Penjelasan Hadits Tentang Islam Iman dan Ihsan - Hadits Arbain ke 2 [Bagian 3]


Hadits Tentang islam


Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah yang telah memberikan hidayah Islam kepada kita semua. Shalawat serta salam, semoga tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam, keluarganya, para sahabatnya, serta para pengikutnya hingga hari kiamat.

Pada kesempatan kali ini, kita akan melanjutkan pembahasan kita tentang penjelasan hadits Islam, Iman dan Ihsan. Telah dijelaskan pada artikel sebelumnya penjelasan tentang Islam dan Iman, maka pada artikel ini akan kita pelajari bersama penjelasan tentang Ihsan dan tanda-tanda hari kiamat.

1. Apa Itu Ihsan?

Ihsan berasal dari kata (أَحْسَنَ – يُحْسِنُ – إِحْسَانًا) yang bermakna memperbaiki sesuatu dan menyempurnakannya. Makna tersebut ditunjukkan dalam firman Allah ta’ala :

الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ

Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya
(QS. As-Sajdah : 7)

Ihsan antara seorang hamba dengan tuhannya adalah dengan beribadah kepada Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya. Sedangkan ihsan antara sesama hamba adalah dengan berbuat baik kepada mereka, berteman dengan mereka, mengajak mereka untuk beribadah kepada Allah, dan mengajarkan ilmu yang bermanfaat. Allah ta’ala berfirman :

وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik
(QS. Al-Baqarah : 195)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan bahwa ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, apabila engkau tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Allah melihatmu.

Ihsan adalah tingkatan tertinggi dalam agama. Karena orang yang ihsan atau muhsin selalu merasa menyaksikan Allah dan disaksikan oleh Allah dalam ibadahnya.

Muhsin terbagi menjadi dua tingkatan. Tingkat yang pertama adalah musyahadah, dan yang kedua adalah muroqobah.

Tingkatan Musyahadah

Musyahadah berarti orang yang menyaksikan. Ini adalah tingkatan yang dikatakan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :

أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ

Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya

Maksud seakan-akan melihat Allah disini adalah seorang muhsin menyaksikan sifat-sifat Allah ta’ala, bukan menyaksikan Zat-Nya sebagaimana yang dikatakan oleh sekte sesat kaum sufi. Karena tidak mungkin hal ini terjadi kecuali di hari kiamat kelak.

Seorang muhsin pada tingkatan ini menyaksikan tanda-tanda dari sifat-sifat Allah melalui makhluk-Nya. Ia menyadari bahwa alam semesta yang ia lihat merupakan bukti kebesaran dan kerajaan Allah ta’ala.

Demikian pula dalam ibadahnya, ia juga merasa bahwa ia sedang melihat Allah subhanahu wata’ala dengan matanya karena imannya dan keyakinannya yang sangat kuat. Sehingga meskipun ia beribadah sedang menghadap tembok, pintu atau semacamnya, ia tidak menyadari bahwa ia sedang menghadap tembok. Justru ia merasa bahwa seakan-akan matanya sedang melihat Allah subhanahu wata’ala.

Tingkatan ini dapat diraih oleh orang-orang yang luas pengetahuannya tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah. Dengan pengetahuan itulah ia memandang segala sesuatu yang ada di alam semesta merupakan tanda-tanda dari sifat-sifat Allah yang Mulia.

Sehingga ia selalu merasa bahwa Allah Maha Dekat, Maha Mengawasi, Maha Meliputi segala sesuatu, dan Allah menyaksikan apa yang ia perbuat. Sampai-sampai ia merasa malu apabila auratnya tersingkap meskipun dalam kesendirian dimana tidak ada yang melihatnya kecuali Allah.

Tingkatan Muroqobah

Tingkatan dibawah musyahadah adalah muroqobah, yang berarti merasa selalu diawasi oleh Allah. Inilah tingkatan yang disabdakan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :

فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Apabila engkau tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Ia sedang melihatmu

Tingkatan ini adalah tingkatan dimana seseorang merasa selalu diawasi oleh Allah dalam ibadah dan gerak-gerik kesehariannya. Sehingga ia senantiasa berhati-hati dalam ibadah dan tingkah lakunya. Ia senantiasa tenang dan khusyuk dalam ibadahnya karena ia tau bahwa Allah sedang mengawasinya.

2. Kiamat

Kiamat adalah hari berakhirnya dunia dan dimulainya akhirat. Kiamat adalah hari dimana alam semesta hancur lalu manusia dibangkitkan dari kuburannya. Tidak ada seorangpun yang mengetahui kapan datangnya hari kiamat, bahkan seorang Nabi sekalipun.

Oleh karena itulah ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang kapan terjadinya hari kiamat maka beliau tidak mengetahuinya. Di dalam hadits disebutkan :

قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسئُوُلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ

Kemudian dia berkata : “Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan kejadiannya). Beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab : Yang ditanya tidak lebih tahu dari pada yang bertanya.”

Di dalam Al-Quran telah dijelaskan bahwa pengetahuan tentang kapan terjadinya kiamat hanya diketahui oleh Allah. Allah ta’ala berfirman :

يَسْأَلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِ ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ اللَّهِ

Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu hanya di sisi Allah"
(QS. Al-Ahzab : 63)

Meskipun demikian, perihal tanda-tanda dekatnya hari kiamat telah dikabarkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam kepada kita. Di dalam hadits dijelaskan :

قَالَ: فَأَخْبِرْنِيْ عَنْ أَمَارَاتِها، قَالَ: أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا، وَأَنْ تَرى الْحُفَاةَ العُرَاةَ العَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي البُنْيَانِ

Dia berkata : Beritahukan aku tentang tanda-tandanya! Beliau bersabda : “Jika seorang hamba sahaya melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin lagi penggembala domba, (kemudian)  berlomba-lomba meninggikan bangunannya.

3. Tanda-tanda Dekatnya Hari Kiamat

Secara umum, tanda-tanda kimat terbagi menjadi dua. Yaitu tanda-tanda kecil dan tanda-tanda besar. Dan tanda-tanda tersebut sangatlah banyak dijelaskan di dalam Al-Quran maupun Al-Hadits.

Di dalam hadits tersebut dijelaskan 2 tanda yang akan terjadi menjelang datangnya hari kiamat yang mana kedua tanda tersebut merupakan kategori tanda-tanda kecil. Kedua tanda tersebut yaitu :

  • Seorang budak melahirkan majikannya
  • Seorang bertelanjang kaki, dada, miskin dan pengembala domba berlomba-lomba meninggikan bangunan

Adapun dimaksud dengan seorang budak melahirkan majikannya, para ulama terbagi menjadi 2 pendapat, yaitu :

  • Pendapat pertama mengatakan, maksudnya adalah di akhir zaman akan banyak terjadi pergundikan. Maka anak perempuan dari budak tersebut statusnya merdeka karena mengikuti bapaknya, sementara ibunya adalah budak.
  • Pendapat kedua mengatakan, maksudnya adalah akan terjadi banyak kedurhakaan kepada orang tua di akhir zaman. Sehingga seakan-akan anak menjadi majikan bagi ibunya sendiri.

Adapun maksud seorang bertelanjang kaki, dada, miskin, dan pengembala domba adalah orang Arab badui. Awalnya mereka adalah orang yang miskin, tidak beralas kaki, pakaian yang dikenakan adalah pakaian yang jelek dan tidak sempurna, tinggal dipadang pasir, dan pekerjaan mereka adalah pengembala domba.

Namun, diakhir zaman mereka akan berlomba-lomba membangun bangunan yang tinggi-tinggi. Dan kita telah menyaksikannya saat ini di negara-negara Arab.

4. Malaikat Berwujud Manusia

Pada akhir hadits, Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bertanya kepada Umar bin Khattab perihal siapakah lelaki berambut hitam berpakaian putih yang datang dan bertanya pada beliau tentang Islam, Iman dan Ihsan serta tanda kiamat. 

Maka Umar hanya mengatakan "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui." Lalu beliaupun memberi tahu bahwa lelaki itu ternyata adalah malaikat Jibril 'alaihis salam yang merubah bentuknya menjadi manusia untuk mengajarkan agama pada para sahabat yang hadir di majelis tersebut.

Demikianlah penjelasan hadits arbain kedua, yakni hadits tentang Islam Iman dan Ihsan. Pada artikel berikutnya akan kita pelajari faedah apa saja yang dapat kita ambil dari hadits tersebut.

Oleh : Adam Rizkala

Refrensi :
  • Al-Arbaun An-Nawawiyyah : Imam An-Nawawi
  • Syarah Al-Arbain An-Nawawiyyah : Syaikh Al-Utsaimin

Berlangganan untuk menerima pembaruan email gratis:

0 Response to "Penjelasan Hadits Tentang Islam Iman dan Ihsan - Hadits Arbain ke 2 [Bagian 3]"

Posting Komentar