Penjelasan Hadits Tentang Islam Iman dan Ihsan - Hadits Arbain ke 2 [Bagian 1]


Hadits Tentang Islam Iman dan Ihsan

Alhamdulillah, kita memuji, memohon pertolongan, dan memita ampun hanya kepada-Nya.

Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, serta para pengikutnya hingga hari kiamat.

Pada artikel ini, kita akan mengkaji bersama hadits kedua dari kitab arba'in nawawi, yaitu hadits tentang islam iman dan ihsan. Lalu kita akan mengetahui apa maksud dari hadits tersebut, serta faedah apa saja yang dapat kita ambil.

A. Hadits Tentang Islam, Iman dan Ihsan

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ أَيضاً قَال: بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَاب شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ حَتَّى جَلَسَ إِلَى النبي صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنِ الإِسْلاَم، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: الإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدَاً رَسُولُ الله، وَتُقِيْمَ الصَّلاَة، وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ، وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ، وَتَحُجَّ البيْتَ إِنِ اِسْتَطَعتَ إِليْهِ سَبِيْلاً قَالَ: صَدَقْتَ، فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِيْمَانِ، قَالَ: أَنْ تُؤْمِنَ بِالله، وَمَلائِكَتِه، وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الآَخِر، وَتُؤْمِنَ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ قَالَ: صَدَقْتَ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسئُوُلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ قَالَ: فَأَخْبِرْنِيْ عَنْ أَمَارَاتِها، قَالَ: أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا، وَأَنْ تَرى الْحُفَاةَ العُرَاةَ العَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي البُنْيَانِ ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثَ مَلِيَّاً ثُمَّ قَالَ: يَا عُمَرُ أتَدْرِي مَنِ السَّائِلُ؟ قُلْتُ: اللهُ وَرَسُوله أَعْلَمُ، قَالَ: فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ

B. Terjemahan Hadits

Dari Umar radhiyallaahu ‘anhu juga ia berkata : Ketika kami duduk-duduk di sisi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam tiba-tiba datanglah seorang lelaki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam. Padanya tidak tampak bekas perjalanan jauh dan tidak ada diantara kami yang mengenalnya.

Hingga kemudian dia duduk di hadapan Nabi lalu menyandarkan kedua lututnya pada lututnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, seraya berkata : “Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam!”

Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Islam adalah engkau bersaksi bahwasanya tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikkan zakat, puasa Ramadhan, dan haji jika mampu.”

Kemudian dia berkata : “Engkau benar!”

Kamipun terheran, dia sendiri yang bertanya dia pula yang membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi : “Beritahukan aku tentang Iman!”

Lalu beliau bersabda : Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk

Kemudia dia berkata : “Engkau benar!

Kemudian dia berkata lagi : Beritahukan aku tentang ihsan!

Lalu beliau bersabda : Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau.

Kemudian dia berkata : “Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan kejadiannya).

Beliau bersabda : Yang ditanya tidak lebih tahu dari pada yang bertanya.”

Dia berkata : Beritahukan aku tentang tanda-tandanya!

Beliau bersabda : “Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin lagi penggembala domba, (kemudian)  berlomba-lomba meninggikan bangunannya.

Kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar. Kemudian beliau bertanya :  “Tahukah engkau siapa yang bertanya?”. Aku berkata : Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui“. Beliau bersabda : Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.

C. Penjelasan Hadits Tentang Islam Iman dan Ihsan

1. Sekilas Tentang Isi Hadits Ini

Hadits ini adalah hadits yang sangat agung. Hadits ini menjelaskan tentang agama secara menyeluruh, mulai dari rukun Islam, rukun Iman, Ihsan, dan juga dijelaskan tentang tanda-tanda hari kiamat. Karena itulah, setelah Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam menjelaskan tentang Islam, Iman dan Ihsan, diakhir kata beliau bersabda :

فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ

Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.

Hadits ini merupakan kumpulan ilmu dan pengetahuan yang semuanya akan kembali kepada hadits ini dan tercakup di bawahnya. Apabila para ulama membahas ilmu maka mereka tidak keluar dari cakupan hadits ini.

Dalam hadits ini juga dijelaskan bahwa dalam beragama seseorang memiliki beberapa tingkatan, yakni ada yang berada di tingkat muslim, kemudian mukmin, dan yang tertinggi adalah muhsin.

2. Apa Itu Islam?

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa hakikat Islam adalah bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikkan zakat, berpuasa Ramadhan, dan haji ke baitullah bagi yang mampu.

Kelima perkara ini merupakan rukun yang wajib ditunaikkan dengan keyakinan di dalam hati. Kemudian dilanjutkan dengan mengerjakan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan larangan-larangan dalam Islam lainnya. Karena mengerjakan kewajiban dan meninggalkan larangan lainnya merupakan penyempurna dari kelima rukun tersebut.

Rukun-rukun tersebut merupakan pondasi berdirinya Islam, kemudian barulah datang amalan-amalan lainnya baik yang bersifat wajib maupun sunnah. Apabila kita meninggalkan rukun ini maka amalan lainnya baik yang bersifat wajib maupun sunnah tidak akan bermanfaat.

Kelima rukun tersebut bukanlah Islam secara menyeluruh, karena ia hanyalah rukun dan tiang-tiangnya Islam. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالحَجِّ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ

Islam dibangun di atas lima perkara : (yaitu) syahadat bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikkan zakat, haji, dan puasa Ramadhan.
(HR. Bukhari : 8)

Islam itu luas, ia mencakup semua yang diperintahkan oleh Allah dan yang menjadi larangan-Nya. Maka dari itu, apabila kita tinggalkan salah satu dari rukun tersebut maka Islam kita tidaklah sah. Namun, apabila kita tinggalkan selain dari rukun-rukun tersebut maka Islam kita tetap sah, hanya saja tidak sempurna tergantung banyaknya perkara dalam Islam yang ditinggalkan.

Secara menyeluruh Islam dapat diartikan : “Berserah diri kepada Allah azza wa jalla dengan mentauhidkan-Nya, tunduk kepada-Nya dengan ketaatan, dan berlepas diri dari kesyirikan serta pelakunya.”

3. Rukun Pertama : Dua Kalimat Syahadat

  • Apa itu Syahadat?

Syahadat berarti menyatakan apa yang ada di dalam hati dengan lisannya, karena syahadat adalah ucapan dan pemberitahuan tentang apa yang ada di dalam hati. Syahadat tidaklah cukup dengan lisan, karena orang munafikpun bersyahadat dengan lisannya tetapi tidak dengan hatinya.

Dua kalimat syahadat ini adalah satu rukun yang tidak bisa dipisahkan. Karena apabila kita hanya bersyahadat أَنْ لا إِلَهَ إِلاَّ الله namun mengingkari أَنَّ مُحَمَّدَاً رَسُولُ اللهِ maka syahadatnya tidak sah.

Syahadat أَنْ لا إِلَهَ إِلاَّ الله berarti mengharuskan keikhlasan, sedangkan syahadat أَنَّ مُحَمَّدَاً رَسُولُ اللهِ berarti mengharuskan ittiba’. Dan semua amalan untuk mendekatkan diri kepada Allah tidak akan diterima kecuali dengan ikhlas dan ittiba’.
  • Makna Dua Kalimat Syahadat

Makna syahadat yang pertama “أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ الله” adalah : “Aku mengakui dan meyakini bahwa tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah.

Maksud dari “لَا إِلَهَ” (tidak ada tuhan) bukan berarti menafikan keberadaan tuhan atau sesembahan, akan tetapi maksudnya adalah menafikan hak sesembahan. Karena sebagaimana yang kita ketahui bahwa sesembahan itu sangatlah banyak, seperti pohon, batu, berhala, matahari, kuburan dan sesembahan-sesembahan batil lainnya. Namun, yang berhak untuk disembah hanya satu yaitu Allah ta’ala.

Allah ta’ala berfirman :

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِن دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.
(QS. Al-Hajj : 62)

Makna syahadat yang kedua “أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً رَسُولُ اللهِ” adalah : “Aku mengakui dan menyatakan bahwa Muhammad adalah Rasul Allah yang diutus untuk seluruh manusia, dan dua golongan (yakni jin dan manusia).”

Pengakuan dan pernyataan kerasulan Muhammad ini harus dengan hati dan dengan lisannya. Karena siapa yang mengakui dengan lisannya saja maka ia adalah munafik.

Demikian apabila mengakui dengan hatinya juga tidaklah cukup karena orang Yahudi dan Nasranipun mengakui dengan hatinya bahwa Muhammad adalah Rasulullah, akan tetapi mereka malah kufur terhadapnya dan tidak mau mengakui dengan lisannya. Allah ta’ala berfirman :

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ ۖ وَإِنَّ فَرِيقًا مِّنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.
(QS. Al-Baqarah : 146)

Maka bagi seorang yang bersyahadat dan mampu mengucapkannya dengan lisannya ia juga harus mengikrarkannya dengan lisan.
  • Konsekwensi Mengucapkan Dua Kalimat Syahadat

Konsekwensi dari syahadat yang pertama adalah mengikhlaskan atau memurnikan ibadah hanya untuk Allah. Inilah yang disebut dengan tauhid uluhiyyah atau tauhid ibadah. Karena makna dari syahadat yang pertama ini adalah “Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah.”

Oleh karena itu, barang siapa yang bersyahadat dengan syahadat yang pertama ini maka ia harus memurnikan ibadah untuk Allah dan menjauhi riya’ serta kesyirikan lainnya. Barang siapa yang bersyahadat dengan syahadat ini lalu ia menyembah kepada selain Allah maka ia adalah pendusta.

Konsekwensi dari syahadat yang kedua adalah :

Pertama, membenarkan apapun yang dikabarkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam tanpa keraguan sedikitpun.

Kedua, mengikuti perintah-perintahnya serta menjauhi larangannya dengan segenap kemampuannya tanpa pilah-pilih mana yang cocok untuk dirinya.

Ketiga, mendahulukan perkataan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dari pada perkataan manusia selainnya. Tidaklah pantas apabila telah sampai hadits Nabi kepada kita kemudian kita mengatakan : “Kata Syaikh atau Imam fulan begini dan begitu”

Keempat, tidak mengada-ngadakan syariat baru yang tidak disyariatkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Karena diantara makna syahadat yang kedua ini adalah meninggalkan bid’ah atau perkara baru dalam agama.

Kelima, mengamalkan syariat Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam disertai dengan tashdiq (membenarkan). Karena mengamal tanpa disertai dengan tashdiq adalah peringainya orang-orang munafik. Mereka ikut shalat, puasa, haji, bahkan jihad, akan tetapi mereka tidak membenarkan apa yang datang dari Rasulullah.

Keenam, tidak meyakini adanya sifat rububiyyah di dalam diri Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam. Karena ia hanyalah manusia biasa dan hamba Allah yang diutus oleh Allah.

4. Rukun Kedua : Mendirikan Shalat

Mengapa rukun yang kedua adalah “Mendirikan Shalat”? Mengapa tidak disebut “Shalat” saja? Karena yang dikehendaki bukan hanya melaksanakan shalat saja akan tetapi benar-benar mendirikan shalat. Dan tidaklah dikatakan mendirikan shalat hingga ia mengerjakan syarat-syaratnya, rukun-rukunnya, dan juga hal-hal yang diwajibkan di dalam shalat itu sendiri.

Mendirikan shalat berarti :

Pertama, melaksanakan shalat sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Tidaklah dapat dikatakan mendirikan shalat apabila kita melaksanakan shalat sembarangan. Karena hal itu menyalahi sabda Nabi :

وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

Shalatlah sebagaimana kalian melihatku shalat
(HR. Bukhari : 631)

Kedua, melaksanakan shalat tepat pada waktunya. Allah ta’ala berfirman :

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَّوْقُوتًا

Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.
(QS. An-Nisa’ : 103)

Ketiga, benar-benar tunduk dan khusyuk serta menghadirkan hatinya dalam melaksanakan shalat. Karena shalat tidak hanya sekedar gerakan dan ucapan tanpa arti. Namun, shalat adalah ibadah yang juga melibatkan kekhusyukan hati. Karena khusyuk adalah ruhnya shalat. Allah ta’ala berfirman :

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ﴿١﴾ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ ﴿٢﴾

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya
(QS. Al-Mu’minun : 1-2)

Keempat, melaksanakan shalat di masjid secara berjamaah. Melaksanakan shalat di masjid secara berjamaah hukumnya wajib. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِهِ، فَلَا صَلَاةَ لَهُ، إِلَّا مِنْ عُذْرٍ

Barang siapa yang mendengar adzan, lalu ia tidak mendatanginya maka tidak ada shalat baginya kecuali karena uzur
(HR. Ibnu Majah : 793)

5. Rukun Ketiga : Membayar Zakat

Zakat merupakan hak yang diwajibkan oleh Allah ta’ala agar ditunaikkan oleh orang kaya kepada orang miskin. Allah ta’ala berfirman :

وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ

Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.
(QS. Adz-Dzariyat : 19)

Apabila zakat dibayarkan dengan senang hati maka Allah akan menerimanya. Namun, apabila mengingkari wajibnya zakat maka hukumnya kafir.

Apabila seseorang sudah tau bahwa zakat itu wajib namun ia tidak mau membayarnya maka pemerintah wajib mengambilnya secara paksa, atau menegurnya, atau memberinya pelajaran.

Apabila ada pasukan yang menghalangi pemerintah untuk mengambil zakatnya maka pemerintah wajib memeranginya hingga ia mau membayar zakatnya.

6. Rukun Keempat : Puasa Bulan Ramadhan

Puasa selama sebulan penuh wajib di tunaikkan oleh seorang muslim di setiap bulan Ramadhan. Allah ta’ala berfirman :

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu
(QS. Al-Baqarah : 185)

Namun, apabila ia berhalangan maka hendaknya ia ganti puasa itu di hari yang lain. Allah ta’ala berfirman :

وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain
(QS. Al-Baqarah : 185)

7. Rukun Kelima : Haji Bagi yang Mampu

Haji secara bahasa artinya menyengaja. Adapun secara syar’i yaitu sengaja mengunjungi baitul haram untuk menunaikkan manasik haji dan umrah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah.

Haji dan umrah adalah ibadah yang pelaksanaannya dilaksanakan di masjidil haram dan tempat-tempat sekitarnya yang telah di tentukan. Adapun waktunya, khusus haji hanya dilaksanakan di bulan tertentu, sementara umrah bisa dilaksanakan kapanpun di sepanjang tahun. Allah ta’ala berfirman :

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ

(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi
(QS. Al-Baqarah : 197)

Haji wajib ditunaikkan bagi yang mampu baik dari kemampuan harta, badan, maupun perjalanan. Allah ta’ala berfirman :

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا

mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah
(QS. Ali Imran : 97)

Haji hanya diwajibkan sekali dalam seumur hidup. Di dalam hadits disebutkan, bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam berkhutbah :

أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ فَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمُ الْحَجَّ، فَحُجُّوا
Wahai manusia, Allah telah mewajibkan haji pada kalian! Maka berhajilah!

فَقَالَ رَجُلٌ: أَكُلَّ عَامٍ يَا رَسُولَ اللهِ؟
Lalu ada seorang lelaki bertanya : “Apakah setiap tahun wahai Rasulullah?”

فَسَكَتَ حَتَّى قَالَهَا ثَلَاثًا، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَوْ قُلْتُ: نَعَمْ لَوَجَبَتْ، وَلَمَا اسْتَطَعْتُمْ

Maka Rasulullah diam hingga lelaki itu bertanya tiga kali. Lalu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : Seandainya aku mengatakan “Ya” maka akan menjadi wajib dan kalian tidak akan mampu.
(HR. Muslim : 1337)

Demikianlah pembahasan hadits tentang Islam Iman dan Ihsan dicukupkan hingga pembahasan Islam terlebih dahulu. Untuk pembahasan Iman dan Ihsan insya Allah akan kita pelajari pada artikel selanjutnya. Barakallaahufiikum.

Oleh : Adam Rizkala

Refrensi :
  • Al-Arbaun An-Nawawiyyah : Imam An-Nawawi
  • Jamiul Ulum wal Hikam : Ibnu Rajab
  • Syarah Al-Arbain An-Nawawiyyah : Al-Utsaimin
  • Al-Minhatur Rabbaniyyah fii Syarh Al-Arbain An-Nawawiyyah : Shalih Al-Fauzan
Klik untuk Membaca : Penjelasan Hadits Tentang Islam Iman dan Ihsan Bagian 2

Berlangganan untuk menerima pembaruan email gratis:

0 Response to "Penjelasan Hadits Tentang Islam Iman dan Ihsan - Hadits Arbain ke 2 [Bagian 1]"

Posting Komentar