Ceramah Tentang Bersyukur Beserta Dalilnya

Ceramah Tentang Bersyukur Beserta Dalilnya
Ceramah Tentang Bersyukur Beserta Dalilnya

Segala puji bagi Allah ta’ala Tuhan semesta alam, semoga shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada teladan kita Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam, keluarganya, para sahabatnya, serta para pengikutnya hingga akhir zaman.

Pernahkan Anda dimintai untuk ceramah secara mendadak? Tentu Anda akan kebingungan dalam membuat materi, bukan? Nah, pada artikel ini penulis ingin berbagi sedikit contoh materi ceramah yang cocok disampaikan dalam setiap acara, baik itu acara formal, semi-formal, ataupun non-formal.

Materi atau tema ceramah yang penulis hendak bawakan pada postingan kali ini adalah ceramah tentang bersyukur beserta dalilnya. Insya Allah, materi ceramah tentang bersyukur yang penulis contohkan adalah materi yang cukup ringan dan sangat cocok disampaikan di kalangan manapun.

Berikut ini naskah ceramah tentang bersyukur beserta dalilnya mulai dari pembukaan, isi, hingga salam penutup :

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. وَبَعْدُ

(Alhamdulillahi robbil-‘aalamiin, wash-sholaatu was-salaamu ‘ala asyrofil-ambiya-i wal-mursalin, sayyidina wa nabiyyina Muhammadin, wa ‘alaa aalihi wa shohbihi ajma’in. Wa ba’du)

Hadirin yang berbahagia, pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kepada Allah subhanahu wata'ala, yang mana Allah telah memberikan kepada kita semua kenikmatan berupa kesehatan dan kesempatan, sehingga dengan nikmat tersebut kita bisa berkumpul kembali di majelis yang mudah-mudahan diridhoi oleh Allah.

Yang kedua, semoga shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada suri tauladan kita Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam, keluarganya, para sahabatnya, serta para pengikut setianya hingga akhir zaman.

Sebelum penceramah masuk ke inti dari ceramah yang hendak penceramah sampaikan, penceramah hendak berwasiat terlebih dahulu khususnya pada diri penceramah sendiri dan umumnya kepada para hadirin yang hadir di majelis ini.

Isi wasiatnya yaitu marilah kita senantiasa menjalankan ketakwaan kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa dan marilah kita pertahankan ketakwaan kita hingga ajal menjemput. Allah subhanahu wata'ala berfirman :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim. [QS. Ali Imron ayat 102]

Hadirin yang berbahagia, pada kesempatan yang luar biasa ini, penceramah memohon izin berdiri di sini untuk membawakan ceramah tentang bersyukur beserta dalilnya. Mudah-mudahan ceramah tentang bersyukur yang penceramah bawakan mengingatkan kembali kepada kita betapa pentingnya untuk selalu bersyukur.

Hadirin yang berbahagia, pernahkan Anda memuji Allah saat memperoleh rezeki dari arah yang tidak terduga? Atau pernahkah Anda memuji Allah subhanahu wata'ala saat berhasil melalui suatu kesulitan?

Bila Anda pernah mengalaminya maka sesungguhnya apa yang Anda lakukan hanyalah salah satu unsur dari perbuatan syukur. Mengapa demikian? Karena, syukur yang ada di dalam ajaran Islam tidak hanya sekedar memuji Tuhan atas karunia yang diberikan, akan tetapi lebih dari itu.

Lalu, sesungguhnya seperti apakah bersyukur yang sempurna menurut ajaran Islam?

Di dalam agama Islam, bersyukur itu tidak hanya diucapkan dengan lisan. Akan tetapi bersyukur itu yang pertama adalah dengan hati, yang kedua dengan lisan, dan yang ketiga adalah dengan perbuatan.

Bersyukur dengan hati adalah sadar dan mengetahui bahwa segala karunia yang kita peroleh sesungguhnya berasal dari Allah subhanahu wata'ala, serta menyadari akan nikmat-nikmat yang diberikan dan tidak melupakannya.

Bersyukur dengan lisan adalah memuji dan menyanjung Allah subhanahu wata'ala selaku Tuhan yang memberikan nikmatnya kepada kita dengan mengucapkan kalimat tahmid.

Sedangkan bersyukur dengan anggota badan ialah merealisasikan kesyukuran kita dengan melaksanakan ibadah dan amal shalih karena Allah semata.

Hadirin yang berbahagia, setelah kita mengetahui bahwasanya ternyata bersyukur itu haruslah dengan hati, lisan dan perbuatan, maka sudahkah kita melakukannya dalam kehidupan sehari-hari?

Faktanya, masih sedikit diantara kita yang benar-benar bersyukur kepada Allah subhanahu wata'ala. Jangankan bersyukur dengan perbuatan, bersyukur dengan hati dan lisan saja sangat jarang kita lakukan, apalagi dengan perbuatan.

Di dalam Al-Quran, Allah subhanahu wata'ala telah berfirman :

وَقَلِيْلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُوْرُ

Sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang banyak bersyukur. [QS. Saba’ ayat 13]

Pada ayat di atas, Allah sendiri yang menyatakan bahwa hamba-Nya yang banyak bersyukur itu sangatlah sedikit. Dan memang demikianlah faktanya.

Buktinya masih banyak diantara kita yang lebih banyak mengeluhnya dibandingkan ingat dan menyadari betapa banyak nikmat yang Allah berikan. Kita selalu menuntut ini dan itu, mengeluhkan dan menyalahkan keadaan, sehingga lupa dan tidak sadar bahwa Allah telah memberikan banyak hal kepada kita.

Apabila hati kita saja belum mampu menyadari nikmat-nikmat yang Allah berikan, lalu bagaimana mungkin kita bisa bersyukur dengan lisan dan perbuatan?

Hadirin yang berbahagia, saya yakin dan berhusnudzon bahwa banyak diantara kita adalah orang yang rajin beribadah dan senantiasa beramal sholih.

Tetapi, yang menjadi pertanyaan adalah apakah kita melakukan hal demikian adalah dalam rangka bersyukur atas karunia yang Allah berikan?

Ataukah kita melakukannya karena hanya sebuah kebiasaan? 

Atau bahkan mungkin kita melakukannya karena keterpaksaan?

Bila ibadah dan amal sholih yang kita jalankan adalah karena kesadaran dan kesyukuran kita akan nikmat-nikmat dari Allah, maka pasti kita akan ringan dalam menjalankannya bahkan penuh dengan rasa bahagia.

Sebaliknya, bila itu semua kita lakukan karena keterpaksaan maka kita akan berat dalam menjalankannya.

Hadirin yang berbahagia, pada ceramah tentang bersyukur ini, penceramah ingin membawakan sebuah kisah Bani Isroil di dalam surat Al-Baqarah.

Di dalam surat Al-Baqarah dikisahkan bahwa Bani Isroil adalah salah satu kaum yang diberikan banyak kenikmatan oleh Allah subhanahu wata'ala.

Diantara kenikmatan itu adalah ketika Firaun mengejar dan hendak menyiksa mereka, maka Allah selamatkan mereka dari kejaran Firaun dan bala tentaranya. Allah juga belahkan lautan untuk mereka agar mereka bisa lolos dari kejaran Firaun. Tatkala mereka sudah berhasil menyeberangi lautan, maka Allah tenggelamkan Firaun dan bala tentaranya yang masih berada di tengah laut yang terbelah. Firaun dan bala tentaranya pun tenggelam dan mati tanpa sisa.

Namun, bukannya bersyukur, akan tetapi mereka malah melakukan pembangkangan yang baru. Mereka menyembah patung anak lembu yang dibuat oleh Samiri dari emas. Parahnya, mereka melakukan hal itu ketika Nabi mereka yaitu Musa diutus oleh Allah untuk menerima Taurat selama empat puluh hari. Ketika Nabi Musa pulang menemui mereka, ia menyuruh mereka yang bersalah untuk bertaubat. Allah pun menerima taubat dan memaafkan perbuatan mereka. Hal demikian Allah lakukan agar mereka bersyukur.

Setelah Allah terima taubat mereka, lagi-lagi bukannya bersyukur mereka malah semakin lancang kepada Nabi Musa. "Wahai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu hingga kami melihat Allah dengan jelas." Ucap mereka kepada Musa saat sedang bercakap-cakap dengan Allah.

Tentu ucapan ini membuat Allah murka, maka Allah subhanahu wata'ala pun menghukum mereka dengan sambaran petir yang membuat mereka semua mati. Meskipun demikian, Allah tetap ingin memberikan kesempatan sekali lagi kepada mereka. Maka Allah pun membangkitkan mereka dari kematiannya atas permohonan Nabi Musa. Mereka bahkan saling melihat satu sama lain ketika dibangkitkan dari kematiannya. Semua itu tidak lain dan tidak bukan dilakukan oleh Allah agar mereka mau bersyukur.

Tidak sampai disitu saja nikmat yang Allah turunkan kepada mereka. Ketika mereka kepanasan karena sengatan matahari, Allah juga memberikan naungan kepada mereka agar mereka tidak kepanasan. Selain itu, Allah juga turunkan “manna” dan “salwa” untuk makanan mereka agar mereka tidak perlu repot-repot mengolah makanan. Dan tentunya masih banyak lagi kenikmatan yang Allah berikan kepada mereka selain yang barusan saya ceritakan.

Akan tetapi bukannya mereka bersyukur atas nikmat-nikmat tersebut, mereka malah kufur bahkan membunuh setiap para Nabi yang datang untuk membimbing mereka. Akhirnya Allah pun murka kepada mereka. Allah juga menimpakan kehinaan dan nista kepada mereka.

Hal demikian adalah dikarenakan mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas.

Hadirin yang berbahagia, dari kisah bani Isroil yang penceramah sampaikan, ternyata disitu kita belajar bahwa Allah itu sangatlah baik kepada hamba-Nya. Bahkan Allah banyak sekali memberikan kesempatan lagi dan lagi agar kita menyadari betapa banyak nikmat yang telah Ia berikan. Hanya saja kita sebagai hamba-Nya lebih banyak lupa dibandingkan ingat dan bersyukur atas kebaikan-Nya.

Hadirin yang berbahagia, salah satu tips yang hendak penceramah berikan agar kita bisa senantiasa bersyukur adalah dengan melihat orang yang saat ini berada dibawah kita. Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda :

انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ

Lihatlah orang yang ada di bawah kalian, dan janganlah kalian melihat orang yang di atas kalian. Karena sesungguhnya hal itu lebih pantas agar kalian tidak merasa kurang terhadap nikmat yang Allah berikan. [HR. Tirmidzi]

Bisa jadi dengan kita melihat orang yang saat ini sedang berada dibawah kita, kita tersadar bahwa ternyata apa yang Allah berikan saat ini merupakan nikmat yang banyak.

Setelah kita ingat dan tersadar, cobalah untuk mensyukuri nikmat tersebut dengan memuji-Nya dan memperbanyak ibadah kepada-Nya. Agar nikmat yang saat ini telah Allah berikan ditambah lagi oleh Allah dengan nikmat yang lebih melimpah.

Disebutkan di dalam Al-Quran bahwa Allah subhanahu wata'ala berfirman :

لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.” [QS. Ibrahim ayat 7]

Hadirin yang berbahagia, bisa jadi Allah tidak menambah nikmat-Nya kepada kita karena kita kurang bersyukur dengan nikmat yang saat ini kita peroleh. Allah bisa saja menambah nikmat kepada kita dengan mudah. Akan tetapi hanya kitanya saja yang belum siap dengan tambahan nikmat tersebut.

Nikmat sedikit yang saat ini kita peroleh saja belum bisa kita syukuri. Apalagi nikmat yang banyak dan melimpah.

Bisa jadi Allah tahan nikmat tersebut kepada kita karena Allah tidak mau bila kita diberikan nikmat yang lebih banyak kita justru semakin ingkar, sombong, tidak puas, dan juga tamak.

Di dalam sebuah hadits disebutkan, bahwa Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersbada :

مَنْ لَمْ يَشْكُر الْقَلِيْلَ لَمْ يَشْكُر الْكَثِيْرَ

Barang siapa yang belum mensyukuri nikmat yang sedikit, maka belum mensyukuri nikmat yang banyak. [Shahih Targhib]

Oleh karena itu hadirin yang berbahagia, syukurilah nikmat apapun yang Allah berikan meskipun itu nikmat yang sedikit. Sadarilah bahwa apapun yang saat ini kita peroleh dan kita capai adalah nikmat dari Allah subhanahu wata'ala. Jangan sampai kita lupa dan lalai dari nikmat-nikmat tersebut, sehingga membuat hati kita lupa untuk bersyukur.

Yang terakhir hadirin, pada materi ceramah tentang bersyukur ini, penceramah ingin menyampaikan salah satu contoh teladan yang patut kita jadikan keteladanan dalam bersyukur, yaitu Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam.

Beliau itu meskipun sudah diampuni dosa-dosanya oleh Allah subhanahu wata'ala akan tetapi sangat luar biasa dalam menjalankan ibadah dan amal sholeh.

Suatu ketika beliau pernah melaksanakan shalat malam dengan waktu yang sangat lama hingga kaki beliau membengkak. Padahal seandainya beliau itu tidak melakukan hal yang demikian tetap saja dosa beliau juga sudah diampuni oleh Allah.

Ketika beliau ditanya mengapa melakukan hal demikian maka beliau pun menjawab :

أَفَلَا أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْدًا شَكُورًا

Yang artinya : “Apakah tidak boleh jika aku menjadi seorang hamba yang bersyukur?”

Dari kisah tersebut dapat kita pahami bahwa Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam melaksnakan ibadah dan amal sholeh adalah dalam rangka bersyukur kepada Allah atas nikmat yang diberikan.

Oleh karena itu hadirin, sudahkah kita seperti beliau dalam mensyukuri nikmat-nikmat dari Allah? Sudahkah kita bersyukur dengan hati, lisan dan perbuatan kita? Apabila belum mari kita berusaha untuk senantiasa bersyukur atas nikmat apapun yang diberikan.

Demikian ceramah tentang bersyukur beserta dalilnya yang dapat penceramah sampaikan. Semoga ceramah tentang bersyukur kepada Allah ini dapat menyadarkan kepada kita agar senantiasa bersyukur kepada Allah ta’ala. Amin ya Robbal Alamin.

Kurang lebihnya penceramah mohon maaf. Akhirul kalam…

وَاَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Ceramah Tentang Bersyukur Beserta Dalilnya"

Post a Comment

Berkomentarlah dengan komentar yang mencerminkan seorang muslim yang baik :)