hanya Dialah yang berhak dengan pujian itu.

Dialah yang menciptakan makhluk, yang berdiri dengan urusan mereka. Dialah yang memelihara makhluk-Nya dengan nikmat-Nya, dan memelihara para kekasihnya dengan iman, dan amal shalih.

الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ ﴿٣﴾

Maha Pemurah lagi Maha Penyayang[3]

Makna (الرَّحْمَٰنِ) “Yang Maha Pemurah” adalah : Yang Memiliki Rahmat secara menyeluruh yang luas rahmatnya untuk seluruh makhluk.

Makna (الرَّحِيمِ) “Maha Penyayang” : (yakni penyayang) terhadap orang-orang yang beriman (secara khusus). Keduanya (الرَّحْمَٰنِ dan الرَّحِيمِ) merupakan dua nama dari nama-nama Allah ta’ala.

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ ﴿٤﴾

Yang menguasai di Hari Pembalasan[4]

Dan hanya Dia subhanahu wata’alayang menguasai hari kiamat, yaitu hari pembalasan amal.

Seorang muslim yang membaca ayat ini di setiap rakaat dalam salat, mengingatkannya akan hari akhir, dan memotivasinya untuk mempersiapkan amal shalih dan menahan diri dari kemaksiatan serta kejelekan.

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ﴿٥﴾

Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan[5]

Sesungguhnya kami mengkhususkan-Mu semata dalam beribadah dan memohon pertolongan kepada-Mu semata dalam seluruh urusan kami, karena seluruh perkara berada di tangan-Mu, yang tidak dimiliki oleh seorangpun meskipun sebesar zarah[6].

Ayat ini merupakan dalil bahwasanya ibadah; seperti berdoa, memohon pertolongan, menyembelih, tawaf, itu tidak boleh diperuntukkan pada suatu apapun kecuali untuk Allah semata.

Ayat ini juga mengandung obat hati dari penyakit ketergantungan kepada selain Allah, penyakit riya, ujub dan sombong.

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ ﴿٦﴾

Tunjukilah kami jalan yang lurus,[7]

Tunjukilah, bimbinglah, dan berikanlah taufik kepada kami agar meniti jalan yang lurus. Dan teguhkanlah kami di atas jalan itu hingga kami bertemu dengan-Mu, yaitu Islam.

Yang mana ia merupakan jalan yang jelas yang dapat mencapai ridha Allah menuju surga-Nya. Yang menunjukkan pada jalannya sang penutup para Nabi dan Rasul Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam.

Tidaklah ada jalan menuju keberuntugan bagi seorang hamba kecuali dengan istikamah berada di atas jalan itu.

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ ﴿٧﴾

(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat[8]

(yaitu) jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka dari kalangan para Nabi, para shiddiq, para syuhada, dan orang-orang salih. Mereka itulah orang yang berada di atas petunjuk dan istikamah.

Dan janganlah Engkau jadikan kami golongan yang meniti jalan mereka yang dimurkai, yakni mereka yang mengetahui kebenaran namun tidak mengamalkannya, mereka itu adalah Yahudi dan orang-orang yang meniti jalan mereka.

Dan orang-orang yang tersesat, mereka itu adalah orang yang tidak mendapat petunjuk karena kebodohan mereka, sehingga mereka tersesat dari jalan (yang benar), mereka itu adalah Nasrani dan orang-orang yang mengikuti perbuatan mereka.

Di dalam doa ini terkandung obat bagi seorang muslim dari penyakit kekufuran, kebodohan, dan kesesatan. Menunjukkan agungnya nikmat pada umumnya yaitu nikmat Islam.

Maka barang siapa yang mengetahui kebenaran dan mengikutinya maka ia pantas di jalan yang lurus. Tidak diragukan lagi bahwa para sahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, merekalah yang paling pantas dengan hal itu setelah para Nabi alahimussalam.

Ayat ini menunjukkan keutamaan mereka (para sahabat) dan keagungan kedudukan mereka radhiyallahu ‘anhum.

Bagi pembaca Al-Quran disunnahkan membaca (آمين) “Amin” di dalam shalat setelah membaca surat Al-Fatihah. Makna “Amin” adalah : "Ya Allah kabulkanlah." Ia bukan bagian dari surat Al-Fatihah menurut kesepakatan para ulama. Oleh karena itulah mereka sepakat tidak menuliskan “Amin” di dalam mushaf.

Penerjemah : Adam Rizkala


[1] Al-Quran dan Terjemahannya, (Mujamma’ Al-Malik Fahd li Thaba’ah Al-Mushaf Asy-Syarif), hal. 5
[2] Al-Quran dan Terjemahannya, (Mujamma’ Al-Malik Fahd li Thaba’ah Al-Mushaf Asy-Syarif), hal. 5
[3] Al-Quran dan Terjemahannya, (Mujamma’ Al-Malik Fahd li Thaba’ah Al-Mushaf Asy-Syarif), hal. 5
[4] Al-Quran dan Terjemahannya, (Mujamma’ Al-Malik Fahd li Thaba’ah Al-Mushaf Asy-Syarif), hal. 5
[5] Al-Quran dan Terjemahannya, (Mujamma’ Al-Malik Fahd li Thaba’ah Al-Mushaf Asy-Syarif), hal. 5
[6] KBBI : butir (materi) yang halus sekali; partikel
[7] Al-Quran dan Terjemahannya, (Mujamma’ Al-Malik Fahd li Thaba’ah Al-Mushaf Asy-Syarif), hal. 6
[8] Al-Quran dan Terjemahannya, (Mujamma’ Al-Malik Fahd li Thaba’ah Al-Mushaf Asy-Syarif), hal. 6

Berlangganan untuk menerima pembaruan email gratis:

2 Responses to "Tafsir Ringkas Surat Al-Fatihah ayat 1-7"

  1. bisakah saya pesan tafsir al muyassarnya lengkap. harganya berapa

    BalasHapus
  2. https://kata-h.blogspot.com/2020/09/dan-istighotsah-tawasul-adalah-salah.html

    BalasHapus