Hadits Arbain Ke 4 Latin dan Artinya

Hadits Arbain Ke 4 Latin dan Artinya

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, shalawat dan salam semoga tetap atas Nabi kita Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam, keluarganya, para sahabatnya, beserta para pengikutnya.

Postingan kali ini kita akan share artikel yang berisi hadits arbain yang ke 4 latin dan artinya secara lengkap. Sebagaimana judul postingan kali ini yaitu : Hadits Arbain Ke 4 Latin dan Artinya.

Anda tidak perlu khawatir apabila Anda kesulitan membaca Arab pada hadits arbain yang ke 4 ini dihadapan para pendengar. Karena tersedia pula hadits arbain ke 4 versi latinnya.

Sebelum membacakannya dihadapan para pendengar, Anda bisa berlatih dengan membaca latinnya terlebih dahulu sembari menyocokkan dengan teks Arabnya. Jangan lupa juga untuk melatih pengucapan aksen Arab Anda dengan baik agar tidak terkesan kaku ketika membacakan hadits.

Selain dipaparkan teks arab hadits arbain ke 4 latin dan artinya, akan kami lengkapi pula dengan penjelasan hadits serta faedah atau pelajaran apa saja yang bisa diambil pada hadits tersebut.

Tujuannya adalah agar para pendengar yang mendengar hadits arbain ke 4 yang Anda bawakan mendapatkan manfaat lebih dari ceramah yang Anda bawakan.

Sekilas Tentang Hadits Arbain Ke 4

Tahukah kamu? Hadits arbain nawawi yang ke 4 ini adalah hadits yang membahas tentang proses penciptaan manusia dan takdir yang telah Allah tetapkan untuk manusia sebelum dilahirkan.

Nah, bagaimanakah proses penciptaan manusia dalam kandungan menurut hadits arbain yang ke 4? Dan apa sajakah takdir yang Allah tetapkan untuk manusia sebelum mereka dilahirkan? Apakah kamu penasaran dengan isi haditsnya?

Dari pada kamu penasaran tentang isi hadits arbain nawawi yang ke 4 ini mari kita pelajari bersama teks arab hadits arbain ke 4 latin dan artinya full yang dilengkapi dengan penjelasan serta faedah haditsnya.

Teks Hadits Arbain Ke 4 Arab

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوْقُ : إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ   ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ. فَوَ اللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ  الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا

Teks Hadits Arbain Ke 4 Latin

‘An Abi Abdir-rohmaan Abdillah ibni Mas’uud radhiyalloohu ‘anhu, qoola : Haddatsanaa Rasulullahi shallallaahu 'alaihi wasallam wahuwa shoodiqul-mashduuq : Inna ahadakum yujma’u kholqohu fii bathni ummihi arba’iina yauman nuthfah. Tsumma yakuunu ‘alaqotan mitsla dzaalik. Tsumma yakuunu mudhghotan mitsla dzaalik. Tsumma yursalu ilaihil-malaku fatanfukhu fiihir-ruuh. Wa yu’maru bi arba’i kalimaat : bikatbi rizqihi wa ajalihi wa amalihi wa syaqiyyyun au sa’iid. Fawalloohu alladzi laa ilaaha ghoiruhu, inna ahadakum la ya’malu bi’amali ahlil-jannah hatta maa yakuunu bainahu wa bainahaa illa dziroo’un fayasbiqu ‘alaihil-kitaabu faya’malu bi’amali ahlin-naari fa yadkhuluhaa. Wa inna ahadakum laya’malu bi’amali ahlin-naari hatta maa yakuunu bainahu wa bainahaa illa dziroo’un fayasbiqu ‘alaihil-kitaabu faya’malu bi’amali ahlil-jannati fayadkhuluhaa.

Arti Hadits Arbain Ke 4

Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radiallahuanhu beliau berkata : Telah menceritakan kepada kami yaitu Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam dan beliau adalah orang yang benar dan dibenarkan : Sesungguhnya kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya berbentuk nuthfah (setetes mani) selama empat puluh hari, kemudian menjadi setetes darah selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ruh ditiupkan kepadanya dan dia diperintahkan untuk menuliskan empat takdir : yaitu dituliskan takdir rezekinya, takdir ajalnya, takdir amal perbuatannya dan takdir celaka atau bahagianya. Demi Allah yang tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain-Nya, sesungguhnya di antara kalian ada yang mengamalkan amalan penduduk surga hingga jarak antara dirinya dengan surga hanya tinggal sehasta, akan tetapi karena telah ditetapkan takdir untuknya, akhirnya dia mengamalkan amalan penduduk neraka maka masuklah dia ke dalam neraka. Sesungguhnya ada di antara kalian yang mengamalkan amalan penduduk neraka hingga jarak antara dirinya dengan neraka tinggal sehasta akan tetapi karena telah ditetapkan takdir untuknya, akhirnya dia pun mengamalkan amalan penduduk surga maka masuklah dia ke dalam surga.

Penjelasan Hadits Arbain Ke 4

1. Benar Dan Dibenarkan

Sebelum menyampaikan hadits, Abdullah bin Mas’ud menyebutkan terlebih dahulu bahwa Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam adalah seorang yang benar dan dibenarkan. Lantas, apakah maksud dari benar dan dibenarkan?

Maksud dari kata benar yang dikatakan oleh Abdullah bin Mas’ud adalah bahwa apapun yang dikatakan Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam itu adalah perkataan yang benar atau jujur.

Tidak hanya benar, akan tetapi yang diucapkan Rasulullah itu juga dibenarkan. Maksudnya adalah bahwa beliau adalah orang yang selalui dibenarkan terhadap wahyu yang beliau bawa.

Lantas mengapa Abdullah bin Mas’ud perlu menyampaikan hal tersebut sebelum membacakan hadits?

Hal ini dikarenakan hadits yang hendak ia bawakan adalah hadits yang berkaitan dengan hal ghaib. Tujuannya adalah untuk meyakinkan bahwa hal ghaib yang disampaikan oleh Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam adalah benar wahyu dari Allah, bukan hasil imajinasi ataupun mengarang.

2. Proses Penciptaan Manusia

Hadits arbain ke 4 ini dimulai dengan membicarakan proses penciptaan manusia.

Pada mulanya manusia berasal dari dua mani yang dikumpulkan di dalam rahim. Mani tersebut berasal dari laki-laki dan mani yang satunya berasal dari perempuan. Dengan kuasa Allah dari setetes mani itulah manusia diciptakan oleh Allah. Sebagaimana firman Allah ta’ala :

خُلِقَ مِنْ مَّاۤءٍ دَافِقٍۙ

Dia diciptakan dari air (mani) yang memancar, [QS. Ath-Thariq ayat 6]

Nuthfah yang berada di dalam rahim tersebut tak ubahnya berupa nuthfah hingga 40 hari. Setelah berproses selama 40 hari berubahlah setetes mani tersebut menjadi darah.

Lalu darah itu pun tak ubahnya berupa darah selama 40 hari. Setelah berproses selama 40 hari ia pun menjadi segumpal daging.

Kemudian, setelah daging itu dibentuk hingga sempurna selama 40 hari maka ditiupkanlah ruh ke dalamnya.

Adapun tiga tahapan penciptaan manusia mulai dari setetes mani, sampai menjadi darah, hingga menjadi segumpal daging telah disebutkan di dalam Al-Quran :

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنْ كُنْتُمْ فِيْ رَيْبٍ مِّنَ الْبَعْثِ فَاِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُّطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُّضْغَةٍ مُّخَلَّقَةٍ وَّغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِّنُبَيِّنَ لَكُمْۗ

Wahai manusia, jika kamu meragukan (hari) kebangkitan, sesungguhnya Kami telah menciptakan (orang tua) kamu (Nabi Adam) dari tanah, kemudian (kamu sebagai keturunannya Kami ciptakan) dari setetes mani, lalu segumpal darah, lalu segumpal daging, baik kejadiannya sempurna maupun tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepadamu (tanda kekuasaan Kami dalam penciptaan) . . .  [QS. Al-Hajj ayat 5]

3. Ditiupkan Ruh

Pembahasan selanjutnya dari hadits arbain ke 4 ini adalah tentang ditiupkannya ruh.

Ketika manusia (janin) telah melalui 120 hari mulai dari nuthfah, darah, hingga menjadi segumpal daging, maka Allah subhanahu wata'ala mengutus malaikat untuk meniupkan ruh ke dalamnya.

Sehingga, manusia yang semula mati pun menjadi hidup. Inilah peristiwa kematian dan kehidupan pertama yang dialami oleh manusia.

Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa manusia mengalami dua kali hidup dan dua kali kematian :

قَالُوْا رَبَّنَآ اَمَتَّنَا اثْنَتَيْنِ وَاَحْيَيْتَنَا اثْنَتَيْنِ

Mereka menjawab, “Wahai Tuhan kami, Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), [QS. Ghafir ayat 11]

Kematian pertama adalah ketika sebelum janin ditiupkan ruh.

Kehidupan pertama adalah ketika ditiupkannya ruh.

Kematian kedua adalah ketika wafat di dunia.

Dan kehidupan kedua adalah ketika hari dibangkitkan.

4. Dicatatnya 4 Takdir

Setelah malaikat Allah utus untuk meniupkan ruh, maka Allah memerintahkan malaikat untuk menuliskan empat takdir bagi manusia ini, yaitu : takdir tentang rezekinya, ajalnya, amalnya, dan celaka serta bahagianya.

Yang dimaksud takdir celaka dan bahagia pada hadits arbain ke 4 ini ialah takdir dari akhir hidupnya. Sehingga meskipun pada awal ia dilahirkan hingga tua mengamalkan amal shalih tetapi ia telah ditakdirkan sebagai orang yang celaka maka di akhir hidupnya ia akan mengamalkan amalan penduduk neraka hingga ia mati dalam keadaan tersebut.

Manusia itu terbagi menjadi empat golongan :

Pertama, orang yang baik di awal hingga akhir hidupnya.

Kedua, orang yang buruk di awal hingga akhir hidupnya.

Ketiga, orang yang baik di awal namun buruk di akhir hidupnya.

Keempat, orang yang buruk di awal namun baik di akhir hidupnya.

5. Takdir Yang Telah Mendahului

Akhir dari pembahasan hadits arbain ke 4 adalah tentang orang yang ditakdirkan celaka dan orang yang ditakdirkan bahagia.

Pertama, ada seorang yang pada mulanya mengamalkan amalan penghuni surga hingga ia hampir berhasil meraih surga itu.

Namun sayang, takdir celaka bagi orang ini telah ditentukan sebelum ia dilahirkan. Akhirnya, di saat kematiannya ia dalam keadaan mengamalkan amalan penghuni neraka. Sehingga ia pun masuk ke dalam neraka.

Kedua, dikisahkan pula tentang seorang yang pada mulanya mengamalkan amalan penghuni neraka hingga jarak antara dirinya dengan neraka hanya tinggal sehasta.

Akan tetapi, sungguh beruntung orang ini. Karena takdir bahagia telah ditentukan sebelum ia dilahirkan, akhirnya di saat kematiannya ia dalam keadaan mengamalkan amalan penghuni surga. Sehingga ia pun masuk ke dalam surga.

Nah, bagaimanakah kita menyikapi hadits ini? Apakah kita berputus asa saja karena toh takdir telah ditentukan? Jawabannya insya Allah akan dibahas pada pembahasan faedah hadits arbain ke 4.

Faedah Hadits Arbain Ke 4

Pertama, proses penciptaan manusia secara bertahap di dalam perut ibu merupakan pelajaran bagi kita bahwa Allah subhanahu wata'ala mengetahui keadaan makhluk-Nya dan apa yang dialami oleh makhluknya semasa hidupnya.

Proses penciptaan manusia secara bertahap juga merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada seorang ibu, karena Allah bisa saja menciptakannya langsung sekaligus.

Selain itu, pelajaran yang bisa kita ambil dari peristiwa ini adalah setiap hal itu mengalami yang namanya proses untuk menjadi sesuatu.

Kedua, pada hadits arbain ke 4 disebutkan bahwa Allah memerintahkan malaikat untuk meniupkan ruh dan menuliskan empat takdir.

Artinya dari hadits ini dapat kita ketahui bahwa ada malaikat khusus yang ditugaskan oleh Allah untuk meniupkan ruh ke dalam janin.

Ketiga, takdir rezeki, ajal, amal, dan kebahagiaan telah ditentukan oleh Allah dan kita wajib mengimaninya.

Sebagai seorang yang beriman kepada takdir rezeki tentunya kita tidak perlu mengkhawatirkan soal rezeki karena ia telah ditentukan oleh Allah. Tugas kita hanyalah berusaha untuk mendapatkan rezeki tersebut.

Demikian pula takdir ajal yang telah ditentukan. Kita tidak perlu khawatir didatangi oleh ajal. Karena kita tidak tahu kapan datangnya ajal itu kepada kita. Tugas kita hanyalah mempersiapkan diri untuk menghadapi ajal tersebut agar mati dalam keadaan husnul khotimah.

Adapun takdir amal meskipun kita telah ditakdirkan apa amalan yang akan kita kerjakan, bukan berarti kita berpasrah dengan takdir tersebut. Justru kita harus berusaha untuk senantiasa beramal dengan amalan penghuni surga.

Keempat, sebagaimana telah disebutkan pada hadits arbain nawawi ke 4, memang betul takdir bahagia dan celaka telah ditentukan oleh Allah. Ada yang awalnya baik tapi di akhir hidupnya ia ditakdirkan celaka. Begitu pula sebaliknya.

Nah, cara menyikapinya adalah hendaknya kita tidak berputus asa dengan terus beramal sholih. Karena kita tidak akan pernah tahu bagaimana akhir dari pada hidup kita.

Sebagaimana kita tidak tahu seberapa banyak jatah rezeki kita, kita juga tidak tahu akhir dari hidup kita apakah celaka ataukah bahagia.

Oleh karena itu tugas kita sama sebagaimana cara kita mengimani takdir rezeki, yaitu terus berusaha mengamalkan amalan penghuni surga dengan penuh keikhlasan sembari berharap kita mati dalam keadaan mengamalkan amalan penghuni surga.

Ingat! Kita tidak tahu apa takdir kita, apakah celaka ataukah beruntung. Oleh karena itu tetaplah beramal dengan ikhlash dan jangan berputus asa.

Kelima, kita harus menggabungkan rasa takut dan juga rasa harap. Takut disini berarti ketika kita beramal shalih kita merasa takut apabila kita mati dalam keadaan buruk.

Sehingga dengan rasa takut tersebut kita akan senantiasa mempertahankan amal shalih kita.

Kita tidak boleh terjebak dengan banyaknya amal sholih yang telah kita kerjakan. Karena kita tidak tahu bagaimana akhir hidup kita. Maka, diperlukan adanya rasa takut agar kita bisa senantiasa mempertahankan amal sholih hingga ajal menjemput.

Adapun bila kita telah banyak melakukan perbuatan maksiat hendaknya tidak berputus asa dan putus harapan.

Selama masih diberikan kehidupan masih ada harapan untuk masuk ke dalam surga asalkan mau bertaubat dari sekarang.

Oleh karena itu jangan sampai berfikir “Saya sudah terlanjur banyak dosa, mana mungkin Allah mengampuni dosa saya? Kalo begitu lebih baik saya meneruskan perbuatan dosa saya sampai mati.”  Ini namanya putus asa.

Sebagai seorang yang beriman kepada takdir, kita harus tetap optimis untuk merubah diri menjadi lebih baik.

Jangan menunggu ajal menjemput karena tidak ada kesempatan untuk bertaubat ketika ajal telah tiba. Mumpung masih diberikan kehidupan hendaknya kita merubah diri kita mulai dari sekarang menjadi lebih baik.

Keenam, pada akhir pembahasan hadits arbain ke 4 dan artinya dapat kita ketahui bawah amal seseorang itu tergantung dari akhirnya.

Meskipun awalnya baik namun apabila ketika ajalnya menjemput ia adalah orang yang buruk, maka ia akan dimasukkan ke dalam neraka.

Oleh karena itu apabila kita mengamalkan amalan penghuni surga atau beramal sholih harus disertai dengan ikhlash. Tujuannya agar Allah akhirkan kehidupan kita dengan kematian yang baik. Di dalam Al-Quran disebutkan :

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اِنَّا لَا نُضِيْعُ اَجْرَ مَنْ اَحْسَنَ عَمَلًاۚ

Sesungguhnya mereka yang beriman dan mengerjakan kebajikan, Kami benar-benar tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang mengerjakan perbuatan baik. [QS. Al-Kahfi ayat 30]

Nah, apabila kita betul-betul mengerjakan amal sholih dengan ikhlas maka Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala kita. Sehingga Allah akan menjadikan akhir hidup kita adalah akhir yang baik.

Sebaliknya, apabila seseorang mengerjakan amal sholih tanpa ikhlas dan dicampuri dengan riya’, maka Allah tidak menerima amalannya.

Sehingga meskipun ia tampaknya terlihat baik, namun hatinya buruk karena tidak ada keikhlasan di dalamnya. Sehingga Allah akhirkan hidupnya dalam keadaan mengamalkan amalan penghuni neraka. Na’udzubillahi min dzalik.

Penutup

Demikianlah pembahasan mengenai hadits arbain ke 4 latin dan artinya lengkap dengan penjelasan hadits dan juga faedah hadits.

Semoga kita dimudahkan oleh Allah dalam mengamalkan amalan penghuni surga dengan penuh ikhlash. Dan semoga kita ditakdirkan oleh Allah yang mati dalam keadaan mengamalkan amalan penghuni surga sehingga Allah memasukkan kita ke dalam surga. Amiin.

Ditulis Oleh : Adam Rizkala

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Hadits Arbain Ke 4 Latin dan Artinya"

Post a Comment

Berkomentarlah dengan komentar yang mencerminkan seorang muslim yang baik :)