Pengertian Syukur Menurut Bahasa dan Istilah dalam Islam

Pengertian Syukur

Bismillah, Alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah ta’ala atas segala nikmat yang Ia berikan, kemudian semoga shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad, keluarganya, para sahabatnya, serta para pengikutnya.

Pada pelajaran akhlak kali ini kita akan mempelajari bersama tentang apa itu syukur, mulai dari pengertian syukur baik secara bahasa maupun istilah, bagaimana cara bersyukur kepada Allah dan cara bersyukur kepada manusia, dalil-dalil tentang syukur, dan keutamaan bersyukur.

A. Pengertian Syukur Menurut Bahasa dan Istilah

Pengertian syukur menurut bahasa berarti mengakui kebaikan dan menyiarkannya. Syukur berasal dari bahasa Arab. Dikatakan dalam bahasa Arab :

شَكَرَ، يَشْكُرُ، شُكْرًا، وَشُكُوْرًا، وَشُكْرَانًا

Sedangkan pengertian syukur menurut istilah adalah berusaha dalam mendermakan ketaatan, bersamaan dengan menjauhi maksiat baik dalam keadaan menyendiri maupun terang-terangan.

Ada juga yang mengatakan bahwa syukur adalah : ”Mengakui adanya kekurangan dalam berterimakasih pada yang memberi nikmat.”

Al-Faraa’ mengatakan : “Syukur adalah mengakui kebaikan dan menceritakan kebaikan tersebut.”

Maka dapat dikatakan bahwa : “Syukur adalah menampakkan jejak nikmat yang Allah berikan kepada hamba dengan mengimaninya dalam hati, memuji dan menyanjung dengan lisan, serta menjalankan ibadah dan ketaatan dengan anggota badan.”

B. Bagaimana Cara Bersyukur?

Bagaimana Cara Bersyukur Kepada Allah?

Sebagaimana pengertian bersyukur yang telah kita baca di atas, bersyukur kepada Allah tidak akan terlepas dari tiga hal, yaitu :

1. Bersyukur dengan hati

2. Bersyukur dengan lisan

3. Bersyukur dengan anggota badan

Pertama, bersyukur dengan hati. Bersyukur dengan hati adalah mengetahui bahwa Allah lah yang telah memberi segala nikmat kepada kita.

Pada hakikatnya segala nikmat yang kita peroleh bersumber dari Allah. Allah ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ ۚ هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ فَأَنَّىٰ تُؤْفَكُونَ

Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kamu dari langit dan bumi? Tidak ada Tuhan selain Dia; maka mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)? [QS. Fathir ayat 3]

Kedua, bersyukur dengan lisan. Lisan adalah cerminan atas apa yang terdapat di dalam hati manusia. Apabila hati dipenuhi dengan rasa syukur kepada Allah maka lisan akan tergerak untuk memuji serta menyanjung-Nya.

Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam sebagai teladan terbaik mencontohkan bagaimana beliau selalu memuji Allah dalam setiap keadaan.

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ قَالَ: بِاسْمِكَ أَمُوتُ وَأَحْيَا. وَإِذَا قَامَ قَالَ: الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam ketika menuju tempat tidurnya maka mengucapkan : “Dengan nama-Mu aku mati dan hidup”, dan ketika terbangun maka beliau mengucapkan : “Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya lah tempat kembali.” [HR. Bukhari no. 6312]

كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ قَالَ: الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي أَطْعَمَنَا، وَسَقَانَا، وَكَفَانَا، وَآوَانَا فَكَمْ مِمَّنْ لَا كَافِيَ لَهُ، وَلَا مُؤْوِيَ

Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam ketika berbaring di tempat tidur beliau mengucapkan : “Segala puji bagi Allah yang telah memberi makan dan minum kepada kami, serta memberi kecukupan kepada kami, dan memberi tempat berlindung kepada kami, karena betapa banyak orang yang tidak mendapatkan kecukupan dan tempat berlindung.” [HR. Muslim no. 2715]

كَانَ إِذَا فَرَغَ مِنْ طَعَامِهِ، وَقَالَ مَرَّةً إِذَا رَفَعَ مَائِدَتَهُ قَالَ: الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي كَفَانَا وَأَرْوَانَا غَيْرَ مَكْفِيٍّ وَلَا مَكْفُورٍ. وَقَالَ مَرَّةً: الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّنَا غَيْرَ مَكْفِيٍّ وَلَا مُوَدَّعٍ وَلَا مُسْتَغْنًى رَبَّنَا

Dahulu, tatkala Nabi selesai dari makan, sekali waktu beliau membaca : “Segala puji bagi Allah yang telah memberi kecukupan kepada kami dan menghilangkan rasa haus kepada kami, bukan nikmat yang tidak dianggap atau diingkari.” Sekali waktu membaca : “Segala puji bagi Allah Rabb kami, bukan pujian yang tidak dianggap dan tidak dibutuhkan Tuhan kami.” [HR. Bukhari no. 5459]

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ يَتَهَجَّدُ قَالَ: اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ، أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ، لَكَ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ، نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ الْحَقُّ، وَوَعْدُكَ الْحَقُّ، وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ، وَقَوْلُكَ حَقٌّ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، وَالنَّبِيُّونَ حَقٌّ، وَمُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقٌّ، وَالسَّاعَةُ حَقٌّ، اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ، فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَوْ: لَا إِلَهَ غَيْرُكَ. قَالَ سُفْيَانُ: وَزَادَ عَبْدُ الْكَرِيمِ أَبُو أُمَيَّةَ: وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ

Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam tatkala berdiri di malam hari untuk shalat tahajjud beliau mengucapkan : “Ya Allah, milik-Mu lah segala puji, Engkaulah penegak langit dan bumi serta apa-apa yang ada di dalamnya, milik-Mu lah segala puji, milik-Mu lah kerajaan langit dan bumi dan apa-apa yang ada di dalamnya, milik-Mu lah segala puji, Engkaulah cahaya langit dan bumi dan apa-apa yang ada di dalamnya, milik-Mu lah segala puji, Engkaulah penguasa langit dan bumi, milik-Mu lah segala puji, Engkaulah yang benar dan janjimu adalah benar, pertemuan dengan-Mu adalah benar, perkataan-Mu benar, surga-Mu itu benar ada, neraka itu benar ada, para nabi itu benar, Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam itu benar, dan kiamat itu benar ada. Ya Allah hanya kepada-Mu lah aku berserah diri, hanya kepada-Mu lah aku beriman, hanya kepada-Mu lah aku bertawakkal, hanya kepada-Mu lah aku kembali, hanya dengan-Mu lah aku menghadapi musuh, dan hanya kepada-Mu lah aku berhukum. Maka ampunilah aku atas segala dosa yang telah aku lakukan dan yang mungkin akan aku lakukan, dosa yang aku lakukan sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Engkaulah yang Maha terdahulu dan Engkaulah yang Maha terakhir. Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau dan tiada daya upaya dan kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah. [HR. Bukhari no. 1120]

Ketiga, bersyukur dengan anggota badan. Bersyukur dengan anggota badan adalah melaksanakan amal shalih. Beramal shalih merupakan konsekuensi dari syukur terhadap nikmat yang diberikan. Bersyukur kepada Allah atas segala nikmat tidaklah sempurna kecuali dengan memenuhi lima perkara :

Pertama, mematuhi dan tunduk atas segala perintah-Nya

Kedua, mencintai Allah subhanahu wata’ala.

Ketiga, mengakui nikmat yang Ia berikan dan mengikrarkannya.

Keempat, memuji dan menyanjung Allah subhanahu wata'ala.

Kelima, tidak menggunakan nikmat yang Allah 'azza wajalla berikan dengan perkara yang Allah benci, bahkan hendaknya ia gunakan nikmat itu dengan apa yang Allah ridhai.

Muhammad bin Ka’ab mengatakan : “Syukur adalah bertakwa kepada Allah dan mengamalkan ketaatan pada-Nya.” [Tafsir Ath-Thabari : 10/354]

Ibnu Al-Qayyim mengatakan : “Pada dasarnya syukur adalah mengakui nikmat yang diberikan oleh Allah dengan cara tunduk pada-Nya, merendahkan diri, dan mencintai-Nya.”

Makna Syukur

Makna syukur terkumpul dalam tiga perkara, berikut ini ketiga makna syukur tersebut :

Pertama, adalah mengenal nikmat. Mengenal nikmat adalah mengingat-ingat tentang nikmat yang telah kita terima. Dengan mengingat nikmat yang telah diberikan inilah maka kita akan ingat terhadap siapa yang memberi nikmat tersebut.

Kedua, adalah menerima nikmat. Setelah kita ingat akan nikmat yang Allah berikan maka kita terima nikmat tersebut dengan hati yang ridha. Jangan sampai kita menyangka bahwa nikmat yang Allah berikan sangatlah sedikit.

Ketiga, adalah menyanjung yang memberi nikmat. Secara umum, yang dimaksud dengan menyanjung pemberi nikmat adalah dengan menyebutnya sebagai yang dermawan, mulia, baik, banyak memberi, dan lain sebagainya.

Adapun secara khusus adalah dengan tahadduts bin-ni’mah atau menceritakan nikmat yang telah kita terima. Allah ta’ala berfirman :

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan. [QS. Adh-Dhuha ayat 11]

Tahadduts Bin-Ni’mah

Tahadduts bin-ni’mah ini ada dua maksud, yang pertama adalah menggunakan nikmat tersebut untuk ketaatan kepada Allah, sedangkan yang kedua adalah menyebut-nyebut serta menghitung-hitung nikmat yang Allah berikan.

Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda :

مَنْ أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِ نِعْمَةً، فَإِنَّ اللهَ يُحِبُّ أَنْ يُرَى أَثَرُ نِعْمَتِهِ عَلَى خَلْقِهِ

Barang siapa yang Allah berikan nikmat, maka sesungguhnya Allah cinta bila jejak nikmatnya ditampakkan atas makhluk-Nya. [HR. Ahmad no : 19934]

مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ، لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ، وَمَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ، لَمْ يَشْكُرِ اللهَ. التَّحَدُّثُ بِنِعْمَةِ اللهِ شُكْرٌ، وَتَرْكُهَا كُفْرٌ، وَالْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ، ‌وَالْفُرْقَةُ ‌عَذَابٌ

Barang siapa yang tidak bersyukur pada hal yang sedikit, maka ia belum bersyukur pada hal yang banyak. Barang siapa yang belum bersyukur kepada manusia, maka ia belum bersyukur kepada Allah. Menceritakan nikmat Allah adalah syukur, dan meninggalkannya adalah kufur. Jama’ah itu rahmat dan perpecahan itu azab. [HR. Ahmad no : 18449]

‌كُلُوا، ‌وَاشْرَبُوا، وَتَصَدَّقُوا، وَالْبَسُوا، فِي غَيْرِ مَخِيلَةٍ وَلَا سَرَفٍ، إِنَّ اللهَ يُحِبُّ أَنْ تُرَى نِعْمَتُهُ عَلَى عَبْدِهِ

Makanlah dan minumlah, bersedekahlah, dan berpakaianlah, dengan tidak sombong ataupun melewati batas. Sesungguhnya Allah senang bila nikmatnya diperlihatkan atas hamba-Nya. [HR. Ahmad no : 6708]

Tahadduts bin-ni’mah atau menceritakan nikmat ini terbagi menjadi tiga tingkatan :

Pertama, adalah bersyukur terhadap nikmat dan menyanjungnya.

Kedua, adalah mengingkari nikmat dan menyembunyikannya.

Ketiga, adalah menunjukkan bahwa ia telah diberi nikmat padahal ia tidak diberi nikmat tersebut.

Tahadduts bin-ni’mah bukan berarti membeli pakaian yang mahal, mobil yang mewah, ataupun makanan yang terbaik. Tahadduts bin-ni’mah adalah apabila kita diberikan rezeki oleh Allah maka kita tampakkan rezeki tersebut sesuai dengan keluasan rezeki yang Allah berikan.

Dari Abu Ahwadh, dari bapaknya ia menuturkan :

أَتَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا قَشِفُ الْهَيْئَةِ، فَقَالَ: ‌هَلْ ‌لَكَ ‌مَالٌ؟ قَالَ: قُلْتُ: نَعَمْ قَالَ: مِنْ أَيِّ الْمَالِ؟ قَالَ: قُلْتُ: مِنْ كُلِّ الْمَالِ مِنَ الْإِبِلِ وَالرَّقِيقِ وَالْخَيْلِ وَالْغَنَمِ، فَقَالَ: إِذَا آتَاكَ اللهُ مَالًا فَلْيُرَ عَلَيْكَ

Aku mendatangi Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam dalam keadaan amburadul, maka beliaupun bersabda : “Apakah engkau mempunyai harta?” Aku menjawab : “Ya”. Beliau bersabda : “Dari mana saja harta itu?” Aku Menjawab : “Harta itu aku dapatkan dari unta, dari gandum, dari kuda, dan dari kambing.” Maka beliaupun bersabda : “Apabila Allah memberimu harta, maka perlihatkanlah atas dirimu.” [HR. Ahmad no : 15929]

Namun, bila Allah memberi kita rezeki yang hanya cukup untuk diri dan keluarga kita dan tidak diberi banyak keluasan maka kita cukupkan dengan menampakkan apa adanya dan tidak perlu membebani diri dengan hal yang tidak kita mampu.

Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersbada :

‌الْمُتَشَبِّعُ بِمَا لَمْ يُعْطَ كَلَابِسِ ثَوْبَيْ زُورٍ

Menampakkan kepuasan atas sesuatu yang sebenarnya tidak diberikan kepadanya sama halnya memakai dua pakaian kedustaan. [HR. Muslim no : 2130]

Kapankah Kita Menyembunyikan Nikmat?

Menceritakan nikmat diperintahkan oleh Allah dikalangan orang-orang shalih. Namun, apabila kita berada di kalangan orang-orang yang denki, iri, dan hasad maka hendaknya kita sembunyikan nikmat tersebut dan hal tersebut tidaklah termasuk kufur nikmat.

Bagaimana Cara Bersyukur Kepada Manusia?

Di dalam Islam kita juga diperintahkan untuk bersyukur kepada manusia atas kebaikan mereka kepada kita, khususnya bersyukur kepada kedua orang tua. Allah subhanahu wata'ala berfirman :

أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ

Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu [QS. Luqman ayat 14]

Para ulama mengatakan bahwa manusia yang paling berhak untuk disyukuri setelah Allah subhanahu wata'ala adalah kedua orang tua.

Bersyukur kepada manusia diperintahkan oleh Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam ketika mereka telah berbuat baik kepada kita. Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda :

مَنْ أُعْطِيَ عَطَاءً فَوَجَدَ فَلْيَجْزِ بِهِ، فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيُثْنِ بِهِ، فَمَنْ أَثْنَى بِهِ فَقَدْ شَكَرَهُ، وَمَنْ كَتَمَهُ فَقَدْ كَفَرَهُ

Barang siapa diberi suatu pemberian, apabila ia mempunyai sesuatu, maka balaslah. Apabila ia tidak mempunyai sesuatu maka pujilah. Barang siapa yang memuji maka sungguh ia telah bersyukur, dan barang siapa yang menyembunyikan maka sungguh ia telah kufur. [HR. Abu Dawud no. 4813]

Bersyukur kepada manusia adalah tanda kita bersyukur kepada Allah. Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersbada :

لَا يَشْكُرُ اللهَ مَنْ لَا يَشْكُرُ النَّاسَ

Tidak bersyukur kepada Allah orang yang tidak bersyukur kepada manusia. [HR. Abu Dawud no. 4811]

Bersyukur kepada manusia berbeda dengan bersyukur kepada Allah 'azza wajalla. Bersyukur kepada Allah mengharuskan ketundukan, merendahkan diri, dan ibadah. Sedangkan bersyukur kepada manusia hanya sekedar membalas kebaikan mereka dan mendoakan kebaikan kepada mereka. Bersyukur kepada manusia tidak boleh disertai dengan rasa tunduk, merendahkan diri, dan ibadah.

Allah subhanahu wata'ala adalah yang paling berhak untuk kita syukuri secara mutlak. Sedangkan bersyukur kepada manusia hanyalah cukup dengan membalas kebaikan mereka semampu kita.

Maka, apabila kita telah berbuat baik kepada orang lain maka tidak selayaknya kita berharap agar mereka bersyukur kepada kita. Bahkan yang kita harapkan adalah balasan dan pahala dari Allah 'azza wajalla. Allah ta’ala berfirman :

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا

Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. [QS. Al-Insan ayat 9]

C. Hukum Syukur dan Dalil-dalil Tentang Syukur

Syukur adalah salah satu kewajiban diantara kewajiban-kewajiban yang ada bagi setiap muslim. Berikut ini dalil-dalil tentang syukur yang menunjukkan wajibnya bersyukur :

Perintah Untuk Bersyukur

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. [QS. Al-Baqarah ayat 152]

أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ

Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu [QS. Luqman ayat 14]

لِيَتَّخِذْ أَحَدُكُمْ قَلْبًا شَاكِرًا، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، وَزَوْجَةً مُؤْمِنَةً، تُعِينُ أَحَدَكُمْ عَلَى أَمْرِ الْآخِرَةِ

Hendaknya kalian menjadi pemilik hati yang bersyukur, lisan yang senantiasa berzikir, istri yang beriman yang menolong kalian dalam urusan akhirat. [HR. Ibnu Majah no. 1856]

Tercelanya Meninggalkan Syukur

لِيَأْكُلُوا مِن ثَمَرِهِ وَمَا عَمِلَتْهُ أَيْدِيهِمْ ۖ أَفَلَا يَشْكُرُونَ

supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur? [QS. Yasin ayat 35]

Perintah Allah Kepada Nabi untuk Bersyukur

قَالَ يَا مُوسَىٰ إِنِّي اصْطَفَيْتُكَ عَلَى النَّاسِ بِرِسَالَاتِي وَبِكَلَامِي فَخُذْ مَا آتَيْتُكَ وَكُن مِّنَ الشَّاكِرِينَ

Allah berfirman: "Hai Musa, sesungguhnya Aku memilih (melebihkan) kamu dan manusia yang lain (di masamu) untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara langsung dengan-Ku, sebab itu berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur". [QS. Al-A’raaf ayat 144]

Kaitan Syukur dengan Ibadah

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِن طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.[QS. Al-Baqarah ayat 172]

Syukur Adalah Tujuan Dari Penciptaan Manusia dan Tujuan Perintah

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. [QS. An-Nahl ayat 78]

وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنتُمْ أَذِلَّةٌ ۖ فَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya. [QS. Ali Imran ayat 123]

Manusia Terbagi Menjadi Dua : Yaitu Orang Yang Bersyukur dan Orang Yang Kufur

إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا

Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. [QS. Al-Insan ayat 3]

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِن مَّاتَ أَوْ قُتِلَ انقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ ۚ وَمَن يَنقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَن يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا ۗ وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ

Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. [QS. Ali Imran ayat 144]

إِن تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنكُمْ ۖ وَلَا يَرْضَىٰ لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ ۖ وَإِن تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ ۗ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۗ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُم مَّرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ ۚ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kembalimu lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang tersimpan dalam (dada)mu. [QS. Az-Zumar ayat 7]

D. Keutamaan Bersyukur

Diselamatkan dari Azab Allah

مَّا يَفْعَلُ اللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِن شَكَرْتُمْ وَآمَنتُمْ ۚ وَكَانَ اللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا

Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui. [QS. An-Nisa’ ayat 147]

Mendapatkan Ridha Allah

إِنَّ اللهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الْأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا، أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا

Sesungguhnya Allah ridha kepada hamba-Nya apabila ia memakan makanan maka ia memuji-Nya atas nikmat makanan tersebut, atau apabila ia meminum minuman maka ia memuji-Nya atas nikmat minuman tersebut. [HR. Muslim no. 2734]

Mendapatkan Anugrah dan Hidayah Allah

وَكَذَٰلِكَ فَتَنَّا بَعْضَهُم بِبَعْضٍ لِّيَقُولُوا أَهَٰؤُلَاءِ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْهِم مِّن بَيْنِنَا ۗ أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَعْلَمَ بِالشَّاكِرِينَ

Dan demikianlah telah Kami uji sebahagian mereka (orang-orang kaya) dengan sebahagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata: "Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah Allah kepada mereka?" (Allah berfirman): "Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya)?" [QS. Al-An’am ayat 53]

Ibnu Jarir mengatakan : Allah ta’ala mengatakan bahwa Aku lebih tahu siapakah diantara makhluk-Ku yang mensyukuri nikmatku dan siapakah yang kufur terhadapnya. Maka aku anugrahkan mereka dengan hidayah sebagai balasan atas kesyukuran mereka kepada-Ku atas nikmat-Ku, dan aku hinakan mereka dengan menjauhkan mereka dari jalan yang lurus akibat kekufuran mereka terhadap-Ku.

Ditambahnya Nikmat oleh Allah

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". [QS. Ibrahim ayat 7]

Orang Bersyukur Pasti Dibalas Oleh Allah

Allah subhanahu wata’ala selalu menghubungkan balasan-balasan atas kebaikan dengan syarat jika Ia berkehendak. Artinya jika ia tidak berkehendak maka Allah tidak akan membalasnya. Contoh dalam hal mengabulkan doa secara langsung, Allah ta’ala berfirman :

بَلْ إِيَّاهُ تَدْعُونَ فَيَكْشِفُ مَا تَدْعُونَ إِلَيْهِ إِن شَاءَ وَتَنسَوْنَ مَا تُشْرِكُونَ

(Tidak), tetapi hanya Dialah yang kamu seru, maka Dia menghilangkan bahaya yang karenanya kamu berdoa kepada-Nya, jika Dia menghendaki, dan kamu tinggalkan sembahan-sembahan yang kamu sekutukan (dengan Allah). [QS. Al-An’am ayat 41]

Ayat di atas menunjukkan bahwa Allah mengabulkan do’a hamba-Nya hanya jika Ia berkehendak.

Demikian pula dalam masalah ampunan, rezeki, dan taubat. Allah ta’ala berfirman :

يَغْفِرُ لِمَن يَشَاءُ

Dia memberi ampun kepada siapa yang Dia kehendaki [QS. Ali Imran ayat 129]

وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَن يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas. [QS. Al-Baqarah ayat 212]

وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَىٰ مَن يَشَاءُ 

Dan Allah menerima taubat orang yang dikehendaki-Nya [QS. At-Taubah ayat 15]

Berbeda dengan syukur yang secara mutlak pasti dibalas, sebagaimana firman Allah ta’ala :

وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ

dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur [QS. Ali Imran ayat 144]

وَسَنَجْزِي الشَّاكِرِينَ

Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. [QS. Ali Imran ayat 145]

Allah tidaklah mengatakan : “Dia akan membalas orang-orang yang bersyukur jika Ia berkehendak.

- - - - - - - - - -

Demikianlah pembahasan materi akhlak tentang pengertian syukur menurut bahasa dan istilah, serta pembahasan bagaimana cara bersyukur kepada Allah 'azza wajalla dan manusia, serta hukum syukur dan keutamaan bersyukur.

Semoga kita termasuk hamba-Nya yang senantiasa bersyukur dan dilindungi dari kufur nikmat. Amiin.

Ditulis oleh : Adam Rizkala

Berlangganan untuk menerima pembaruan email gratis:

0 Response to "Pengertian Syukur Menurut Bahasa dan Istilah dalam Islam"

Post a Comment

Berkomentarlah dengan komentar yang mencerminkan seorang muslim yang baik :)