Kisah Nabi Adam Lengkap dari Lahir Sampai Wafat

Kisah Nabi Adam Lengkap

Nabi Adam as merupakan manusia pertama yang menjadi bapaknya umat manusia. Ia merupakan makhluk sempurna yang dicitpakan oleh Allah dari tanah dengan tangan-Nya.

Di dalam Al-Quran banyak sekali kisah yang menceritakan tentang kisah Nabi Adam as. Namun, banyaknya ayat-ayat tentang kisah Nabi Adam yang diulang-ulang membuat kita yang awam menjadi kesulitan dalam memahaminya.

Oleh karena itu, pada postingan kali ini kita akan membahas bagaimana kisah Nabi Adam lengkap dari lahir sampai wafat menurut Islam disertai dalil-dalilnya dalam Al-Quran maupun Al-Hadits.

Kisah Nabi Adam Sebelum Diciptakan

Sebelum Nabi Adam diciptakan, Allah mengabarkan kepada para malaikat bahwa Ia hendak menciptakan khalifah di muka bumi. Allah berfirman kepada para malaikat :

إِنِّي جَاعِلٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ خَلِيفَةٗ

Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.

Saat malaikat mendengar kabar tersebut, sesungguhnya mereka telah mengetahui bahwasanya makhluk yang tinggal di bumi sebelum diciptakan manusia ini selalu berbuat kerusakan dan menumpahkan darah.

Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa : Seribu tahun sebelum Adam diciptakan, bangsa jin (yang saat itu tinggal di bumi) telah melakukan pertumpahan darah. Lalu, Allah mengirim sekelompok pasukan dari golongan Malaikat kepada mereka. Para malaikat tersebut mengusir mereka hingga pulau-pulau yang dikelilingi oleh lautan.

Oleh karena kejadian itu, mereka ingin mengetahui apa hikmah dibalik penciptaan khalifah ini. Malaikat bertanya kepada Allah :

أَتَجۡعَلُ فِيهَا مَن يُفۡسِدُ فِيهَا وَيَسۡفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ

Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?

Allah menjawab :

إِنِّيٓ أَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ

Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui

Allah lebih tahu kemaslahatan di balik diciptakannya Nabi Adam . Allah tahu bahwa akan lahir seorang yang menjadi para Nabi dan Rasul, para shiddiq, dan juga orang-orang sholeh dari keturunan Nabi Adam .

Kisah Nabi Adam Diciptakan Oleh Allah

Allah menciptakan Nabi Adam dengan sempurna dan lengkap. Berdasarkan surat Shad ayat 71 dan 75, Allah menciptakan Nabi Adam dari tanah liat dengan tangan-Nya. Setelah Allah menyelesaikan dan menyempurnakan bentuknya, Allah meniupkan ruh ciptaan-Nya kepada Nabi Adam . Disebutkan dalam Al-Quran :

إِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّي خَٰلِقُۢ بَشَرٗا مِّن طِينٖ ٧١ فَإِذَا سَوَّيۡتُهُۥ وَنَفَخۡتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُواْ لَهُۥ سَٰجِدِينَ ٧٢

(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Apabila Aku telah menyempurnakan (penciptaan)-nya dan meniupkan roh (ciptaan)-Ku ke dalamnya, tunduklah kamu kepadanya dalam keadaan bersujud.”


[QS. Shaad ayat 71-72]

Saat Nabi Adam diciptakan, Allah telah menjadikan Nabi Adam sebagai orang yang sudah berakal dan mampu berbicara sehingga Nabi Adam mampu memahami perkataan dan mampu menjawab perkataan tersebut dengan benar.

Dikisahkan di dalam hadits At-Tirmidzi bahwa ketika ditiupkan ruh kepada Adam maka Adam pun bersin dan berkata : “Alhamdulillah.” Allah berfirman : “Semoga Allah merahmatimu, wahai Adam. Pergilah kepada para Malaikat itu, dan katakanlah kepada mereka yang sedang duduk : Assalamu’alaikum.”

Adam pun menuju para malaikat itu dan berkata : “Assalamu’alaikum.” Para Malaikat menjawab dengan jawaban yang lebih lengkap : “Wa’alaikassalam warahmatullah.” Kemudian Nabi Adam kembali kepada Tuhannya. Lalu Tuhannya berkata : “Ini adalah salam penghormatanmu dan keturunanmu.”

Lalu, Allah berfirman kepada Adam, sambil mengepalkan kedua tangan-Nya : “Pilihlah salah satu dari keduanya yang kamu kehendaki. Adam menjawab : “Aku memilih tangan kanan Tuhanku dan kedua tangan Tuhanku adalah kanan yang diberkahi.” Kemudian Allah membukanya dan ternyata di dalamnya terdapat Adam dan keturunannya.

Adam bertanya : “Wahai Tuhanku, siapakah mereka?” Allah menjawab : “Mereka adalah anak keturunanmu.”

Ternyata umur semua manusia telah tertulis di antara kedua matanya. Seketika itu diantara mereka ada seorang lelaki yang cahayanya paling cerah di antara yang lain.

Maka Adam pun bertanya : “Wahai Tuhanku, siapa ini?” Allah menjawab : “Ini adalah anakmu Dawud, dan aku telah menulis untuknya umur empat puluh tahun.” Nabi Adam berkata : “Ya Allah tambakan umurnya!” Allah berfirman : “Itu telah aku tuliskan untuknya.” Nabi Adam berkata : “Wahai Tuhanku, kalau begitu aku berikan enam puluh tahun umurku untuknya.” Allah berfirman : “Itu adalah hakmu.”

Kemudian Allah tempatkan Nabi Adam sesuai kehendak-Nya, lalu ia diturunkan dari surga, lalu Nabi Adam menghitung sendiri umurnya. Lalu ketika malaikat maut datang maka ia berkata Adam berkata padanya : “Kamu terburu-buru, aku telah diberi umur seribu tahun.” Malaikat menjawab : “Tidak, tetapi kamu telah memberikan enam puluh tahun umurmu kepada anakmu Dawud.”

Lalu Nabi Adam mengingkari hal tersebut, maka anak cucunya pun juga terwarisi sifat mengingkari. Adam lupa dengan hal tersebut maka anak cucunya pun juga terwarisi sifat lupa. Sejak saat itulah diperintahkan untuk menulis dan mengadakan persaksian.

Dikisahkan pula di dalam sebuah hadits lain yang diriwayatkan oleh imam At-Tirmidzi bahwa ketika Allah menciptakan Nabi Adam maka diusaplah punggung Nabi Adam .

Dari punggung itu kemudian berjatuhanlah seluruh jiwa yang akan menjadi keturunannya kelak hingga hari kiamat. Lalu Allah menjadikan kilauan cahaya di antara kedua mata masing-masing dari mereka. Setelah itu mereka pun dihadapkan kepada Nabi Adam dan Nabi Adam pun berkata : “Wahai Tuhanku siapakah mereka itu?” Allah berkata kepada Nabi Adam : “Mereka adalah keturunanmu.”

Lalu Nabi Adam melihat seorang lelaki dari mereka maka Nabi Adam terkagum dengan kilauan cahaya yang memancar di antara kedua matanya. Nabi Adam bertanya : “Wahai Tuhanku, siapakah ini?” Maka Allah menjawab : “Ini adalah seorang lelaki dari kalangan umat terakhir dari keturunanmu yang bernama Dawud.”

Nabi Adam bertanya : “Wahai Tuhanku berapa umur yang Engkau berikan padanya?” Allah menjawab : “Empat puluh tahun.” Nabi Adam berkata : “Wahai Tuhanku, tambahkan untuknya empat puluh tahun dari umurku.”

Tatkala Nabi Adam telah habis umurnya, maka ia didatangi oleh Malaikat maut. Nabi Adam pun berkata : “Bukankah umurku masih tersisa empat puluh tahun lagi?” Malaikat menjawab : “Bukankah engkau telah memberikannya kepada anakmu Dawud?”

Nabi Adam pun mengingkari (hal tersebut), maka keturunannya pun juga punya sifat mengingkari, Adam lupa (dengan kejadian saat ia memberi umur kepada Dawud) maka keturunannya pun juga punya sifat lupa, Adam berbuat salah, maka anak turunnya pun juga berbuat salah.

Kisah Nabi Adam dan Para Malaikat

Setelah Allah menciptakan Nabi Adam secara sempurna, Allah mengajarkan kepada Nabi Adam semua nama benda. Dikisahkan di dalam Al-Quran :

وَعَلَّمَ ءَادَمَ ٱلۡأَسۡمَآءَ كُلَّهَا

Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) seluruhnya


[QS. Al-Baqarah ayat 31]

Menurut Ibnu Abbas, nama-nama yang Allah ajarkan kepada Nabi Adam adalah semua nama-nama zat beserta gerakannya baik yang kecil maupun yang besar. Semua nama-nama ini Allah ajarkan kepada Nabi Adam sebagai bekal untuk menjadi khalifah di bumi.

Setelah Adam menguasai semua nama-nama tersebut, Allah hendak memperlihatkan kemampuan Nabi Adam kepada para Malaikat sebagai salah satu jawaban atas pertanyaan mereka sebelumnya. Allah berfirman kepada para Malaikat :

أَنۢبِـُٔونِي بِأَسۡمَآءِ هَٰٓؤُلَآءِ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ

Sebutkan kepada-Ku nama-nama (benda) ini jika kamu benar!

Para Malaikat menjawab :

سُبۡحَٰنَكَ لَا عِلۡمَ لَنَآ إِلَّا مَا عَلَّمۡتَنَآ

Mahasuci Engkau. Tidak ada pengetahuan bagi kami, selain yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.

Menurut Hasan Al-Bashri, ketika Allah hendak menciptakan Nabi Adam, para Malaikat menyangka bahwa Allah tidak akan menciptakan makhluk yang lebih berilmu dibandingkan mereka.

Ternyata, ketika Malaikat itu diuji untuk menyebutkan nama-nama benda yang Allah tunjukkan kepada mereka, mereka tidak mampu melakukannya karena Allah tidak pernah mengajarkan nama-nama itu kepada mereka. Lalu, Allah pun berfirman kepada Nabi Adam :

يَٰٓـَٔادَمُ أَنۢبِئۡهُم بِأَسۡمَآئِهِمۡ

Wahai Adam, beri tahukanlah kepada mereka nama-nama benda itu!

Nabi Adam pun mulai menyebutkan nama-nama benda itu satu persatu sesuai dengan apa yang Allah ajarkan kepadanya. Ketika Nabi Adam menyebutkan nama-nama benda tersebut, maka Allah berfirman kepada para Malaikat :

أَلَمۡ أَقُل لَّكُمۡ إِنِّيٓ أَعۡلَمُ غَيۡبَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَأَعۡلَمُ مَا تُبۡدُونَ وَمَا كُنتُمۡ تَكۡتُمُونَ

Bukankah telah Kukatakan kepadamu bahwa Aku mengetahui rahasia langit dan bumi, dan Aku mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang selalu kamu sembunyikan?

Kisah Nabi Adam dan Iblis yang Sombong

Allah memberikan banyak kemuliaan kepada Nabi Adam . Allah menciptakan Nabi Adam langsung dengan tangan-Nya, meniupkan ruh ciptaan-Nya langsung kepadanya, dan juga mengajarkan segala sesuatu langsung kepadanya.

Kemuliaan berikutnya yang Allah berikan kepada Nabi Adam adalah diperintahkannya para Malaikat untuk memberikan sujud penghormatan kepada Nabi Adam. Allah berfirman :

ٱسۡجُدُواْ لِأٓدَمَ

Bersujudlah kamu kepada Adam

Ketika Allah bertitah kepada para Malaikat untuk memberikan sujud penghormatan kepada Adam maka mereka semua pun bersujud. Namun, ada satu di antara mereka yang tidak mau sujud kepada Nabi Adam karena sombong yaitu Iblis.

Iblis adalah makhluk dari bangsa jin yang diciptakan dari api, sedangkan malaikat Allah ciptakan dari cahaya. Walaupun si Iblis ini bukan dari golongan Malaikat namun ia tetap harus mematuhi perintah Allah, karena ia juga tinggal bersama para malaikat.

Melihat Iblis tidak mau bersujud kepada Nabi Adam, Allah bertanya kepada Iblis :

مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسۡجُدَ إِذۡ أَمَرۡتُكَ

Apakah yang menghalangimu (sehingga) kamu tidak bersujud ketika Aku menyuruhmu?

Iblis menjawab :

أَنَا۠ خَيۡرٞ مِّنۡهُ خَلَقۡتَنِي مِن نَّارٖ وَخَلَقۡتَهُۥ مِن طِينٖ

Aku lebih baik daripada dia. Engkau menciptakanku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.

Iblis beranggapan bahwa sesuatu yang tercipta dari api lebih baik dari pada sesuatu yang diciptakan dari tanah. Padahal, apabila kita bandingkan, sesungguhnya tanah itu lebih baik dan lebih bermanfaat dari pada api. Tanah mengandung unsur kelembutan, kelenturan, ketenangan, dan perkembangan. Sementara api mengandung unsur kekasaran, kecepatan, dan membakar.

Selain itu, Nabi Adam juga telah dimuliakan oleh Allah dengan berbagai macam kemuliaan. Oleh karena itu, tidak heran jika Allah memerintahkan kepada para Malaikat untuk bersujud kepada Nabi Adam .

Setelah kejadian itu, akhirnya Allah mengusir Iblis dari surga dan melaknatnya hingga hari kiamat. Allah berkata kepada Iblis :

فَٱهۡبِطۡ مِنۡهَا فَمَا يَكُونُ لَكَ أَن تَتَكَبَّرَ فِيهَا فَٱخۡرُجۡ إِنَّكَ مِنَ ٱلصَّٰغِرِينَ

Turunlah kamu darinya (surga) karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya. Keluarlah! Sesungguhnya kamu termasuk makhluk yang hina.

فَٱخۡرُجۡ مِنۡهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٞ ٣٤ وَإِنَّ عَلَيۡكَ ٱللَّعۡنَةَ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلدِّينِ ٣٥

Keluarlah darinya (surga) karena sesungguhnya kamu terkutuk. Sesungguhnya kamu terlaknat sampai hari Kiamat.

Hukuman yang diterima oleh Iblis bukan hanya semata-mata karena Iblis merendahkan Nabi Adam, tetapi juga disebabkan dia membangkang perintah Allah. Dari kisah ini sesungguhnya kita belajar bahwa ketika hendak melaksanakan suatu perintah maka bukan hanya perintahnya yang kita lihat, tetapi juga siapa yang memberikan perintah.

Sumpah Iblis Kepada Allah

Iblis telah diusir dari surga dan mendapatkan laknat dari Allah sampai hari kiamat. Hal itu membuat kedengkian Iblis kepada Nabi Adam semakin bertambah. Ia pun memohon kepada Allah untuk mendapatkan tangguhan umur hingga hari kiamat tiba.

Iblis ingin sekali bisa mengganggu, membahayakan, menyesatkan, dan memalingkan anak cucu Adam dari jalan yang benar agar bisa bersama-sama masuk ke dalam neraka Jahannam.

Iblis akan melakukan berbagai macam cara untuk mengajak anak cucu Adam masuk ke dalam neraka bersamanya. Ia bahkan akan membuat perbuatan buruk seolah terlihat baik. Tujuannya agar mereka tidak menyadari bahwa apa yang dilakukannya merupakan perbuatan yang buruk.

Iblis berkata kepada Allah :

أَنظِرۡنِيٓ إِلَىٰ يَوۡمِ يُبۡعَثُونَ

Berilah aku penangguhan waktu sampai hari mereka dibangkitkan

إِنَّكَ مِنَ ٱلۡمُنظَرِينَ

Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi penangguhan waktu

فَبِمَآ أَغۡوَيۡتَنِي لَأَقۡعُدَنَّ لَهُمۡ صِرَٰطَكَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ١٦ ثُمَّ لَأٓتِيَنَّهُم مِّنۢ بَيۡنِ أَيۡدِيهِمۡ وَمِنۡ خَلۡفِهِمۡ وَعَنۡ أَيۡمَٰنِهِمۡ وَعَن شَمَآئِلِهِمۡۖ وَلَا تَجِدُ أَكۡثَرَهُمۡ شَٰكِرِينَ

Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian, pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.

ٱخۡرُجۡ مِنۡهَا مَذۡءُومٗا مَّدۡحُورٗاۖ لَّمَن تَبِعَكَ مِنۡهُمۡ لَأَمۡلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنكُمۡ أَجۡمَعِينَ

Keluarlah kamu darinya (surga) dalam keadaan terhina dan terusir! Sungguh, siapa pun di antara mereka yang mengikutimu pasti akan Aku isi (neraka) Jahanam dengan kamu semua.

Kisah Nabi Adam dan Hawa di Surga

Setelah Allah mengeluarkan Iblis dari surga, Allah kembali kepada Nabi Adam . Melihat Nabi Adam berjalan-jalan sendiri di surga, Allah hendak menciptakan teman untuk Nabi Adam di surga.

Suatu ketika Nabi Adam ditimpa rasa kantuk kemudian ia tertidur. Ketika ia tertidur, Allah mengambil tulang rusuk Nabi Adam yang paling pendek dan paling bengkok, lalu dijadikanlah istrinya dari tulang rusuk tersebut.

Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa Allah telah mengeluarkan Iblis dari surga dan menyuruh Nabi Adam untuk tinggal di surga. Lalu Adam pun berjalan-jalan sendiri di surga tanpa seorang istri yang menemaninya.

Kemudian ia tertidur sejenak lalu terbangun. Tiba-tiba di dekat kepalanya duduk seorang wanita yang diciptakan oleh Allah dari tulang rusuknya. Maka Adam bertanya padanya : “Siapa kamu?”

Wanita itu menjawab : “Aku adalah seorang wanita.”

Adam bertanya : “Mengapa engkau diciptakan?”

Wanita itu menjawab : “Agar kamu merasa tenang denganku.”

Maka para Malaikat bertanya kepada Adam : “Siapakah namanya wahai Adam?”

Adam menjawab : “Hawa.”

Malaikat bertanya kembali : “Mengapa dinamakan Hawa?”

Adam menjawab : “Karena ia diciptakan dari sesuatu yang hidup.”

Menurut versi yang lain, Hawa diciptakan oleh Allah sebelum Adam memasuki surga. Disebutkan di dalam tafsir Ibnu Katsir bahwa pada mulanya Nabi Adam ditimpa rasa kantuk.

Lalu ketika ia tertidur maka Allah mengambil salah satu dari tulang rusuk sebelah kirinya dan menambalnya dengan daging.

Lalu Allah menjadikan istri Nabi Adam dari tulang rusuk tersebut, yaitu hawa. Dia adalah seorang wanita yang sempurna yang Allah ciptakan untuk Nabi Adam agar ia merasa tenang hidup bersamanya.

Ketika Nabi Adam terbangun, ia melihat Hawa telah berada di sampingnya. Maka Nabi Adam pun berkata : “Oh dagingku, darahku, dan istriku.” Adam pun merasa tenang dan tenteram bersamanya.

Setelah Allah menikahkan keduanya dan menjadikan rasa tenang dan tenteram di dalam diri Nabi Adam maka Allah berfirman kepada mereka :

وَيَٰٓـَٔادَمُ ٱسۡكُنۡ أَنتَ وَزَوۡجُكَ ٱلۡجَنَّةَ فَكُلَا مِنۡ حَيۡثُ شِئۡتُمَا وَلَا تَقۡرَبَا هَٰذِهِ ٱلشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ

Wahai Adam, tinggallah engkau dan istrimu di surga (ini). Lalu, makanlah apa saja yang kamu berdua sukai dan janganlah kamu berdua mendekati pohon yang satu ini sehingga kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim.

Kisah Tipu Daya Iblis Kepada Nabi Adam dan Hawa

Nabi Adam dan Hawa telah dimasukkan ke dalam surga oleh Allah . Allah juga menguji Nabi Adam dan Hawa dengan satu buah larangan yaitu larangan untuk mendekati salah satu pohon di dalam surga.

Terdapat perbedaan pendapat dikalangan para ahli tentang nama dan jenis pohon itu. Yang jelas nama dan jenis pohon itu tidak disebutkan oleh Allah di dalam Al-Quran.

Nabi Adam dan Hawa menikmati fasilitas surga dengan penuh kenikmatan dan kebahagiaan. Mereka tidak akan merasa kelaparan, tidak akan telanjang, tidak akan merasa dahaga, dan tidak akan tersengat panasnya sinar matahari selama berada di dalam surga.

Namun, Allah memberikan peringatan keras kepada keduanya. Ada Iblis yang telah bersumpah untuk mengganggu, menyesatkan, membahayakan, dan memalingkan Nabi Adam beserta keturunannya dari jalan kebenaran. Allah berfirman :

يَٰٓـَٔادَمُ إِنَّ هَٰذَا عَدُوّٞ لَّكَ وَلِزَوۡجِكَ فَلَا يُخۡرِجَنَّكُمَا مِنَ ٱلۡجَنَّةِ فَتَشۡقَىٰٓ ١١٧ إِنَّ لَكَ أَلَّا تَجُوعَ فِيهَا وَلَا تَعۡرَىٰ ١١٨ وَأَنَّكَ لَا تَظۡمَؤُاْ فِيهَا وَلَا تَضۡحَىٰ ١١٩

Wahai Adam, sesungguhnya (Iblis) inilah musuh bagimu dan bagi istrimu. Maka, sekali-kali jangan sampai dia mengeluarkan kamu berdua dari surga. Kelak kamu akan menderita. Sesungguhnya (ada jaminan) untukmu bahwa di sana engkau tidak akan kelaparan dan tidak akan telanjang. Sesungguhnya di sana pun engkau tidak akan merasa dahaga dan tidak akan ditimpa terik matahari.

Iblis yang saat itu telah diusir dari surga, semakin merasa dengki dan iri melihat kenikmatan yang Allah berikan kepada mereka berdua. Dia pun memulai usahanya untuk menggoda mereka berdua agar dikeluarkan dari surga. Singkat cerita, Iblis mulai membisikkan pikiran jahat kepada mereka berdua :

مَا نَهَىٰكُمَا رَبُّكُمَا عَنۡ هَٰذِهِ ٱلشَّجَرَةِ إِلَّآ أَن تَكُونَا مَلَكَيۡنِ أَوۡ تَكُونَا مِنَ ٱلۡخَٰلِدِينَ

Tuhanmu tidak melarang kamu berdua untuk mendekati pohon ini, kecuali (karena Dia tidak senang) kamu berdua menjadi malaikat atau kamu berdua termasuk orang-orang yang kekal (dalam surga)

Iblis menamakan pohon itu dengan nama “pohon khuldi” (pohon keabadian) agar Nabi Adam dan Hawa semakin tergoda. Iblis berkata :

يَٰٓـَٔادَمُ هَلۡ ‌أَدُلُّكَ عَلَىٰ شَجَرَةِ ٱلۡخُلۡدِ وَمُلۡكٖ لَّا يَبۡلَىٰ

Wahai Adam, maukah aku tunjukkan kepadamu pohon khuldi (keabadian) dan kerajaan yang tidak akan binasa?

Bahkan Iblis berpura-pura baik dengan bersumpah atas nama Allah agar semakin meyakinkan Nabi Adam dan Hawa :

إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ ٱلنَّٰصِحِينَ

Sesungguhnya aku ini bagi kamu berdua benar-benar termasuk para pemberi nasihat.

Tidak diketahui bagaimana cara Iblis bisa membisikkan kepada Nabi Adam dan istrinya di surga. Apakah Iblis menyusup ke dalam surga, atau sebatas melewatinya, atau menggodanya dari luar pintu surga, atau dari bawah langit. Yang jelas, Iblis berusaha menggoda Nabi Adam dan Hawa agar mereka diusir dari surga sebagaimana ia juga diusir dari surga.

Kisah Nabi Adam dan Hawa Memakan Buah Terlarang

Iblis mengetahui bahwa manusia menyukai harta dan keabadian. Oleh karena itu, Iblis menjanjikan harta dan keabadian bagi mereka berdua jika memakan buah tersebut.

Singkat cerita, mereka berdua akhirnya tergoda untuk memakan buah tersebut. Hawa memakan buah dari pohon tersebut sebelum Nabi Adam. Hawa juga lah yang mendesak Nabi Adam untuk memakan buah tersebut.

Ketika mereka baru saja mencicipi buah tersebut, aurat mereka langsung tersingkap. Karena merasa malu, akhirnya mereka tutupi aurat mereka dengan dedaunan di dalam surga. Dikisahkan di dalam Al-Quran :

فَدَلَّىٰهُمَا بِغُرُورٖۚ فَلَمَّا ذَاقَا ٱلشَّجَرَةَ بَدَتۡ لَهُمَا سَوۡءَٰتُهُمَا وَطَفِقَا يَخۡصِفَانِ عَلَيۡهِمَا مِن وَرَقِ ٱلۡجَنَّةِۖ

Ia (setan) menjerumuskan keduanya dengan tipu daya. Maka, ketika keduanya telah mencicipi (buah) pohon itu, tampaklah pada keduanya auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (di) surga.

[QS. Al-A’raf ayat 22]

Ibnu Abbas mengatakan bahwa dedaunan yang digunakan untuk menutupi aurat mereka adalah daun pohon Tin.

Dikatakan dalam sebuah riwayat yang diriwayatkan oleh Ibnu Asakir bahwa setelah Nabi Adam melakukan kesalahan di surga, maka auratnya tersingkap. Lalu, beliau keluar dari surga dan menemui sebatang pohon. Lalu, pohon itu memegang ubun-ubunnya dan Tuhannya memanggil : “Apakah kamu lari dari-Ku wahai Adam?”

Adam menjawab : “Wahai Tuhanku, aku merasa malu kepada-Mu karena kesalahan yang telah aku perbuat.”

Kisah Bertaubatnya Nabi Adam dan Hawa

Setelah Nabi Adam dan Hawa melakukan kesalahan hingga aurat mereka tersingkap, maka Allah memanggil mereka berdua dan berfirman :

أَلَمۡ أَنۡهَكُمَا عَن تِلۡكُمَا ٱلشَّجَرَةِ وَأَقُل لَّكُمَآ إِنَّ ٱلشَّيۡطَٰنَ لَكُمَا عَدُوّٞ مُّبِينٞ

Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon itu dan Aku telah mengatakan bahwa sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?

Mendengar teguran itu, Nabi Adam dan Hawa mulai menyadari kesalahan mereka. Mereka menyesali perbuatannya dan ingin bertaubat kepada Allah .

Diriwayatkan dalam Al-Mustadrak Ibnu Abbas menceritakan :

Adam bertanya : “Ya Tuhanku, bukankah aku telah Engkau ciptakan dengan tangan-Mu sendiri?”

Allah menjawab : “Benar.”

Adam bertanya : “Bukankah Engkau juga telah meniupkan ruh-Mu kepadaku?”

Allah menjawab : “Benar.”

Adam bertanya : “Bukankah jika aku bersin Engkau mengucapkan ‘Semoga Allah merahmatimu.’ dan rahmat-Mu mendahului murka-Mu?”

Allah menjawab : “Benar.”

Adam bertanya : “Bukankah Engkau telah menuliskan bagi diriku untuk melakukan hal (kesalahan) ini?”

Allah menjawab : “Benar.”

Adam bertanya : “Bila aku bertaubat apakah Engkau akan mengembalikan aku ke surga?”

Allah berfirman : “Benar.”

Maka Allah pun mengajarinya sebuah kalimat. Dikisahkan di dalam Al-Quran :

فَتَلَقَّىٰٓ ءَادَمُ مِن رَّبِّهِۦ كَلِمَٰتٖ فَتَابَ عَلَيۡهِۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ ٣٧

Kemudian, Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, lalu Dia pun menerima tobatnya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.


[QS. Al-Baqarah ayat 37]

Kalimat itu ialah :

رَبَّنَا ظَلَمۡنَآ أَنفُسَنَا وَإِن لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَتَرۡحَمۡنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ

Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.

Adam dan Hawa mengucapkan kalimat tersebut sebagai bentuk pengakuan atas kesalahan mereka dan upaya untuk kembali kepada-Nya. Allah pun menerima taubat mereka, sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

Kisah Nabi Adam dan Hawa Diturunkan ke Bumi

Allah telah menerima taubat dari Nabi Adam dan Hawa. Meskipun demikian bukan berarti mereka tidak mendapatkan konsekuensi apapun. Maka Allah memerintahkan mereka semua untuk turun dari surga :

ٱهۡبِطُواْ بَعۡضُكُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوّٞۖ وَلَكُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ مُسۡتَقَرّٞ وَمَتَٰعٌ إِلَىٰ حِينٖ

Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain serta bagi kamu ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai waktu yang telah ditentukan.

Hari diturunkannya Nabi Adam beserta istrinya Hawa adalah hari Jum’at. Dan hari itu adalah sebaik-baiknya hari.

Mengenai di mana tempat Nabi Adam dan Hawa diturunkan maka terdapat banyak versi. Ada yang mengatakan Adam diturunkan di wilayah bernama Dahna yaitu terletak diantara kota Thaif dan Mekah, ada yang mengatakan di India dan ada pula yang mengatakan diturunkan di Shafa.

Demikian pula Hawa juga terdapat banyak versi cerita mengenai di mana ia diturunkan. Ada yang mengatakan ia turun di Jedah, ada pula yang mengatakan di Marwa.

Selain Adam dan Hawa dikeluarkan dari surga, Allah juga menetapkan bahwa mereka berdua beserta keturunannya akan tinggal di bumi, wafat di bumi, dan juga dibangkitkan di bumi. Allah berfirman :

فِيهَا تَحۡيَوۡنَ وَفِيهَا تَمُوتُونَ وَمِنۡهَا تُخۡرَجُونَ

Di sana kamu hidup, di sana kamu mati, dan dari sana (pula) kamu akan dikeluarkan (dibangkitkan).

Kisah Kehidupan Nabi Adam dan Hawa di Bumi

Nabi Adam dan istrinya, Hawa, telah diturunkan dari surga ke bumi. Mereka telah berpindah dari negeri yang penuh kebahagiaan menuju negeri yang penuh dengan kesengsaraan, keletihan, kepenatan, kekeruhan, usaha, perjuangan, ujian, dan cobaan.

Allah menciptakan Nabi Adam dengan tinggi tidak lebih dari enam puluh hasta. Sementara tinggi anak keuturunannya akan terus berkurang seiring berjalannya waktu.

Ketika Nabi Adam berada di bumi, Allah memerintahkan kepadanya untuk membangun rumah Allah.

Allah berkata kepada Adam : “Wahai Adam, sesungguhnya aku memiliki tanah suci yang ada di hadapan Arsy-Ku. Pergilah ke tempat itu dan bangunlah sebuah rumah untuk-Ku, lalu bertawaflah kamu di rumah tersebut seperti para Malaikat bertawaf di Asry-Ku.”

Kemudian Allah mengutus satu Malaikat kepada Adam untuk menunjukkan tempat tersebut dan mengajarkan cara manasik. Disebutkan pula bahwa setiap jejak kaki Nabi Adam kelak akan menjadi suatu negeri di kemudian hari.

Makanan yang pertama kali dimakan oleh Nabi Adam di bumi adalah makanan yang dibawah oleh Jibril yaitu tujuh biji gandum.

Nabi Adam bertanya : “Apa ini?”

Jibril menjawab : “Ini berasal dari pohon terlarang yang dulu engkau dilarang untuk memakannnya tetapi engkau tetap memakannya.

Adam bertanya : “Lalu, apa yang harus aku perbuat dengan ketujuh biji gandum ini?”

Jibril menjawab : “Tanamlah biji tersebut di tanah.”

Lalu Adam pun menanamnya. Setiap biji yang ditanam dari biji tersebut tumbuh menjadi seratus ribu biji. Lalu Nabi Adam memanennya, menumbuknya, menggilingnya, mengadoninya, dan membuatnya menjadi roti. Akhirnya Adam memakan roti itu setelah melakukan usaha yang cukup keras.

Adapun pakaian yang pertama kali mereka kenakan berasal dari bulu domba. Awalnya Adam menyembelih domba tersebut, lalu ia memintalnya, dan menenunnya. Kemudian ia jadikan jubah untuk dirinya, dan baju serta kerudung untuk Hawa.

Setiap kali Hawa mengandung maka ia akan melahirkan dua anak kembar laki-laki dan perempuan. Adam memerintahkan untuk menikahkan anak laki-lakinya dengan puterinya dari kembaran anak laki-laki yang lain, dan seterusnya. Adapun menikah dengan saudara kembarnya sendiri tidak diperbolehkan pada saat itu.

Para ulama berbeda pendapat apakah Nabi Adam dan hawa sudah memiliki anak ketika mereka di surga. Ada yang berpendapat bahwa Adam dan Hawa hanya memiliki anak ketika di bumi, ada pula yang berpendapat bahwa Adam dan Hawa telah memiliki anak ketika mereka di surga, yaitu Qabil dan saudara perempuannya. Wallaahu a’lam.

Kisah Singkat Anak Nabi Adam

Setelah berlangsung lama Nabi Adam dan Hawa tinggal di bumi, maka Nabi Adam hendak menikahkan anak-anaknya. Saat itu anak yang hendak dinikahkan oleh Nabi Adam adalah Qabil, Habil, beserta saudara kembar dari masing-masing keduanya.

Habil hendak menikahi saudara perempuan Qabil yang lebih cantik. Sementara Qabil tidak terima dan hendak menjadikan saudara perempuannya itu sebagai istri untuk dirinya sendiri.

Nabi Adam memerintahkan Qabil untuk menikahkan saudara perempuannya kepada Habil, namun Qabil menolak. Lalu Nabi Adam memerintahkan Qabil dan Habil untuk berkurban, sementara Nabi Adam pergi ke Mekah untuk menunaikkan ibadah haji.

Adam meminta langit untuk menjaga keluarganya, namun langit menolak. Lalu Nabi Adam meminta bumi dan gunung untuk menjaganya, namun juga menolak. Akhirnya Qabil menerima untuk menjaga keluarganya.

Lalu, mereka berdua pun pergi berkurban dengan membawa kurbannya masing-masing. Habil berkurban dengan seekor kambing yang gemuk, karena ia adalah seorang peternak. Sedangkan Qabil berkurban dengan hasil pertanian yang sangat jelek.

Setelah mereka mempersembahkan kurbannya masing-masing, maka tiba-tiba api dari atas menyambar kurban milik Habil. Ini pertanda bahwa kurban Habil diterima. Sementara kurban milik Qabil sama sekali tidak disambar oleh api. Ini pertanda kurban milik Qabil ditolak.

Melihat kurban miliknya tidak diterima sementara kurban Habil diterima, maka Qabil pun marah dan berkata : “Aku akan membunuhmu agar kamu tidak jadi menikah dengan saudara kembar perempuanku.”

Habil menjawab : “Sesungguhnya Allah hanya menerima kurban dari orang-orang yang bertakwa.”

Dalam versi cerita yang lain dikisahkan bahwa Nabi Adam merasa gembira dengan kurban kedua anaknya tersebut, dan merasa senang dengan diterimanya kurban Habil, sementara kurban Qabil tidak diterima.

Qabil berkata kepada Nabi Adam : “Allah menerima kurbannya, karena engkau mendoakannya dan tidak mendoakan aku.” Padahal Nabi Adam mendoakan kedua bersaudara tersebut.

Pada suatu malam Habil pulang terlambat dari menggembala. Maka Adam meminta Qabil untuk mencari tahu mengapa ia terlambat pulang.

Ketika Qabil berangkat dan bertemu dengan Habil, maka ia mengabarkan kepada Habil : “Kurbanmu diterima sedangkan kurbanku tidak diterima.”

Maka Habil menjawab : “Allah hanya menerima kurban dari orang-orang yang bertakwa.”

Mendengar jawaban tersebut, Qabil murka. Akhirnya ia memukul Habil dengan besi yang ia bawa hingga terbunuh. Pada cerita versi lain ada yang mengatakan bahwa Qabil membunuh habil dengan batu yang dipukulkan di kepala Habil yang sedang tidur. Ada pula versi lain yang mengatakan bahwa Qabil mencekik Habil dengan keras dan menggigitnya seperti yang dilakukan binatang buas hingga Habil meninggal dunia. Wallahu ‘alam.

Setelah Qabil membunuh Habil, maka ia membawa di atas pundaknya selama satu tahun. Versi lain ada yang mengatakan seratus tahun.

Hingga akhirnya Allah mengirim dua ekor gagak yang bersaudara. Kedua burung gagak tersebut bertarung dan salah satu burung tersebut membunuh yang lain.

Setelah ia membunuhnya lalu ia turun ke bumi, menggali tanah, dan melemparkannya serta mengubur dan menimbunnya ke dalam tanah.

Ketika Qabil melihat burung tersebut maka ia berkata : “Duh celaka aku, kenapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini agar bisa mengubur mayat saudaraku ini.”

Lalu ia pun melakukan seperti apa yang dilakukan oleh burung gagak tadi. Ia mulai menggali tanah dan menguburkan mayat saudaranya ke dalam tanah.

Mendengar kabar kematian Habil, Nabi Adam pun bersedih. Maka Allah memberi kepadanya anak yang bernama Syits. Syits artinya adalah pemberian Allah. Nabi Adam dan Hawa memberinya nama Syits karena ia terlahir setelah terbunuhnya Habil.

Kisah Nabi Adam Wafat dan Wasiat Kepada Anaknya

Telah dituliskan bagi Nabi Adam baginya umur seribu tahun. Ketika Adam akan meninggal dunia, ia berpesan kepada anaknya, Syits. Adam mengajarkan kepadanya waktu-waktu siang dan malam serta mengajarinya ibadah di waktu itu. Adam juga memberi tahu kepadanya bahwa akan terjadi topan setelah itu.

Ketika Nabi Adam menghadapi sakaratul maut, maka ia berkata kepada anak-anaknya : “Wahai anak-anakku! Aku sangat ingin sekali mencicipi buah surga.”

Maka mereka mulai pergi mencarikan buah surga untuk ayahnya. Tiba-tiba mereka bertemu dengan para Malaikat yang membawa kain kafan dan kapas yang dibubuhi minyak wangi untuk Nabi Adam, dan juga membawa kapak, sekop, serta cangkul.

Para Malaikat tersebut berkata kepada anak-anak Adam : “Wahai anak-anak Adam, apa yang kalian cari? Apa yang kalian mau? Mau kemana kalian pergi?”

Mereka menjawab : “Bapak kami sakit, dia ingin makan buah dari surga.”

Para malaikat berkata : “Pulanglah, karena ajal bapak kalian telah tiba.”

Beberapa saat kemudian, para Malaikat sampai. Hawa yang melihat dan mengenali mereka langsung berlindung kepada Nabi Adam.

Adam berkata kepada Hawa : “Menjauhlah dariku. Aku pernah melakukan kesalahan karenamu. Biarkan aku dengan para Malaikat Tuhanku itu.”

Lalu para Malaikat mulai mencabut nyawanya, memandikannya, mengkafaninya, memberinya wewangian, menyiapkan kuburnya, membuat liang lahat di kuburnya, dan menshalatinya.

Kemudian mereka masuk ke kuburnya dan meletakkan Nabi Adam di dalamnya dan meletakkan bata di atasnya. Lalu, mereka keluar dari kubur dan menimbunnya dengan batu. Mereka berkata : “Wahai anak turun Adam, ini adalah sunnah kalian.”

Pada saat Nabi Adam wafat, matahari dan bulan sempat mengalami gerhana selama tujuh hari tujuh malam. Selang satu tahun Nabi Adam meninggal dunia, maka Hawa pun juga meninggal dunia.

TAMAT

Related Posts :