Mengenal Al-Quran dan Keutamaannya Melalui Al-Quran



Diantara bentuk karunia Allah kepada kita adalah bahwa Ia tidak meninggalkan kita begitu saja tanpa memberikan petunjuk dalam kehidupan. Oleh karena itulah Allah mengutus utusan-Nya yang mengajarkan kitab yang berisi petunjuk dalam kehidupan.

Kita sebagai umat Islam tentu tidak asing lagi dengan kitab yang dibawa oleh para utusan Allah; mulai dari Zabur, Taurat, Injil dan Al Quran. Yang mana kita semua beriman dan meyakini bahwa semua kitab itu datangnya dari Allah.

Namun, diantara kitab tersebut kitab yang terakhirlah yang wajib kita jadikan pedoman baik dalam masalah akidah maupun ibadah dan muamalah. Karena kitab tersebut dibawa oleh Nabi dan Rasul terakhir yang merupakan penutup dari para Rasul sebelumnya.

Pada kesempatan kali ini kita akan mengenal bersama “Apa itu Al Quran?” secara mendalam. Dengan “Mengenal Al Quran” inilah akan tumbuh rasa cinta di hati kita untuk membacanya, menghafalnya, mempelajarinya, mengamalkannya, dan juga mendakwahkannya.

1. Pengertian Al Quran

Pengertian Al-Quran secara bahasa : Al-Quran merupakan mashdar (infinitif) dari kata “قَرَأَ – قِرَاءَةً - وَقُرْآنًا” (qara’a - qiraa’atan - waqur’aanan) yang bararti bacaan. Pengertian ini diambil dari firman Allah ta’ala :

إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ ﴿١٧﴾ فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ ﴿١٨﴾

Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.
(QS. Al-Qiyamah : 17-18)

Sebagian ulama juga berpendapat bahwa lafal “Qur’an” adalah nama yang tidak memiliki asal kata (isim ‘alam ghairu musytaq). Hal itu dikarenakan “Qur’an” merupakan sebuah nama khusus untuk firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam. Sebagaimana “Taurat” dan “Injil” yang mana keduanya merupakan nama yang disematkan pada kitab Allah yang tidak memiliki asal kata.

Berikut pengertian Al-Quran secara syar’i menurut para ulama :
  • Manna Al-Qotthon

كلام الله، المنزل على محمد -صلى الله عليه وسلم- المتعبد بتلاوته

Al-Quran adalah firman Allah yang diturunkan atas Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam, dan beribadah dengan membacanya.[1]
  • Syaikh Al-Utsaimin

كلام الله تعالى المنزل على رسوله وخاتم أنبيائه محمد صلى الله عليه وسلم، المبدوء بسورة الفاتحة، المختوم بسورة الناس

Al-Quran adalah firman Allah ta’ala yang diturunkan kepada Rasul-Nya dan penutup para Nabi-Nya Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam, yang diawali dari surat Al-Fatihah dan ditutup dengan surat An-Naas.[2]
  • DR. Muhammad Ali Al-Hasan

إنّ القرآن هو كلام الله المعجز المنزّل على محمد صلّى الله عليه وسلّم المنقول تواترا والمتعبد به تلاوة

Al-Quran adalah firman Allah yang merupakan mukjizat yang diturunkan kepada Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam yang dinukil secara mutawatir dan beribadah dengan membacanya.[3]

Dari ketiga definisi yang disebutkan dapat kita ambil beberapa poin sebagai berikut :
  • Al-Quran adalah kalam Allah. Ia bukanlah kalam manusia ataupun jin. Ia juga bukan makhluk sebagaimana yang dikatakan oleh sekte mu’tazilah.
  • Al-Quran adalah mukjizat. Yang mana Al-Quran itu menjadikan siapapun tidak mampu menjawab tantangan Al-Quran sebagai bukti kebenaran risalah Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam.
  • Al-Quran adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam. Maka kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi selain Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam bukanlah Al-Quran.
  • Al-Quran dinukil secara mutawatir. Maka qira’at yang syadz bukanlah Al-Quran.
  • Al-Quran secara urutan diawali dengan surat Al-Fatihah dan ditutup dengan surat An-Naas. Urutan tersebut adalah urutan yang tauqifi, bukan ijtihadiy. Inilah pendapat yang terkuat dikalangan para ulama mengenai urutan surat dalam Al-Quran.
  • Al-Quran akan bernilai ibadah apabila dibaca meskipun tanpa menghayati artinya. Al-Quran juga dibaca saat mekalsanakan ibadah seperti shalat. Sementara firman Allah seperti qira’at ahad dan hadits qudsi tidak bisa dibaca dalam shalat.
Muhammad Ali Ash-Shobuni dalam kitabnya[4] mendefinisikan bahwa Al-Quran adalah yang termaktub dalam mushaf. Namun, pendapat ini perlu dikoreksi. Karena definisinya lebih tepat untuk mendefinisikan “mushaf Al-Quran”, bukan “Al-Quran”.

Karena dari definisi dan poin-poin di atas juga menunjukkan bahwa Al-Quran bukan hanya yang tercetak dalam mushaf. Namun, termasuk yang dibaca dengan lisan dan diputar dari rekaman itu juga termasuk Al-Quran.

Oleh karenanya, ketika kita mendengarkan orang yang membaca Al-Quran maka dapat dikatakan kita sedang “mendengarkan Al-Quran” bukan mendengarkan perkataan orang yang membacanya.

Demikian pula mendengarkan rekaman Al-Quran juga dapat dikatakan “mendengarkan Al-Quran”. Karena memutar rekaman Al-Quran di dalam kamar mandipun juga berlaku keharamannya.

Seandainya mendengar rekaman Al-Quran tidak dapat dikatakan “mendengarkan Al-Quran” seharusnya menyetelnya dikamar mandipun boleh, karena ia bukanlah Al-Quran, melainkan hanya rekaman.

Demikianpula membawa mushaf Al-Quran ke dalam kamar mandi juga tidak diperbolehkan. Karena ia adalah Al-Quran yang termaktub di dalam mushaf.

Kesimpulannya Al-Quran tidak hanya sebatas yang dimushaf saja. Namun, ia juga yang ditulis, dibukukan, dibaca, dan diputar oleh rekaman.

Pengertian Al-Quran juga tidak hanya digunakan untuk keseluruhan Al-Quran saja. Namun, mencakup satu surat dan satu ayatpun juga disebut Al-Quran. Oleh karena itu bila kita membaca atau mendengar satu ayat saja dapat dikatakan kita sedang “membaca atau mendengarkan Al-Quran”

Pengertian bahwa Al-Quran bukan hanya yang termaktub di mushaf dan satu surat atau satu ayatpun juga dapat dikatakan sebagai Al-Quran ditunjukkan oleh firman Allah ta’ala :

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.
(QS. Al-A’raf : 204)

Maksud dari ayat tersebut adalah apabila dibacakan Al-Quran baik itu satu ayat, satu surat, ataupun keseluruhan Al-Quran maka dengarkanlah baik-baik. Oleh karena itu, sekali lagi, kami katakan bahwa Al-Quran juga mencakup satu surat dan satu ayat.

2. Nama-nama Al-Quran

Allah subhanahu wata’ala menami Al-Quran dengan banyak nama, diantaranya :
  • 1. Al-Quran

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus
(QS. Al-Isra’ : 9)

Ia dinamai Al-Quran karena ia juga berfungsi sebagai bacaan, yang mana “bacaan” itu sendiri merupakan arti Al-Quran secara bahasa yang telah kita bahas sebelumnya.
  • 2. Al-Kitab

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ

Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,
(QS. Al-Baqarah : 2)

Ia dinamai Al-Kitab karena ia juga terjaga di dalam tulisan. Al-Kitab secara bahasa berarti Al-Jam’u (mengumpulkan). Ia dinamakan Al-Kitab juga karena di dalamnya terkumpul berbagai macam ilmu, kisah, dan berita.
  • 3. Al-Furqon

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا

Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam,
(QS. Al-Furqon : 1)

Al-Furqon berarti memisah. Ia dinamai demikian karena ia merupakan pemisah yang tegas antara yang haq dan batil, benar dan salah, dan baik dan buruk.
  • 4. Adz-Dzikr

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikr (Al Quran), dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.
(QS. Al-Hijr : 9)

Adzi-Dzikri berarti mengingatkan. Ia dinamai demikian karena di dalamnya memuat berbagai peringatan dan pelajaran berupa kisah umat terdahulu yang dapat diambil sebagai nasehat.
  • 5. At-Tanzil

وَإِنَّهُ لَتَنزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam,
(QS. Asy-Syu’ara’ : 192)

At-Tanzil artinya benar-benar diturunkan. Ia dinamai demikian karena Al-Quran benar-benar diturunkan oleh Allah ta’ala kepada Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam.

Dari kelima nama tersebut ada dua nama yang mendominasi di dalam Al-Quran, yaitu Al-Quran dan Al-Kitab. Ia dinamai Al-Quran karena ia dibaca dengan lisan, dan dinamai dengan Al-Kitab karena ia ditulis dengan pena.

Dari penamaan tersebut menunjukkan bahwa ia harus dijaga di dua tempat yaitu di dalam hati (dengan hafalan) dan di dalam tulisan. Oleh karena itu hafalan seseorang terhadap Al-Quran tidak dikatakan tsiqah hingga hafalannya itu cocok dengan rasm yang telah disepakati oleh para sahabat. Dan sebuah kitab atau mushaf Al-Quran juga tidak dikatakan tsiqah sehingga ia mencocoki apa yang telah dihafal oleh para penghafal Al-Quran dengan sanad yang shahih dan juga mutawatir. Demikian itulah lima nama Al-Quran yang disepakati oleh para ulama.

3. Sifat-sifat Al-Quran

Allah subhanahu wata’ala juga mensifati Al-Quran dengan banyak sifat. Hal ini menunjukkan betapa agungnya Al-Quran dan betapa banyak keberkahan yang ada di dalamnya.

Berikut ini beberapa sifat-sifat Al-Quran yang Allah sebutkan dalam Al-Quran :
  • 1. Nur (Cahaya)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُم بُرْهَانٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَأَنزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُّبِينًا

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu. (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Quran)
(QS. An-Nisa’ : 174)
  • 2. Mau’idzah, Syifa’, Hudan, dan Rahmah (Pelajaran, Penyembuh, Petunjuk, dan Rahmat)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.
(QS. Yunus : 57)
  • 3. Mubarak (Diberkahi)

وَهَٰذَا كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ مُّصَدِّقُ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ

Dan ini (Al Quran) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya
(QS. Al-An’am : 92)
  • 4. Mubin (Menerangkan)

قَدْ جَاءَكُم مِّنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُّبِينٌ

Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan.
(QS. Al-Maidah : 15)
  • 5. Busyra (Berita Gembira)

مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَبُشْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ

membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.
(QS. Al-Baqarah : 97)
  • 6. Aziz (Mulia)

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِالذِّكْرِ لَمَّا جَاءَهُمْ ۖ وَإِنَّهُ لَكِتَابٌ عَزِيزٌ

Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Al Quran ketika Al Quran itu datang kepada mereka, (mereka itu pasti akan celaka), dan sesungguhnya Al Quran itu adalah kitab yang mulia.
(QS. Fush-shilat : 41)
  • 7. Majid (Mulia)

بَلْ هُوَ قُرْآنٌ مَّجِيدٌ

Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Quran yang mulia,
(QS. Al-Buruj : 21)
  • 8. Basyir dan Nadzir (Berita Gembira dan Peringatan)

كِتَابٌ فُصِّلَتْ آيَاتُهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لِّقَوْمٍ يَعْلَمُونَ ﴿٣﴾ بَشِيرًا وَنَذِيرًا فَأَعْرَضَ أَكْثَرُهُمْ فَهُمْ لَا يَسْمَعُونَ ﴿٤﴾

Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling, tidak mau mendengarkan.
(QS. Fush-shilat : 3-4)

4. Keutamaan Al-Quran

  • Kitab yang Terjaga

Al-Quran adalah satu-satunya kitab Allah yang terjaga kemurnian lafal dan maknanya hingga saat ini. Kitab ini akan senantiasa terjaga di dalam hafalan para penjaga Al-Quran dan di dalam setiap mushaf yang dicetak.

Hal ini dikarenakan Al-Quran adalah kitab yang paling mudah untuk dihafalkan dan dijadikan sebagai peringatan. Allah ta’ala berfirman :

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?
(QS. Al-Qomar : 40)

Ini merupakan janji dan jaminan Allah subhanahu wata’ala terhadap Al-Quran yang mana Ia akan terus menjaganya melalui hati para hamba-Nya. Allah ta’ala berfirman :

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikr (Al Quran), dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.
(QS. Al-Hijr : 9)
  • Al-Quran Menjelaskan Semuanya

Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa Al-Quran adalah kitab yang menjelaskan semua ilmu dan segala sesuatu. Al-Quran itu mencakup semua ilmu yang bermanfaat, baik itu tentang berita terdahulu dan pengetahuan tentang masa yang akan datang.

Di dalam Al-Quran juga telah disebutkan setiap perkara yang halal dan haram. Segala sesuatu yang diperlukan oleh manusia dalam urusan dunia, agama, penghidupan, dan akhirat juga telah dijelaskan dalam Al-Quran.[5]

Allah ta’ala berfirman :

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ

Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.
(QS. An-Nahl : 89)

وَمَا كَانَ هَٰذَا الْقُرْآنُ أَن يُفْتَرَىٰ مِن دُونِ اللَّهِ وَلَٰكِن تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ الْكِتَابِ لَا رَيْبَ فِيهِ مِن رَّبِّ الْعَالَمِينَ

Tidaklah mungkin Al Quran ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (Al Quran itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam.
(QS. Yunus : 37)
  • Tidak Ada yang Bertentangan di dalam Al-Quran

Al-Quran adalah kitab yang tidak akan pernah ditemukan pertentangan, dan kelabilan di dalamnya. Semua yang ada di dalam Al-Quran seimbang, selaras, lurus, dan tidak ada cacat dan kesalahan sedikitpun. Ini menunjukkan bahwa Al-Quran benar-benar dari Allah.

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.
(QS. An-Nisa’ : 82)

Maka barang siapa yang mencari kecacatan dalam Al-Quran ia tidak akan pernah menemukannya. Allah ta’ala berfirman :

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنزَلَ عَلَىٰ عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَل لَّهُ عِوَجًا

Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al-Quran) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya;
(QS. Al-Kahfi : 1)
  • Al-Quran adalah Obat

Al-Quran adalah penawar dan obat terhadap hati. Ia dapat menyembuhkan kebodohan, kemunafikan, kesyirikan, kerancuan, kebimbangan, keraguan dan semua penyakit yang ada di dalam hati. Allah ta’ala berfirman :

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.
(QS. Al-Isra’ : 82)

Bahkan penyakit badanpun bisa disembuhkan dengan bacaan Al-Quran, sebagaimana kisah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitabnya tentang seorang lelaki yang berhasil menyembuhkan penyakit seorang kepala desa dengan bacaan Al-fatihah.[6]
  • Al-Quran adalah Petunjuk yang Lurus

Al-Quran adalah penuntun dan penunjuk pada jalan yang lurus. Tidak ada satupun petunjuk yang menyimpang di dalam Al-Quran. Lurusnya sempurna dan tidak ada bengkoknya sedikitpun.

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar
(QS. Al-Isra’ : 9)
  • Tidak ada Satupun Makhluk yang Mampu Menandingi Al-Quran

Al-Quran begitu sempurna. Tidak ada cacatnya sedikitpun dari segala sisi. Ia adalah petunjuk yang lurus. Sastra dan bahasanya sangatlah tinggi dan indah. Karena ia adalah kalam Allah.

Al-Quran dibandingkan kalam makhluk bagaikan perbandingan antara sang Pencipta dengan makhluk-Nya. Menunjukkan betapa agung dan mulianya Al-Quran dibandingkan yang lainnya.

Allah menantang bagi siapapun yang mampu menandingi kehebatan dan kedahsyatan Al-Quran untuk membuat satu surat saja yang sebanding Al-Quran. Allah ta’ala berfirman :

وَإِن كُنتُمْ فِي رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِّن مِّثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُم مِّن دُونِ اللَّهِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.
(QS. Al-Baqarah : 23)

Tidak ada satupun yang mampu menandingi Al-Quran. Meskipun seandainya seluruh manusia dan jin berkumpul dan bekerjasama bahkan semua diantara mereka adalah pakar dalam segala ilmu, maka mereka tidak akan pernah mampu untuk membuat semisal Al-Quran.

قُل لَّئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنسُ وَالْجِنُّ عَلَىٰ أَن يَأْتُوا بِمِثْلِ هَٰذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا

Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain".
(QS. Al-Isra’ : 88)

Demikianlah artikel mengenal Al-Quran dan keutamaannya secara mendalam. Semoga Allah jadikan tulisan ini bermanfaat bagi kita semua.

Oleh : Adam Rizkala

Referensi :
  • Mabahits fi Ulumil Quran : Manna Al-Qotthoon
  • Al-Itqan fi Ulumil Quran : Jalaluddin As-Suyuthi
  • Al-Manaar fi Ulumil Quran : DR. Muhammad Ali Hasan
  • At-Tibyaan fi Ulumil Quran : Muhammad Ali Ash-Shoobuniy
  • Ushulun fi At-Tafisr : Muhammad Shalih Al-Utsaimin

[1] Manna Al-Qotthoon, Mabahits fi Ulumil Quran (Maktabah Al-Ma’arif, 2000), hlm. 17
[2] Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Ushul fi At-Tafsir, (Maktabah Al-Islamiyyah), hlm 6.
[3] Muhammad Ali Hasan, Al-Manaar fi Ulumil Quran, (Bairut: Muassasah Ar-Risalah, 2000), hlm 14.
[4] At-Tibyan fi Ulumil Quran, (Dar Amsan, Cet. ke-2), hlm 8.
[5] Tafsir Ibnu Katsir surat An-Nahl ayat 89
[6] Lihat kisah lengkapnya dalam kitab Shahih Bukhari no. 5007.

Berlangganan untuk menerima pembaruan email gratis:

0 Response to "Mengenal Al-Quran dan Keutamaannya Melalui Al-Quran"

Posting Komentar