Faedah Hadits Arbain Ke 2


Faedah Hadits Arbain Ke 2


Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah ta’ala yang telah menunjukkan hidayah Islam pada orang yang Ia kehendaki. Shalawat serta salam semoga tetap Allah curahkan kepada Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam, keluarganya, para sahabatnya, serta para pengikutnya hingga hari kiamat.

Setelah panjang lebar dijelaskan tentang hadits ke 2 dari arbain nawawi, maka ada banyak sekali faedah yang bisa kita ambil dari hadits tersebut. Berikut ini diantara beberapa faedah yang bisa kita ambil :

1. Rendah Hati

Dari hadits tersebut bisa kita ketahui bersama bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang sangat rendah hati. Beliau duduk-duduk bersama para sahabat dan tidak merasa bahwa diri beliau lebih tinggi dari pada mereka meskipun kita mengetahui bahwa kedudukan beliau adalah seorang Nabi dan Rasul.

2. Malaikat Berwujud Manusia

Malaikat adalah makhluk Allah yang tercipta dari cahaya. Meskipun demikian, atas izin dari Allah, malaikat mampu merubah bentuknya menjadi selain bentuk malaikat. Hal ini berdasarkan hadits tersebut yang menyebutkan bahwa malaikat Jibril datang kepada Nabi dengan wujud seorang lelaki.

3. Adab Duduk di Depan Guru

Jibril ’alaihis salam mencontohkan kepada kita bagaimana adab seorang pelajar ketika sedang berguru. Yakni hendaknya berpakaian yang bersih dan rapi, kemudian duduk di depan dan mendekat kepada sang guru.

4. Tingginya Kedudukan Islam

Pertanyaan awal yang diajukan oleh Jibril ‘alaihis salam adalah tentang Islam. Ini menunjukkan tingginya kedudukan Islam. Oleh karena itulah Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam ketika diutus menjadi seorang Rasul maka beliau memulai dakwahnya dengan Islam, yakni agar manusia bersyahadat bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah.

5. Lima Rukun Islam

Ketika Jibril ‘alaihis salam bertanya tentang Islam maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab bahwa rukun Islam ada lima, yakni :
  • Syahadat
  • Shalat
  • Puasa
  • Zakat
  • Haji
Para ulama sepakat, siapa yang tidak mengerjakan rukun pertama yakni bersyahadat “Laa ilaaha illallaah” dan “Muhammad rasulullah” maka hukumnya kafir. Namun rukun-rukun yang lain terdapat perbedaan pendapat.

Adapun pendapat yang benar adalah keempat rukun sisanya apabila ditinggalkan hukumnya tidak kafir kecuali meninggalkan shalat. Abdullah bin Syaqiq rahimahullah mengatakan : “Para sahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, tidak berpandangan satupun amalan yang apabila ditinggalkan maka hukumnya kafir kecuali shalat.”

Namun, apabila keempat rukun tersebut dikerjakan disertai dengan pengingkaran akan wajibnya hal tersebut maka hukumnya kafir.

6. Enam Rukun Iman

Setelah ditanyakan tentang rukun Islam, maka Jibril ‘alaihis salam menanyakan tentang rukun iman. Maka dijawablah dengan : “Beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, kitab-kitab Nya, para utusan-Nya, hari akhir, dan takdir baik maupun buruk.”

Barang siapa yang mengingkari salah satu dari keenamnya maka ia kafir, dan barang siapa yang menambahnya maka ia adalah pelaku bid’ah.

7. Antara Islam dan Iman

Islam dan iman adalah dua hal yang berbeda apabila keduanya disebutkan bersamaan. Hal ini sebagaimana yang ditunjukkan dalam hadits yang mana Jibril ‘alaihis salam menanyakan tentang Islam dan iman secara terpisah.

Islam adalah hal yang berkaitan dengan amalan yang lahir, baik itu berupa ucapan, maupun pekerjaan anggota badan. Sementara iman adalah hal yang berkaitan dengan batin, baik itu dengan keyakinan hati maupun pekerjaan hati.

Namun, apabila keduanya disebutkan secara terpisah, maka ia menjadi bersatu. Apabila disebutkan tentang Islam maka iman juga termasuk di dalamnya, apabila disebutkan tentang iman maka Islam juga termasuk di dalamnya.

8. Takdir Baik dan Buruk

Di dalam hadits disebutkan ada takdir baik ada pula takdir buruk. Namun, pada hakikatnya tidak ada takdir yang buruk. Hal ini dikarenakan menakdirkan adalah perbuatan Allah. Sementara kita mengetahui bahwa perbuatan Allah tidak ada yang buruk.

Lantas mengapa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menyebutkan ada takdir yang baik dan ada takdir yang buruk? Jawabannya adalah karena takdir buruk itu bagi yang ditakdirkan, yaitu makhluk.

Ketahuilah bahwa setiap takdir yang menurut kita buruk itu selalu ada hikmah di balik takdir tersebut. Sebagaimana yang Allah sebutkan dalam Al-Quran :

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
(QS. Ar-Rum : 41)

Dalam ayat tersebut dapat kita ketahui bahwa kerusakan yang terjadi di bumi adalah akibat ulah manusia. Hikmah adanya fenomena kerusakan tersebut adalah agar manusia merasakan akibat yang mereka perbuat. Sehingga dengan itulah mereka mau kembali ke jalan  yang benar.

9. Pengetahuan Tentang Kiamat

Ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang kapan terjadinya hari kiamat maka beliau sama sekali tidak mengetahuinya. Maka sungguh bodoh apabila ada oknum yang katanya “ustadz” mengetahui kiamat pada tahun sekian dengan tanda demikian dan tanda-tanda itu akan terjadi pada tahun sekian.

Ini menunjukkan bahwa seorang Rasul pun yang kedudukannya sangat mulia di sisi Allah tidak diberi tahu tentang kapan terjadinya hari kiamat. Karena terjadinya kiamat hanya diketahui oleh Allah. Adapun Rasul hanya memberi tahu tanda-tanda menjelang datangnya hari kiamat.

10. Diberitahukannya Tanda Kiamat

Tujuan diberitahukannya tanda kiamat adalah agar kita mempersiapkan amal terbaik sebelum datangnya hari kiamat. Bukan untuk mencocok-cocokkan tanda-tanda kiamat dengan fenomena saat ini berdasarkan dugaan semata. Apalagi mencocokkan dengan berita yang belum tentu bisa dipastikan kebenarannya.

11. Menanyakan Ciri Bila Tidak Mengetahui Sesuatu

Faedah yang bisa diambil dari pertanyaan Jibril ‘alaihis salam kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam tentang kiamat adalah apabila kita tidak mengetahui suatu maka kita menanyakan ciri-ciri dari sesuatu tersebut.

12. Jawaban "Allahu wa Rasuluhu A'lam"

Tatkala Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu ditanya tentang siapakah lelaki yang mendatangi Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam maka beliau hanya menjawab "Allahu wa rasuluhu a'lam" yang artinya adalah "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui."

Pelajaran yang dapat kita ambil dari jawaban beliau adalah tatkala kita ditanya tentang apa yang tidak ketahui sepantasnya untuk menjawab "Allahu a'lam".

Para ulama menyebutkan bahwa kalimat itu adalah sebagian dari ilmu. Karena menjawab hal yang belum diketahui adalah sebuah kebodohan. Sementara menjawab hal yang belum diketahui dengan "Allahu a'lam" justru itulah ilmu.

Demikianlah faedah yang bisa diambil dari hadits tentang Islam Iman dan Ihsan, yakni hadits arbain ke 2. Semoga Allah memberikan ilmu yang bermanfaat bagi kita semua.

Oleh : Adam Rizkala

Berlangganan untuk menerima pembaruan email gratis:

0 Response to "Faedah Hadits Arbain Ke 2"

Posting Komentar