Pengertian Sabar dalam Islam dan Contohnya

Pengertian Sabar dalam Islam

Pernahkah Anda bertanya tentang apa pengertian sabar dalam Islam? Sebagian orang beranggapan bahwa sabar berarti berdiam diri dan pasrah terhadap keadaan yang menimpanya. Ini menunjukkan bahwa sebagian orang salah dalam memahami pengertian sabar dalam Islam.

Sebelum kita membahas lebih dalam tentang pengertian sabar dalam Islam, kita perlu mengetahui bahwa sabar adalah salah satu amalan yang sangat mulia di sisi Allah . Tidak hanya itu, seorang yang bersabar dianggap sebagai orang yang hebat karena sangat sedikit yang mampu melakukannya.

Nah, pada artikel kali ini, kita akan membahas sabar secara mendalam mulai dari pengertian sabar dalam Islam, tingkatan-tingkatan sabar dalam Islam, hukum sabar dalam Islam, hakikat sabar dalam Islam, dan pahala sabar paling sempurna.

DAFTAR ISI

A. Pengertian Sabar dalam Islam

Apa pengertian sabar dalam Islam? Berikut pengertian sabar dalam Islam secara bahasa dan istilah :

Adapun pengertian sabar (arab : الصَّبْرُ) secara bahasa ialah al-habsu (arab : الحَبْسُ) yang artinya menahan, mencegah, atau menghalangi. Sabar adalah kebalikan dari al-jaza’ (arab : الْجَزَعُ) atau al-jazuu’ (arab : الْجَزُوْعُ) yang artinya berkeluh kesah, gelisah, cemas, risau, putus harapan, atau tidak sabaran.

Sedangkan pengertian sabar dalam Islam secara istilah adalah menahan diri dari berbuat dosa dan hawa nafsu. Sabar bisa juga diartikan bertahan untuk tetap melakukan sesuatu yang diinginkan oleh Allah dan bertahan untuk tidak melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah.

B. Tingkatan-tingkatan Sabar dalam Islam

Sabar memiliki tingkatan-tingkatan tersendiri tergantung dari kadar kemuliaan dan kesulitan dalam melaksanakannya. Berikut ini tingkatan-tingkatan sabar mulai dari yang tertinggi hingga yang terendah :

1. Sabar dalam Ketaatan

Sabar dalam ketaatan kepada Allah adalah sabar dengan tingkatan yang tertinggi karena mengerjakan kewajiban memiliki kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah . Selain itu, sabar dalam ketaatan cenderung lebih berat bagi untuk dilakukan seorang hamba.

2. Sabar dalam Menjauhi Kemaksiatan

Tingkatan sabar yang dibawahnya adalah sabar dalam menjauhi kemaksiatan. Kesabaran jenis ini lebih rendah dibandingkan kesabaran dalam ketaatan. Secara fitrah, manusia sudah dibekali sifat-sifat yang dapat membentengi dirinya dari kemaksiatan; seperti rasa malu, takut, gelisah, benci dan lain sebagainya. Dengan sifat-sifat inilah manusia memiliki kecenderungan tidak suka melakukan perbuatan-perbuatan yang buruk.

3. Sabar dalam Menghadapi Musibah

Tingkatan sabar berikutnya adalah sabar dalam menghadapi musibah. Tingkatan sabar ini adalah tingkatan sabar yang terendah. Kesabaran dalam menjalankan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan adalah kesabaran yang bersifat pilihan. Kita bisa memilih dan memutuskan apakah mau berbuat ketaatan dan menjauhi maksiat atau sebaliknya. Sedangkan sabar dalam menghadapi musibah kita tidak bisa memilihnya karena musibah adalah perkara yang sudah ditentukan oleh Allah. Oleh karena itu, mau tidak mau kita dituntut untuk menghadapinya.

C. Hukum Sabar dalam Islam

Allah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk bersabar dalam menghadapi segala sesuat. Allah berfirman :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱصۡبِرُواْ وَصَابِرُواْ وَرَابِطُواْ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ٢٠٠

Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu, kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiap siaga di perbatasan (negerimu), dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.


[QS. Ali Imran ayat 200]

وَٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ

Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat.


[QS. Al-Baqarah ayat 45]

Allah juga melarang kita untuk terburu-buru dan tidak sabaran. Allah berfirman :

فَٱصۡبِرۡ كَمَا صَبَرَ أُوْلُواْ ٱلۡعَزۡمِ مِنَ ٱلرُّسُلِ وَلَا تَسۡتَعۡجِل لَّهُمۡۚ

Maka, bersabarlah engkau (Nabi Muhammad) sebagaimana ululazmi (orang-orang yang memiliki keteguhan hati) dari kalangan para rasul telah bersabar dan janganlah meminta agar azab disegerakan untuk mereka.


[QS. Al-Ahqaf ayat 35]

Namun, hukum sabar tidaklah wajib secara mutlak tanpa ada batasan. Akan tetapi, adakalanya wajib, adakalanya dianjurkan, adakalanya diperbolehkan, adakalanya dimakruhkan, bahkan diharamkan. Hukum sabar adalah menyesuaikan kondisi yang sedang dihadapi. Perhatikan firman Allah berikut ini :

وَإِنۡ عَاقَبۡتُمۡ فَعَاقِبُواْ بِمِثۡلِ مَا عُوقِبۡتُم بِهِۦۖ وَلَئِن صَبَرۡتُمۡ لَهُوَ خَيۡرٞ لِّلصَّٰبِرِينَ ١٢٦

Jika kamu membalas, balaslah dengan (balasan) yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Sungguh, jika kamu bersabar, hal itu benar-benar lebih baik bagi orang-orang yang sabar.


[QS. An-Nahl ayat 126]

Ayat tersebut menunjukkan bolehnya korban kezaliman membalas pelaku kezaliman sesuai kadar kezalimannya. Namun, sabar itu lebih baik baginya dari pada membalasnya. Berdasarkan hal ini, kita dapat memahami bahwa seandainya sabar itu diwajibkan dalam setiap keadaan niscaya Allah akan mewajibkan sabar walaupun keadaan terzalimi.

Berikut ini beberapa contoh praktik sabar dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan klasifikasi kedudukan hukumnya :

  • Sabar yang diwajibkan : sabar menahan kantuk dan beratnya melaksanakan shalat subuh, sabar menahan godaan lawan jenis, sabar dikala anggota keluarganya meninggal dunia, dsb.
  • Sabar yang dianjurkan : sabar menahan beratnya melaksanakan shalat malam.
  • Sabar yang dimakruhkan adalah ketika sabar (menahan diri) dari perbuatan-perbuatan yang dianjurkan, sehingga ia tidak mengerjakannya contoh : sabar minum dengan keadaan berdiri.
  • Sabar yang diharamkan : sabar ketika ada yang bermaksud buruk kepada keluarganya sedangkan ia mampu untuk melindunginya.
  • Sabar yang diperbolehkan yaitu sabar atas perbuatan yang mubah, seperti : makan, minum, dsb.

D. Hakikat Sabar dalam Islam

1. Bersabar dalam Ketaatan Kepada Allah

Sebagaimana yang telah kita pelajari sebelumnya, bahwa tingkatan sabar yang paling tinggi kedudukannya adalah sabar dalam menjalankan ketaatan. Sabar dalam ketaatan kepada Allah adalah sabar yang paling agung dan paling berat. Allah mengisyaratkan kepada kita bahwa sabar dalam ketaatan jauh lebih agung dari pada jenis kesabaran yang lainnya. Allah berfirman :

فَٱعۡبُدۡهُ وَٱصۡطَبِرۡ لِعِبَٰدَتِهِۦۚ

Maka, sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepada-Nya.


[QS. Maryam ayat 65]

وَأۡمُرۡ أَهۡلَكَ بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱصۡطَبِرۡ عَلَيۡهَاۖ

Perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan bersabarlah dengan sungguh-sungguh dalam mengerjakannya.


[QS. Thaha ayat 132]

Pada ayat tersebut, Allah tidak menggunakan kata ishbir (اصْبِرْ) dalam mengungkapkan perintah bersabar. Namun, Allah menggunakan ishthobir (اصْطَبِرْ) yang mana kata tersebut memiliki makna lebih sempurna dan lebih kuat dibandingkan kata ishbir (اصْبِرْ). Berdasarkan hal ini, dapat kita pahami bahwa bersabar dalam ketaatan (yakni ibadah) jauh lebih berat dan ditekankan dibandingkan selainnya.

Seseorang bisa dikatakan sabar dalam ketaatan apabila ia bersabar dalam tiga keadaan sebagai berikut :

  • Pertama, bersabar sebelum menjalankan ketaatan. Bersabar sebelum menjalankan ketaatan ialah meluruskan niat dan membuang sifat riya’.
  • Kedua, bersabar saat menjalankan ketaatan. Bersabar saat menjalaankan ketaatan ialah bersabar untuk tidak lalai dari mengingat Allah , tidak bermalasan dalam melaksanakannya, menjaga kewajiban-kewajibannya, menjaga rukun-rukun yang ada dalam ibadah tersebut, dan lain sebagainya.
  • Ketiga, bersabar setelah selesai mengerjakan ketaatan. Bersabar setelah selesai mengerjakan ketaatan ialah bersabar untuk tidak menyiarkan ibadahnya kepada orang lain, menghilangkan sifat ujub, dan tidak mengungkit-ungkitnya.

2. Bersabar dalam Menjauhi Kemaksiatan

Sama seperti sabar dalam ketaatan, seseorang dapat dikatakan bersabar dalam menjauhi kemaksiatan apabila mampu bersabar dalam tiga keadaan sebagai berikut :

  • Pertama, sabar dalam menjauhi maksiat sebelum meninggalkannya. Sabar sebeli meninggalkan maksiat ialah dengan mendatangkan niat untuk menjauhinya.
  • Kedua, sabar dalam menjauhi maksiat ketika meninggalkannya. Sabar ketika meninggalkan maksiat ialah dengan menjauhinya dan meninggalkannya.
  • Ketiga, sabar dalam menjauhi maksiat ketika berhasil meninggalkan maksiat. Sabar ketika berhasil meninggalkan maksiat ialah dengan membuang sifat ujub karena telah berhasil meninggalkan maksiat tersebut.

3. Bersabar dalam Menghadapi Musibah

Seseorang bisa dikatakan bersabar dalam menghadapi musibah tatkala ia tidak mengeluhkan musibah yang menimpanya. Di antara perbuatan-perbuatan yang menafikan kesabaran adalah meratapi musibah, menampar-nampar pipi, mengoyak-ngoyak baju, memukul kepala, teriak-teriak, menangis yang menjadi-jadi, dan semisalnya.

Adapun menceritakan keluhan penyakit kepada dokter untuk tujuan pengobatan maka ini tidaklah mengapa. Demikian pula rintihan orang yang kesakitan dan semisalnya juga tidak termasuk perbuatan yang menafikan kesabaran.

Yang perlu kita ketahui adalah bahwa hakikat sabar yang sesungguhnya itu terletak di dalam hati. Tidaklah seseorang dikatakan bersabar walaupun ia mengaku bersabar dan terlihat bersabar namun hatinya merasa marah, tidak senang, atau benci dengan musibah yang menimpanya.

E. Kapan Seseorang Bisa Dikatakan Sabar?

Seandainya ada salah satu anggota keluarga yang kita cintai meninggal dunia, apa yang seharusnya kita perbuat? Langsung menangisi dan meratapinya? Atau menerima apa yang Allah kehendaki kepada kita seraya mengucapkan kalimat istirja’? Perhatikan jawabannya pada hadits berikut ini :

مَرَّ ‌النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بِامْرَأَةٍ تَبْكِي عِنْدَ قَبْرٍ، فَقَالَ: اتَّقِي اللهَ وَاصْبِرِي. قَالَتْ: إِلَيْكَ عَنِّي، فَإِنَّكَ لَمْ تُصَبْ بِمُصِيبَتِي. وَلَمْ تَعْرِفْهُ، فَقِيلَ لَهَا: إِنَّهُ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم، فَأَتَتْ بَابَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم، فَلَمْ تَجِدْ عِنْدَهُ بَوَّابِينَ، فَقَالَتْ: لَمْ أَعْرِفْكَ. فَقَالَ: إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَى

Suatu ketika Nabi melewati seorang wanita yang menangis di kuburan. Lalu, beliau bersabda : “Takutlah pada Allah, dan bersabarlah!” Wanita itu menjawab : “Pergilah dariku, sesungguhnya engkau tidak merasakan musibah yang menimpaku dan tidak mengetahuinya.” Lalu, wanita itu pun diberitahu bahwa yang menasehatinya adalah Nabi . Sontak ia beranjak ke rumah Nabi dan ia tidak menemukannya. Saat bertemu wanita berkata : “Aku tidak mengetahui (bahwa yang mengajak bicara waktu itu adalah) engkau.” Beliau bersabda : “Sesungguhnya sabar itu ketika kejutan yang pertama.”


[HR. Bukhari]

Berdasarkan hadits tersebut, kita mengetahui bahwa sabar yang paling besar pahalanya adalah saat tertimpa musibah maka seketika itu hati kita langsung bersabar. Praktek bersabar yang benar adalah menerima apa yang Allah kehendaki untuk kita seraya mengucapkan kalimat istirja’. Bersabar bukanlah dengan menangis meronta-ronta, atau meratapinya terlebih dahulu setelah itu baru beristirja’. Perhatikan firman Allah berikut ini :

ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتۡهُم مُّصِيبَةٞ قَالُوٓاْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيۡهِ رَٰجِعُونَ ١٥٦

(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn” (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali).


[QS. Al-Baqarah ayat 156]

Dalam ayat tersebut, Allah menerangkan tentang ciri-ciri orang yang sabar. Di antara salah satu ciri mereka ialah ketika ditimpa musibah maka mereka langsung bersabar seraya mengucapkan kalimat istirja’ (“Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn”) tanpa marah-marah, mengeluh, menangis, atau meratapi nasib terlebih dahulu. Jika seseorang mampu mengamalkan hal ini maka ia akan mendapatkan pahala sabar yang paling sempurna.

Related Posts :