Penjelasan Hadits Tentang Niat - Hadits Arbain ke 1

Penjelasan Hadits Tentang Niat

Hadits tentang niat adalah salah satu hadits yang sangat populer. Hadits ini merupakan salah satu hadits yang menjadi inti dalam ajaran Islam. Meskipun hadits ini tergolong hadits yang cukup singkat, namun ia memiliki kandungan yang sangat luas dan berbobot. Tak heran jika para ulama mengatakan bahwa hadits ini mencakup sepertiga ilmu di dalam Islam.

Nah, pada artikel kali ini kita akan mempelajari penjelasan hadits tentang niat beserta faedah atau pelajaran yang dapat kita ambil dari hadits tersebut. Berikut penjelasan hadits tentang niat beserta faedahnya :

DAFTAR ISI

A. Hadits Tentang Niat dan Terjemahannya

عَنْ أَمِيرِ المُؤمِنينَ أَبي حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رَضيَ اللهُ تعالى عنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله تعالى عليه وعلى آله وسلم يَقُولُ: إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلى اللهِ وَرَسُوله فَهِجْرَتُهُ إلى اللهِ وَرَسُوله، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا، أَو امْرأَة يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلى مَا هَاجَرَ إِلَيْه

Dari Amirul Mukminin, Abu Hafs Umar bin Al Khattab , ia berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya setiap perbuatan itu tergantung dengan niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang itu mendapat apa yang ia niatkan. Barang siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin ia dapatkan atau wanita yang ingin ia nikahi maka hijrahnya pada apa yang ia niatkan.”

B. Penjelasan Hadits Tentang Niat

Berikut penjelasan hadits tentang niat secara rinci :

1. Hadits Tentang Niat Inti Ajaran Islam

Tahukah Anda? Hadits ini merupakan salah satu inti dari ajaran Islam. Selain itu, hadits ini memiliki cakupan yang luas dan mendalam dalam agama. Tak heran jika Imam An-Nawawi meletakkan hadits ini di awal kitab Arbai’n. Imam Syafi’i juga pernah mengatakan : “Hadits ini merupakan sepertiganya ilmu dan hadits ini mencakup tujuh puluh bab fiqih.”

Para ulama terdahulu merekomendasikan untuk meletakkan hadits ini di bagian awal kitab-kitab ilmu. Oleh karena itu, imam Al-Bukhari juga menempatkan hadits ini pada bagian awal dalam kitabnya “Shahih Al-Bukhari”. Tujuannya adalah untuk mengingatkan pembaca kitab tersebut agar senantiasa menjaga niatnya ikhlas karena Allah subhanahu wata'ala ketika mempelajari suatu ilmu.

2. Amalan Tergantung Niatnya

Sesungguhnya setiap amal perbuatan itu tergantung dengan niatnya. Amal perbuatan memiliki hubungan yang erat terhadap niat yang ada di dalam hati. Diterima atau ditolaknya suatu amal ibadah sangatlah bergantung dengan niat. Jika seseorang beramal dengan niat ikhlas karena Allah subhanahu wata'ala maka Allah subhanahu wata'ala akan menerima amalannya. Sebaliknya, jika seseorang beramal dengan niat tidak ikhlas karena Allah maka Allah subhanahu wata'ala akan menolak amalannya.

Apa itu niat?

Niat secara bahasa artinya adalah Al-Qoshdu (arab : القَصْدُ) yang berarti maksud atau tujuan. Sedangkan pengertian niat secara istilah adalah keinginan di dalam hati untuk melakukan suatu tindakan yang diwajibkan dan sejenisnya yang diiringi dengan tindakan.

Niat itu letaknya di dalam hati. Niat tidak dapat diukur dari apa yang diucapkan oleh lisan dan dilakukan oleh anggota badan. Hanya Allah subhanahu wata'ala dan pelakunya yang mengetahui niat seseorang. Oleh karena itu, tidak ada gunanya seseorang berniat dengan ucapan jika hatinya tidak sesuai dengan apa yang diucapkan. Selain itu, seseorang juga tidak bisa menilai niat orang lain dari ucapan dan perbuatannya.

3. Seseorang Mendapatkan Sesuai Niat

Setiap orang akan mendapatkan sesuatu sesuai dengan apa yang ia niatkan. Apa maksudnya? Maksudnya adalah bahwa balasan atas suatu amal perbuatan itu tergantung dengan niatnya. Berdasarkan hal ini, niat bisa berfungsi sebagai pembeda yaitu :

  1. Pembeda antara ibadah dengan rutinitas
  2. Pembeda antara ibadah satu dengan ibadah lain.
Pembeda Ibadah dengan Rutinitas

Apabila seseorang mengerjakan suatu amal ibadah namun tidak ada niatan sama sekali di dalam hatinya maka ibadah yang ia kerjakan hanya dinilai sebagai rutinitas oleh Allah subhanahu wata'ala. Dalam arti lain, ia tidak mendapatkan pahala atas ibadah yang ia kerjakan.

Sebaliknya, apabila seseorang mengerjakan rutinitas dengan niat mendapatkan pahala dari Allah maka rutinitas yang ia kerjakan akan dibalas pahala oleh Allah subhanahu wata'ala. Contohnya rutinitas makan dan minum. Apabila seseorang meniatkan makan dan minum karena mengharapkan pahala dari Allah dan agar menguatkan tubuh untuk beribadah maka Allah akan memberikan pahala.

Oleh karena itu, apabila kita menginginkan pahala di setiap apa yang kita kerjakan maka kita harus meniatkannya dengan niat ikhlas karena Allah.

Pembeda Ibadah dengan Ibadah Lain

Niat dapat menjadi penentu dan pembeda terhadap jenis ibadah yang kita kerjakan. Contoh : mengerjakan shalat dua rakaat di waktu subuh.

Jika kita mengerjakan shalat dua rakaat di waktu subuh dengan niat shalat sunnah maka kita hanya akan mendapatkan pahala shalat sunnah.

Namun, jika kita mengerjakan shalat dua rakaat di waktu subuh dengan niat shalat wajib maka kita mendapatkan pahala shalat wajib sehingga kewajiban melaksanakan shalat wajib telah gugur.

4. Contoh Penerapan Niat

Setelah Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam menjelaskan konsep niat dalam amal perbuatan, beliau memberikan sebuah contoh penerapan niat dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini, beliau memberi contoh tentang niat dalam berhijrah. Ada dua kasus hijrah yang beliau jadikan sebagai contoh yaitu :

  1. Hijrah karena Allah dan Rasul-Nya
  2. Hijrah karena dunia dan wanita

Berikut penjelasan rincinya :

Hijrah Karena Allah dan Rasul-Nya

Contoh pertama yang disebutkan oleh Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam adalah contoh penerapan niat hijrah yang benar yaitu niat hijrah karena Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda bahwa “barang siapa yang hijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Maksudnya adalah apabila seseorang berhijrah dengan niat mencari ridho dan pahala dari Allah dan dengan niat melaksanakan sunnah Nabi-Nya maka hijrahnya adalah hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya. Hijrah dengan niat seperti inilah yang diterima oleh Allah dan diberikan pahala oleh Allah karena niatnya berhijrah yang ikhlas karena Allah.

Hijrah Karena Dunia dan Wanita

Contoh kedua yang disebutkan oleh Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam adalah contoh penerapan niat hijrah karena dunia dan wanita. Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda bahwa : “barang siapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin ia dapatkan atau wanita yang ingin ia nikahi maka hijrahnya pada apa yang ia niatkan”.

Maksudnya adalah apabila seseorang berhijrah dengan niatan mendapatkan dunia atau wanita yang ingin dinikahi maka ia akan mendapatkan sesuai apa yang ia niatkan. Jika niatnya untuk dunia maka hanya dunia yang ia dapatkan. Jika niatnya untuk wanita maka hanya wanita yang ia dapatkan.

Artinya, jika niat hijrah adalah bukan mengharapkan ridho Allah subhanahu wata'ala dan bukan melaksanakan sunnah Rasul-Nya maka tidak akan diterima oleh Allah shallallaahu 'alaihi wasallam. Meskipun tampaknya melaksanakan amal shalih, tetap saja tidak ada nilainya di sisi Allah apabila niatnya keliru.

C. Faedah-faedah Hadits Tentang Niat

Ada banyak pelajaran dan faedah yang dapat kita ambil dari hadits di atas. Berikut beberapa faedah yang dapat kita ambil :

  • Niat adalah salah satu syarat diterimanya suatu amal ibadah. Ibadah yang dilakukan tanpa niat karena Allah maka akan menjadi tidak sah dan sia-sia.
  • Ketika hendak melaksanakan amal ibadah maka kita wajib menata niat karena Allah subhanahu wata'ala terlebih dahulu. Tujuannya agar ibadah yang kita laksanakan diterima dan diberi pahala oleh Allah subhanahu wata'ala.
  • Ketika hendak melakukan hal-hal yang mubah kita dianjurkan untuk menata niat karena Allah subhanahu wata'ala. Hal ini bertujuan agar segala rutinitas yang kita kerjakan membuahkan pahala dan rutinitas kita tidak berlalu sia-sia.
  • Jika kita berada di negeri kafir yang membuat kita kesulitan di dalam menjalankan agama Islam maka kita wajib berhijrah ke negeri muslim agar bisa menjalankan agama Islam dengan baik. Namun jika di negeri kafir tersebut kita masih bisa menjalankan agama Islam dengan baik maka hukum hijrah ke negeri muslim adalah sunnah.
  • Seorang muslim tidak diperbolehkan berhijrah atau beribadah dengan tujuan dunia ataupun wanita. Karena ibadah yang ditujukan kepada selain Allah subhanahu wata'ala akan sia-sia bahkan berdosa.
  • Seorang guru dianjurkan untuk memberikan contoh penerapan yang kongkret dalam kehidupan sehari-hari terhadap materi yang diajarkan kepada murid-muridnya.

Referensi

  • Al-Arba'un An-Nawawi oleh Imam An-Nawawi
  • Fathul Qawiyy Al-Matin fi Syarh Al-Arba'in oleh Abdul Muhsin Al-Badr
  • Syarah Al-Arba'in An-Nawawiyyah oleh Al-Utsaimin

Related Posts :