Hadits Keutamaan Baitul Maqdis dan Masjidil Aqsa

Keutamaan Baitul Maqdis dan Masjidil Aqsa

Bismillah,
Alhamdulillah, semoga shalawat dan salam terlimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga, para sahabat, serta para pengikutnya.

Kita sebagai umat Islam tentu begitu mencintai Masjid Al-Aqsha. Tapi sudahkah kita mengetahui apa saja keutamaan-keutamaan Baitul Maqdis yang terdapat dalam Al-Hadits? Maka, mari kita pelajari hadits-hadits tentang keutamaan Masjidil Aqsha atau Baitul Maqdis sehingga menambah kecintaan kita terhadapnya.

1. Al-Ardhu Al-Muqaddas (Tanah yang Suci) dalam QS. Al-Maidah ayat 21

Baitul Maqdis atau Masjid Al-Aqsha terletak di tanah yang suci Palestina. Adapun perihal tanah suci tersebut disebutkan dalam Al-Quran :

يَا قَوْمِ ادْخُلُوا الْأَرْضَ الْمُقَدَّسَةَ الَّتِي كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ

Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu [QS. Al Maidah ayat 21]

Para ulama berbeda pandangan tentang wilayah manakah tanah yang suci itu. Dalam tafsir Ath-Thabari disebutkan ada 4 pendapat diantaranya :

  • Bukit Thur dan sekitarnya
  • Syam
  • Ariha’
  • Damaskus, Palestina, dan sebagian Yordania

Abu Ja’far Ath-Thabari menjelaskan atas perselisihan pendapat tersebut bahwa yang jelas ia adalah tanah yang suci sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi Musa shallallaahu ‘alahi. Karena pembicaraan mengenai itu adalah tanah tanpa tanah yang tidak diketahui hakikat kebenarannya melainkan melalui informasi, dan informasi tersebut tidak boleh berselisih antara satu dengan yang lain. Namun yang jelas wilayah tanah yang suci itu tidak keluar antara sungai Efrat (sebelah timur) dan El-Arish (sebelah barat) di Mesir berdasarkan kesepakatan ahli tafsir, ahli sejarah dan para ulama.

2. Peristiwa Isra’ Nabi Muhammad ke Masjid Al-Aqsha (Surat Al-Isra’ ayat 1)

Allah ta’ala berfirman :

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [QS. Al-Isra’ : 1]

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Masjid Al-Aqsha adalah Baitul Maqdis yang terletak di Iliya’ (Yerussalem) tempat asal para Nabi sejak Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Karena itulah para Nabi dikumpulkan di Masjid Al-Aqsha di malam itu lalu Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam mengimami mereka di tempat mereka.

Hal ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam adalah imam besar dan pemimpin yang didahulukan, semoga shalawat dan salam Allah limpahkan pada beliau dan mereka para Nabi seluruhnya.

3. Nabi Muhammad Menjadi Imam Para Nabi di Masjid Al-Aqsha

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

وَقَدْ رَأَيْتُنِي فِي جَمَاعَةٍ مِنَ الأَنْبِيَاءِ فَإِذَا مُوسَى قَائِمٌ يُصَلِّى فَإِذَا رَجُلٌ ضَرْبٌ جَعْدٌ كَأَنَّهُ مِنْ رِجَالِ شَنُوءَةَ وَإِذَا عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ قَائِمٌ يُصَلِّي أَقْرَبُ النَّاسِ بِهِ شَبَهًا عُرْوَةُ بْنُ مَسْعُودٍ الثَّقَفِيُّ وَإِذَا إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ قَائِمٌ يُصَلِّى أَشْبَهُ النَّاسِ بِهِ صَاحِبُكُمْ – يَعْنِي : نَفْسَهُ - فَحَانَتِ الصَّلاَةُ فَأَمَمْتُهُمْ

Sungguh aku telah diperlihatkan sekumpulan para Nabi. Tiba-tiba aku diperlihatkan Nabi Musa yang berdiri melaksanakan shalat, ternyata ia adalah lelaki kekar dan berambut keriting, seperti orang Syanu’ah. Aku juga melihat Nabi Isa putra Maryam ‘alaihissalam berdiri melaksanakan shalat, dan dia mirip Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqafi. Diperlihatkan pula padaku Nabi Ibrahim yang juga berdiri melaksanakan shalat, orang yang paling mirip dengannya adalah sahabat kalian ini (yaitu beliau sendiri). Lalu ketika masuk waktu shalat maka akupun mengimami mereka. [HR. Muslim]

Dari Ibnu Abbas beliau mengatakan :

فَلَمَّا دَخَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَسْجِدَ الْأَقْصَى قَامَ يُصَلِّي فَالْتَفَتَ ثُمَّ الْتَفَتَ فَإِذَا النَّبِيُّونَ أَجْمَعُونَ يُصَلُّونَ مَعَهُ

Ketika Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam masuk ke masjidil aqsha maka beliau berdiri untuk shalat lalu beliau menoleh kemudian menoleh ternyata para Nabi seluruhnya mereka shalat di belakang beliau. [HR. Ahmad : 4/167]

Keterangan : Hadits ini Isnadnya Dha’if Menurut Syu’aib Al-Arna’uth dan Shahih menurut Ibnu Katsir

4. Masjid Pertama yang Dibangun di Muka Bumi Setelah Masjidil Haram

Dari Abu Dzar radhiyallaahu ‘anhu ia berkata :

قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ مَسْجِدٍ وُضِعَ أَوَّلَ قَالَ الْمَسْجِدُ الْحَرَامُ قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ ثُمَّ الْمَسْجِدُ الْأَقْصَى قُلْتُ كَمْ كَانَ بَيْنَهُمَا قَالَ أَرْبَعُونَ ثُمَّ أَيْنَمَا أَدْرَكَتْكَ الصَّلَاةُ بَعْدُ فَصَلِّهِ فَإِنَّ الْفَضْلَ فِيْهِ وَفِيْ رِوَايَةٍ أَيْنَمَا أَدْرَكَتْكَ الصَّلَاةُ فَصَلِّ فَهُوَ مَسْجِدٌ

Aku berkata : Wahai Rasulullah, manakah masjid yang dibangun pertama kali?

Beliau menjawab : Masjidil Haram

Aku berkata : Kemudian mana lagi?

Beliau menjawab : Masjidi Aqsha

Aku berkata : Berapa jarak antara keduanya?

Beliau menjawab : Empat puluh tahun, kemudian dimanapun shalat menjumpaimu setelah itu maka shalatlah, karena ada keutamaan di dalamnya.

Didalam riwayat yang lain : Dimanapun shalat menjumpaimu, maka shalatlah, karena ia adalah masjid. [HR. Bukhari dan Muslim]

5. Penaklukan Baitul Maqdis Pertanda Dekatnya Kiamat

Sejarah telah menyebutkan bahwa Baitul Maqdis telah di taklukan oleh Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pada tahun 16 H. Hal tersebut telah diberitakan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bahwa Baitul Maqdis akan ditaklukkan. Beliau bersabda :

اعْدُدْ سِتًّا بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ: مَوْتِي، ثُمَّ فَتْحُ بَيْتِ المَقْدِسِ، ثُمَّ مُوْتَانٌ يَأْخُذُ فِيكُمْ كَقُعَاصِ الغَنَمِ، ثُمَّ اسْتِفَاضَةُ المَالِ حَتَّى يُعْطَى الرَّجُلُ مِائَةَ دِينَارٍ فَيَظَلُّ سَاخِطًا، ثُمَّ فِتْنَةٌ لاَ يَبْقَى بَيْتٌ مِنَ العَرَبِ إِلَّا دَخَلَتْهُ، ثُمَّ هُدْنَةٌ تَكُونُ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ بَنِي الأَصْفَرِ، فَيَغْدِرُونَ فَيَأْتُونَكُمْ تَحْتَ ثَمَانِينَ غَايَةً، تَحْتَ كُلِّ غَايَةٍ اثْنَا عَشَرَ أَلْفًا

Perhatikanlah enam tanda-tanda dekatnya hari Kiamat:

(1) wafatku,

(2) penaklukan Baitul Maqdis,

(3) wabah kematian (penyakit yang menyerang hewan sehingga mati mendadak) yang menyerang kalian bagaikan wabah penyakit qu’ash yang menyerang kambing,

(4) melimpahnya harta sehingga bila seseorang yang diberikan 100 dinar padanya, maka ia tidak mau menerimanya,

(5) timbulnya fitnah yang tidak meninggalkan satu rumah orang Arab pun melainkan pasti memasukinya, dan

(6) terjadinya perdamaian antara kalian dengan bani Asfar (bangsa Romawi), namun mereka melanggarnya dan mendatangi kalian dengan 80 kelompok besar pasukan. Setiap kelompok itu terdiri dari 12 ribu orang. [HR. Bukhari]

6. Dajjal Tidak Masuk ke Baitul Maqdis

Suatu ketika Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam berkhutbah tentang Dajjal :

وأنه يمكث في الأرض أربعين صباحاً يبلغ فيها كل منهل ولا يقرب أربعة مساجد مسجد الحرام ومسجد المدينة ومسجد الطور ومسجد الأقصى

Sesungguhnya dia akan tinggal di bumi selama 40 hari, dia akan sampai di setiap sumber air dan tidak akan mendekat pada empat masjid (yaitu) : Masjid Al-Haram, Masjid Madinah, Masjid Ath-Thuur, dan Masjid Al-Aqsha. [Fathur Rabbaniy li Tartib Musnad Imam Ahmad bin Hambal : 24/76]

7. Dianjurkan Mengunjungi Masjidil Aqsha

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ مَسْجِدِى هَذَا وَمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ الأَقْصَى

Janganlah berusaha dengan sengaja melakukan perjalanan kecuali ke tiga masjid, yaitu masjidku ini (masjid Nabawi), masjidil haram, dan masjidil aqsha. [HR. Bukhari]

8. Keutamaan Shalat di Masjidil Aqsha

Dari Abdullah bin Umar, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

أَنَّ سُلَيْمَانَ بْنَ دَاوُدَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا بَنَى بَيْتَ الْمَقْدِسِ سَأَلَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ خِلَالًا ثَلَاثَةً: سَأَلَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حُكْمًا يُصَادِفُ حُكْمَهُ فَأُوتِيَهُ، وَسَأَلَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ مُلْكًا لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ فَأُوتِيَهُ، وَسَأَلَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حِينَ فَرَغَ مِنْ بِنَاءِ الْمَسْجِدِ أَنْ لَا يَأْتِيَهُ أَحَدٌ لَا يَنْهَزُهُ إِلَّا الصَّلَاةُ فِيهِ أَنْ يُخْرِجَهُ مِنْ خَطِيئَتِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

Bahwa Sulaiman bin Dawud shallallaahu ‘alaihi wasallam ketika membangun Baitul Maqdis meminta kepada Allah 3 hal :

(1) Meminta kepada Allah azza wajalla agar ketika memutuskan hukum maka tepat dengan hukum-Nya, maka permintaannya pun dikabulkan

(2) Meminta kepada Allah azza wajalla kerajaan yang tidak patut diberikan kepada seseorangpun setelahnya, maka permintaannya pun dikabulkan

(3) Serta meminta kepada Allah azza wajalla bila selesai membangun masjid agar siapa yang mendatangi masjidil Aqsha dan tidak menginginkan kecuali untuk shalat di dalamnya maka keluarlah seluruh kesalahannya seperti hari ia dilahirkan oleh ibunya. [HR. Nasa’iy]

Dari Abu Ad-Darda’ dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda :

‌فَضْلُ ‌الصَّلَاةِ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ عَلَى غَيْرِهِ مِائَةُ أَلْفِ صَلَاةٍ، وَفِي مَسْجِدِي أَلْفُ صَلَاةٍ، وَفِي مَسْجِدِ بَيْتِ الْمَقْدِسِ خَمْسُمِائَةِ صَلَاةٍ

Keutamaan shalat di masjidil haram adalah 100.000 shalat di masjid lainnya, dan di masjidku (Masjid Nabawi) 1.000 shalat, dan di masjid baitul maqdis 500 shalat. [HR. Baihaqi 6/39]

‌صَلَاةُ ‌الرَّجُلِ ‌فِي ‌بَيْتِهِ ‌بِصَلَاةٍ، وَصَلَاتُهُ فِي مَسْجِدِ الْقَبَائِلِ بِخَمْسٍ وَعِشْرِينَ صَلَاةً، وَصَلَاتُهُ فِي الْمَسْجِدِ الَّذِي يُجَمَّعُ فِيهِ بِخَمْسِ مِائَةِ صَلَاةٍ، وَصَلَاتُهُ فِي الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى بِخَمْسِينَ أَلْفِ صَلَاةٍ، وَصَلَاتُهُ فِي مَسْجِدِي بِخَمْسِينَ أَلْفِ صَلَاةٍ، وَصَلَاةٌ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ بِمِائَةِ أَلْفِ صَلَاةٍ

Shalatnya seorang lelaki di rumahnya hanya mendapat pahala 1 shalat, dan shalatnya di masjid kabilah mendapatkan 25 pahala shalat, dan shalatnya di masjid jami’ mendapatkan 500 pahala shalat, dan shalatnya di masjid Al-Aqsha mendapatkan 50.000 pahala shalat, dan shalatnya di masjidku medapatkan 50.000 pahala shalat, dan shalat di masjidil haram mendapatkan 100.000 pahala shalat. [HR. Ibnu Majah]

Keterangan : Hadits ini Dha’if menurut Syaikh Al-Albani

9. Baitul Maqdis Kiblat Pertama Umat Islam

Dari Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhuma ia mengatakan :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى نَحْوَ بَيْتِ المَقْدِسِ، سِتَّةَ عَشَرَ أَوْ سَبْعَةَ عَشَرَ شَهْرًا، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحِبُّ أَنْ يُوَجَّهَ إِلَى الكَعْبَةِ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ: {قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ} [البقرة: 144]، فَتَوَجَّهَ نَحْوَ الكَعْبَةِ

Dahulu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam shalat menghadap Baitul Maqdis selama 16 atau 17 bulan, dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam senang apabila menghadap Ka’bah, maka Allah turunkan ayat : “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit,” [QS. Al-Baqarah ayat 144] Maka beliaupun menghadap ke arah Ka’bah. [HR. Bukhari]

10. Baitul Maqdis Tempat Berkumpul Kaum Muslimin Ketika Datangnya Dajjal

Diriwayatkan dalam Sunan Ibnu Majah :

فَقَالَتْ أُمُّ شَرِيكٍ بِنْتُ أَبِي الْعَكَرِ: يَا رَسُولَ اللَّهِ فَأَيْنَ الْعَرَبُ يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ " هُمْ يَوْمَئِذٍ قَلِيلٌ، وَجُلُّهُمْ ‌بِبَيْتِ الْمَقْدِسِ، وَإِمَامُهُمْ رَجُلٌ صَالِحٌ

Ummu Syuraik binti Abu Bakar bertanya : Wahai Rasulullah, dimanakah orang-orang Arab pada saat itu. Beliau menjawab : Mereka hari itu jumlahnya sedikit, dan mereka berada di baitul Maqdis, sedang imam mereka adalah lelaki yang shalih. [HR. Ibnu Majah]

Keterangan : Hadits ini Dha’if menurut Syaikh Al-Albani

11. Tinggal di Baitul Maqdis

Dari Dzul Ashabi’ ia mengatakan :

يَا رَسُولَ اللهِ، إِنْ ابْتُلِينَا بَعْدَكَ بِالْبَقَاءِ أَيْنَ تَأْمُرُنَا؟ قَالَ: ‌عَلَيْكَ ‌بِبَيْتِ ‌الْمَقْدِسِ، فَلَعَلَّهُ أَنْ يَنْشَأَ لَكَ ذُرِّيَّةٌ يَغْدُونَ إِلَى ذَلِكَ الْمَسْجِدِ وَيَرُوحُونَ

Wahai Rasulullah, jika kami diuji dengan umur yang panjang setelah wafatmu, engkau perintah kami ke mana?. Beliau menjawab : Pergilah ke Baitul Maqdis, semoga akan lahir keturunan darimu yang akan berkunjung ke masjid itu pagi maupun sore. [HR. Ahmad 27/190]

Keterangan : Hadits ini Isnadnya Dha’if menurut Syu’aib Al-Arnauth

12. Penegak Kebenaran di Baitul Maqdis

Dari Abu Umamah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي عَلَى الدِّينِ ظَاهِرِينَ لَعَدُوِّهِمْ قَاهِرِينَ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ إِلَّا مَا أَصَابَهُمْ مِنْ لَأْوَاءَ حَتَّى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَلِكَ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ وَأَيْنَ هُمْ؟ قَالَ: ‌بِبَيْتِ ‌الْمَقْدِسِ وَأَكْنَافِ بَيْتِ الْمَقْدِسِ

Akan ada sekelompok umatku yang senantiasa berada di atas kebenaran, menang dan mengalahkan musuh mereka, orang yang menentang mereka tidak akan membahayakan mereka kecuali cobaan yang menimpa mereka hingga urusang Allah datang pada mereka dan mereka senantiasa seperti itu.

Para sahabat bertanya : Wahai Rasulullah, dimanakah mereka?

Beliau menjawab : Di Baitul Maqdis dan sekitar Baitul Maqdis

[HR. Ahmad 36/657]

Keterangan : Menurut Syu’aib Al-Arnauth Hadits ini Shahih Lighairihi, kecuali redaksi : “Para sahabat bertanya : Wahai Rasulullah dimanakah mereka... dst” Isnadnya Dha’if

13. Makmurnya Baitul Maqdis Pertanda Hari Kiamat

عُمْرَانُ بَيْتِ الْمَقْدِسِ خَرَابُ يَثْرِبَ، وَخَرَابُ يَثْرِبَ خُرُوجُ الْمَلْحَمَةِ، وَخُرُوجُ الْمَلْحَمَةِ فَتْحُ قُسْطَنْطِينِيَّةَ، وَفَتْحُ الْقُسْطَنْطِينِيَّةِ خُرُوجُ الدَّجَّالِ

Makmurnya Baitul Maqdis adalah runtuhnya Yatsrib, dan runtuhnya Yatsrib adalah munculnya Al-Malhamah (peperangan besar), munculnya Al-Malhamah adalah takluknya Konstantinopel dan takluknya Konstantinopel adalah munculnya Dajjal. [HR. Abu Dawud : Hadits Hasan menurut Syaikh Al-Albani]

14. Turunnya Al-Mahdi di Baitul Maqdis

يَخْرُجُ رَجُلٌ مِنْ أُمَّتِي يَقُولُ بِسُنَّتِي، يُنْزِلُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ الْقَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ، وَتُخْرِجُ لَهُ الْأَرْضُ مِنْ بَرَكَتِهَا، تُمْلَأُ الْأَرْضُ مِنْهُ قِسْطًا وَعَدْلًا، كَمَا مُلِئَتْ جَوْرًا وَظُلْمًا، يَعْمَلُ عَلَى هَذِهِ الْأُمَّةِ سَبْعَ سِنِينَ، وَيَنْزِلُ ‌بَيْتَ ‌الْمَقْدِسِ

Akan keluar seorang lelaki dari umatku yang berucap dengan sunnahku, dan Allah turunkan untuknya hujan dari langit, dan bumi mengeluarkan keberkahan untuknya, dan bumi dipenuhi dengan keadilan sebagaimana dipenuhi dengan kezaliman, ia bekerja untuk umat ini selama 70 tahun dan ia turun di Baitul Maqdis. [HR. Thabrani dalam Mu’jam Al-Ausath]

Keterangan : Ath-Tahbrani mengatakan “Hadits ini diriwayatkan oleh beberapa orang dari jalur Abu Ash-Shiddiq, dan tidak ada seorangpun yang meriwayatkan diantara dia dan Abu Sa’id kecuali Abu Washil.”

Demikianlah, masih sangat banyak hadits-hadits yang menyebutkan tentang keutamaan Baitul Maqdis dan Masjidil Aqsha selain yang disebutkan di atas. Hadits-hadits tentang peristiwa akhir zaman juga banyak menyinggung Baitul Maqdis.

Keterbatasan pengetahuan, waktu serta tenaga membuat penulis mencukupkan pemaparan hadits-hadits tentang keutamaan Baitul Maqdis dan Masjidil Aqsha. Selain itu juga mengingat banyaknya hadits-hadits keutaman Baitul Maqdis yang kami temukan dalam kitab-kitab hadits namun para ulama belum menyatakan atau sepakat atas shahihannya.

Semoga kita semakin mencintai Baitul Maqdis karena Allah ta’ala.

Referensi :

  • Tafsir Ibnu Katsir
  • Tafsir Ath-Thabari
  • Fadhail Bait Al-Maqdis
  • Fadhail Al-Quds
  • Hubub Ar-Riih bi Fadhail Al-Masjid Al-Aqsha Al-Jariih

 

Berlangganan untuk menerima pembaruan email gratis:

0 Response to "Hadits Keutamaan Baitul Maqdis dan Masjidil Aqsa"

Post a Comment

Berkomentarlah dengan komentar yang mencerminkan seorang muslim yang baik :)