Nasehat Islami : Jalan yang Lurus VS Jalan yang Menyimpang

Jalan yang Lurus

Kita sebagai umat Islam meyakini dan sepakat bahwa satu-satunya agama yang benar adalah agama Islam. Dan kita meyakini bahwa semua agama di luar Islam adalah agama yang tidak akan pernah diterima oleh Allah.

Namun, yang menjadi permasalahan adalah umat Islam sendiri berpecah menjadi beberapa golongan. Hal ini tidak bisa kita pungkiri mengingat Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam telah menubuwatkan hal ini dan pada hari ini sudah kita saksikan bukti dari nubuwat beliau.

Maka, diantara Islam-Islam yang ada pada saat ini, ISLAM MANAKAH YANG BENAR? Islam sebelah mana yang harus kita jadikan pijakan dalam ilmu dan amal? Islam manakah yang meniti jalan yang lurus?

Apakah Islam model wahabi?
Apakah Islam model aswaja?
Apakah Islam model hizbut tahrir?
Apakah Islam model ikhwanul muslimin?
Islam yang manakah yang benar??

Untuk mengetahui Islam manakah yang benar maka sepatutnya kita kenali kebenaran itu sendiri. Dengan mengetahui kebenaran itulah maka kita akan mengetahui siapa yang berada di pihak yang benar.

Oleh karena itu, pada artikel ini akan kami paparkan Islam seperti apakah yang harus kita ikuti. Bismillah., mari kita mulai, :

1. Dibalik Surat Al-Fatihah

Sebagai seorang muslim tentu kita pasti melaksanakan shalat 5 waktu setiap hari. Di setiap rakaat shalat yang kita laksanakan kita diwajibkan untuk membaca surat Al-Fatihah sebagai rukun dalam shalat.

Namun, kebanyakan dari kita tidak memahami kandungannya secara mendalam. Padahal apabila kita mau menyelami surat tersebut maka akan tersingkap dahsyatnya rahasia dibalik surat tersebut.

Diantara dahsyatnya surat Al-Fatihah adalah bahwa ternyata di surat itulah terjadi pembagian antara jalan yang lurus dan jalan yang sesat dan menyimpang. Allah ta’ala berfirman :

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ ﴿٦﴾ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ ﴿٧﴾

Tunjukilah kami jalan yang lurus, (6)
(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (7)
(QS. Al-Fatihah : 6-7)

Dari kedua ayat tersebut Allah ta’ala mengisyaratkan sekaligus mengabarkan kepada kita bahwa jalan yang ditempuh manusia ada 3, yakni :
  • Jalannya orang yang lurus/istiqomah
  • Jalannya orang yang dimurkai
  • Dan Jalannya orang yang tersesat
Jalan yang pertama adalah jalan yang harus kita tempuh, sedangkan jalan yang kedua dan ketiga adalah jalan menyimpang yang harus kita hindari.

Lalu, apakah makna dari ketiga jalan tersebut? Mari kita bahas satu persatu :
  • Jalan yang Lurus

Jalan lurus yang dimaksud pada surat Al-Fatihah ayat 6, diterangkan oleh Allah pada ayat selanjutnya, yaitu ayat yang ke-7 :

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ

(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka
(QS. Al-Fatihah : 7)

Namun, ayat ini masih membutuhkan perincian, mengingat kalimat : “الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ(orang-orang yang telah engkau beri nikmat kepada mereka) bermakna umum. Oleh karena itu, para ahli tafsir menafsirkan ayat ini dengan firman Allah :

وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا

Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.
(QS. An-Nisa’ : 69)

Dari penafsiran ini bisa kita ambil kesimpulan bahwa jalan yang lurus adalah jalan yang ditempuh oleh para Nabi, para shiddiqiin, para syuhada’, dan orang-orang shalih.
  • Jalan yang Dimurkai

Pada potongan ayat selanjutnya Allah menyebutkan bahwa jalan yang lurus bukanlah jalan orang-orang yang dimurkai. Lantas, siapakah mereka yang dimurkai oleh Allah ini?

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa yang dimaksud oleh orang yang dimurkai oleh Allah adalah orang Yahudi.[1] Hal ini dikarenakan telah sampai kebenaran kepada mereka akan tetapi mereka tidak mau mengikutinya. Allah ta’ala berfirman :

بِئْسَمَا اشْتَرَوْا بِهِ أَنفُسَهُمْ أَن يَكْفُرُوا بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ بَغْيًا أَن يُنَزِّلَ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ عَلَىٰ مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۖ فَبَاءُوا بِغَضَبٍ عَلَىٰ غَضَبٍ ۚ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ مُّهِينٌ

Alangkah buruknya (hasil perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah, karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya. Karena itu mereka mendapat murka sesudah (mendapat) kemurkaan. Dan untuk orang-orang kafir siksaan yang menghinakan.
(QS. Al-Baqarah : 90)

Ayat tersebut menggambarkan kepada kita bahwa penolakan ahli kitab terhadap apa yang diturunkan oleh Allah adalah karena kedengkian, bukan karena kebodohan atau ketidaktahuan.

Sebetulnya mereka telah mengetahui perihal kedatangan Nabi terakhir yang ada di dalam kitab-kitab mereka. Bahkan mereka mengenal cirinya dengan detail sebagaimana mereka mengenal ciri anak mereka sendiri. Allah ta’ala berfirman :

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ

Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri.
(QS. Al-Baqarah : 146)

Dari sinilah kita bisa mengetahui bahwa jalan yang dimurkai adalah jalan bagi mereka yang mengetahui kebenaran akan tetapi mereka tidak mau mengikuti kebenaran itu sendiri.
  • Jalan yang Sesat

Setelah disebutkannya jalan yang dimurkai maka jalan selanjutnya adalah jalan yang sesat. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa jalan yang sesat adalah jalannya orang Nasrani.

Allah ta’ala berfirman tentang ihwal kesesatan mereka :

قَدْ ضَلُّوا مِن قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَن سَوَاءِ السَّبِيلِ

orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus
(QS. Al-Maidah : 77)

Para ulama tafsir[2] menjelaskan bahwa mereka tersesat karena mereka tidak mengetahui kebenaran. Mereka tidak melandaskan ilmu dalam amalan mereka sehingga mereka tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Mereka bagaikan orang yang berjalan menuju suatu tempat tetapi tidak mengetahui petunjuk arahnya.

Inilah jalan yang ketiga, yaitu jalannya mereka yang tidak melandaskan ilmu dalam menjalankan agamanya.

2. Ciri-ciri Jalan yang Lurus

  • Islam

Pada pembahasan sebelumnya telah kita ketahui bersama bahwa jalan yang lurus adalah jalan yang ditempuh oleh para Nabi, para shiddiqin, para syuhada’ dan orang-orang shalih. Maka jalan yang seperti apakah itu?

Tidak dipungkiri lagi, bahwa jalan yang ditempuh oleh para Nabi adalah Islam itu sendiri. Mereka (para Nabi) adalah orang-orang yang beragama Islam, yaitu agama yang mentauhidkan Allah dan tidak menyekutukan-Nya.

Allah ta’ala berfirman :

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku".
(QS. Al-Anbiya’ : 25)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa agama para Nabi dan Rasul adalah agama Islam, yaitu agama tauhid; agama yang menyembah hanya kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya.

Berikut ini firman-firman Allah dalam Al-Quran yang menunjukkan bahwa agama para Nabi adalah Islam :

Agama Nabi Nuh adalah Islam :

وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ

dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang muslim
(QS. Yunus : 72)

Agama Nabi Ibrahim adalah Islam :

مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَٰكِن كَانَ حَنِيفًا مُّسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi muslim dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.
(QS. Ali Imran : 67)

Maka barang siapa yang mengatakan bahwa Ibrahim adalah bapak tiga agama (Yahudi, Nasrani, dan Islam) maka sungguh ia adalah orang yang bodoh atau berdusta!

Agama Nabi Musa adalah Islam :

وَقَالَ مُوسَىٰ يَا قَوْمِ إِن كُنتُمْ آمَنتُم بِاللَّهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُوا إِن كُنتُم مُّسْلِمِينَ

Berkata Musa: "Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang muslim".
(QS. Yunus : 84)

Agama Nabi Isa adalah Islam :

فَلَمَّا أَحَسَّ عِيسَىٰ مِنْهُمُ الْكُفْرَ قَالَ مَنْ أَنصَارِي إِلَى اللَّهِ ۖ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنصَارُ اللَّهِ آمَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail) berkatalah dia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?" Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: "Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang muslim.
(QS. Ali Imran : 52)
  • Berpedoman Al-Quran dan As-Sunnah

Sebagaimana fenomena yang terjadi saat ini, bahwa Islam sendiri terpecah-belah menjadi beberapa golongan. Masing-masing dari golongan itu saling mengklaim bahwa golongan merekalah yang benar.

Agama Islam sendiri sebenarnya adalah jalan yang lurus. Namun kini banyak golongan dalam Islam yang membuat perkara baru dalam Islam dan mengklaim bahwa perkara itu adalah bagian dari Islam. Padahal perkara yang mereka buat itu bukanlah berasal dari Islam. Inilah yang disebut dengan bid’ah.

Maka Islam yang murni adalah Islam yang berpedoman dengan Al-Quran dan As-Sunnah. Islam yang sejati adalah Islam yang tidak dikurangi maupun ditambah. Inilah Islam yang benar-benar sesuai dengan wasiat Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam :

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ

Aku tinggalkan dua perkara dikalangan kalian yang kalian tidak akan tersesat apabila berpegang pada keduanya : (yaitu) kitabullah dan sunnah nabi-Nya.
(HR. Malik dalam kitab Muwatho’ : 5/1323)

Hadits ini menunjukkan bahwa apabila kita senantiasa berpegang dengan Al-Quran dan As-Sunnah maka kita tidak akan tersesat. Karena keduanya itu adalah petunjuk kepada jalan yang lurus. Allah ta’ala berfirman :

قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنزِلَ مِن بَعْدِ مُوسَىٰ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُّسْتَقِيمٍ

Mereka berkata: "Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.
(QS. Al-Ahqaf : 30)

وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.
(QS. Asy-Syura : 52)
  • Memahami Al-Quran dan As-Sunnah dengan Benar

Ketika kita berbicara mengenai golongan atau sekte dalam Islam maka sebagian besar dari mereka mengklaim bahwa mereka berpegang dengan Al-Quran dan As-Sunnah. 

Bahkan mereka dengan bangganya berargumentasi dengan dalil-dalil Quran dan Sunnah untuk membenarkan pemahaman golongan mereka.

Namun sayang, dalil-dalil yang mereka jadikan argumentasi untuk membenarkan kesesatan golongan mereka, tidak sesuai dengan pemahaman yang benar. Hal ini dikarenakan mereka menafsirkan ayat-ayat dan hadits-hadits dengan pemikiran mereka sendiri.

Lantas, bagaimanakah cara kita memahami Al-Quran dan As-Sunnah dengan pemahaman yang benar??

Maka jawabannya adalah memahami Al-Quran dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman orang-orang yang menyaksikan turunnya Al-Quran dan menyaksikan apa yang dikerjakan dan disabdakan Rasulullah saat beliau masih hidup.

SIAPAKAH MEREKA ITU?

Siapa lagi kalau bukan para sahabat radhiyallahu ‘anhum, dan orang yang mengikuti mereka dari kalangan tabi’in, dan tabi’ tabi’in. Mereka itulah yang kita sebut dengan salafusshalih.

Mengapa pemahaman mereka terhadap Al-Quran dan As-Sunnah adalah pemahaman yang benar dan jauh dari kesesatan? Ada 3 dalil yang menunjukkan bahwa pemahaman mereka adalah pemahaman yang lurus.

Yang pertama, dalil dari Al-Quran :

فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنتُم بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوا

Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk
(QS. Al-Baqarah : 137)

Pada ayat tersebut Allah mengisyaratkan kepada kita bahwa jika kita mau beriman sebagaimana keimanan para sahabat maka sesungguhnya kita telah memperoleh petunjuk. Dalam artian kita berada di jalan yang benar.

Ayat ini membuktikan bahwa keimanan atau akidah para sahabat adalah akidah yang selamat dari penyimpangan.

Dalam ayat yang lain, jalan yang ditempuh oleh para sahabat adalah yang dapat menghindarkan kita dari kesesatan. Karena apabila kita menempuh selain jalannya para sahabat maka Allah akan biarkan kita leluasa dalam kesesatan. Allah ta’ala berfirman :

وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.
(QS. An-Nisa : 115)

Yang kedua, dalil dari As-Sunnah :

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

Sebaik-baiknya manusia adalah generasiku (para sahabat), kemudian orang yang sesudahnya (para pengikut sahabat/tabi’in), kemudian orang yang sesudahnya (para pengikut tabi’in/tabi’ut tabi’in)
(HR. Bukhari : 2652)

Hadits di atas menunjukkan bahwa generasi yang terbaik – baik itu pemahamannya terhadap agama, akidahnya, ilmunya, dan pengamalannya – adalah generasinya para sabahat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in.

Selain itu, Rasulullah juga memerintahkan kita untuk berpegang dengan sunnahnya para khalifah yang tidak lain dan tidak bukan mereka adalah para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

Sesungguhnya barang siapa dari kalian yang hidup setelahku akan melihat perselisihan yang sangat banyak. Maka berpeganglah dengan sunnahku dan sunnahnya para khalifah yang mendapat petunjuk dan juga lurus. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah dengan gigi geraham.
(HR. Abu Dawud : 4607)

Hadits di atas juga mengisyaratkan bahwa setelah wafatnya Rasulullah akan terjadi perselisihan yang sangat banyak. Dan saat ini kita melihat sendiri perselisihan itu telah terjadi dan masing-masing dari perselisihan yang ada juga mengklaim berpegang dengan dalil Al-Quran dan As-Sunnah

Oleh karena itu, selain berpegang dengan Al-Quran dan As-Sunnah kita juga diwajibkan berpegang dengan sunnahnya para khalifah, yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali radhiyallahu ‘anhum.

Yang ketiga, dalil dari akal :

Alasan bahwa pemahaman para salafusshalih (para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in) adalah pemahaman yang benar adalah karena mereka menyaksikan sendiri dalam konteks apa Al-Quran diturunkan, serta mendengar dan menyaksikan sendiri apa yang diucapkan dan diperbuat oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam semasa hidupnya.

Maka dalam hal ini mereka lebih mengetahui bagaimana cara beragama yang benar karena dalam menjalankan agamanya mereka dibimbing langsung oleh guru mereka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.

Hati mereka juga lebih ikhlas, jauh dari riya’ dan nifaq, serta bersih dari hawa nafsu. Sehingga pemahaman mereka terhadap agama tidak mengikuti hawa nafsu. Penafsiran mereka terhadap Al-Quran dan As-Sunnah juga jauh dari kepentingan duniawi dan kepentingan golongan.

Berbeda dengan orang saat ini yang pemahaman mereka dilandaskan atas dasar kepentingan duniawi dan kepentingan kelompok. Akibatnya mereka menafsirkan Al-Quran dan As-Sunnah berdasarkan kepentingan mereka tanpa mengikuti pemahaman para sahabat.

Pemahaman mereka terhadap bahasa Arab juga sangatlah fasih. Sehingga mereka sangat mengetahui apa yang dimaksud oleh Al-Quran dan apa yang disabdakan Rasulullah karena kemampuan pemahaman bahasa Arab mereka yang sangat mendalam.

3. Ciri-ciri Jalan yang Menyimpang

  • Jalan Selain Islam

Allah ta’ala berfirman :

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.
(QS. Ali Imran : 85)
  • Kekufuran

Sebagaimana yang dijelaskan dalam surat Al-Fatihah ayat 7, bahwa jalan yang menyimpang adalah jalannya orang Yahudi. Yaitu menolak kebenaran setelah mengetahuinya.

Pada hakikatnya mereka telah mengetahui kebenaran akan tetapi mereka kufur terhadap kebenaran itu sendiri bahkan mereka membunuh para Nabi yang menyampaikan kebenaran itu, sehingga mereka dimasukkan kedalam neraka oleh Allah.

Allah ta’ala berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَيَقْتُلُونَ الَّذِينَ يَأْمُرُونَ بِالْقِسْطِ مِنَ النَّاسِ فَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang tak dibenarkan dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka gembirakanlah mereka bahwa mereka akan menerima siksa yg pedih.
(QS. Ali Imran : 21)
  • Syirik

Telah dijelaskan pada poin sebelumnya bahwa jalan yang lurus adalah jalan Islam, yaitu mentauhidkan Allah dan tidak menyekutukan-Nya. Kebalikan dari tauhid itu sendiri adalah kesyirikan. Dan kesyirikan ini adalah jalan menyimpang yang akan menggelincirkan pelakunya ke dalam api neraka.

Allah ta’ala berfirman :

وَمَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.
(QS. An-Nisa : 116)
  • Bid’ah, Kebodohan, dan Hawa Nafsu

Bid’ah adalah keyakinan atau perbuatan baru dalam perkara agama yang tidak ada dalam agama Islam. Diantara penyebab munculnya bid’ah adalah mengikuti hawa nafsu dan kebodohan.

Apabila kita melihat umat Islam saat ini maka kita akan mendapati betapa mirisnya umat Islam saat ini banyak yang terjerumus ke dalam ritual-ritual yang sesungguhnya bukan berasal dari Islam.

Hal ini dikarenakan kurangnya ilmu yang mereka miliki sehingga mereka beramal tanpa berdasarkan ilmu. Akibatnya muncullah perbuatan bid’ah atau ritual ibadah yang tidak disyariatkan dalam Islam dikalangan mereka.

Bid’ah adalah jalan yang sesat dan pelakunya diancam akan dimasukkan ke dalam neraka. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

Takutlah kalian terhadap perkara-perkara yang baru, karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat.
(HR. Abu Dawud : 4607)

وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ

Sejelek-jeleknya perkara adalah hal yang baru, dan setiap hal yang baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat, dan setiap yang sesat itu di neraka.
(HR. Nasa’iy : 1578)

Inilah jalan yang harus kita hindari karena ini merupakan jalannya orang-orang Nasrani yang mana kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang beramal tanpa ilmu. Oleh karena itu, ilmu adalah kunci agar kita tidak terjerumus ke dalam jalannya kaum Nasrani.

Kesimpulan

Alhamdulillah, setelah kita bahas panjang lebar dapat kita simpulkan manakah jalan yang lurus dan manakah jalan yang menyimpang. Dari pembahasan yang begitu rinci tadi dapat kita simpulkan bahwa jalan yang lurus hanyalah satu, yaitu :

Agama Islam yang berpegang teguh dengan Al-Quran dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka

Islam yang seperti itulah yang berada di jalan yang lurus. Yaitu Islam yang ditempuh oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat. Sedangkan pecahan Islam selain itu maka ia adalah jalan yang sesat dan menyimpang.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً، قَالُوا: وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي

Umatku akan terpecah belah menjadi 73 millah (golongan). Semuanya berada di neraka kecuali satu millah (golongan).

Para sahabat bertanya : Siapakah itu wahai Rasulullah?

Beliau menjawab : “Apa yang aku dan para sahabatku berada di atasnya.”
(HR. Tirmidzi : 2641)

Dari hadits tersebut bisa kita ambil faedah bahwa agama Islam yang tidak mengikuti Nabi dan para sahabat adalah sesat dan terancam siksaan neraka. Hadits ini sangatlah agung karena mencakup maksud dari jalan yang lurus itu sendiri, yaitu :
  • Al-Quran

Yang mana Nabi dan para sahabatnya berada di atasnya adalah Islam yang tentunya pasti berpedoman dengan Al-Quran itu sendiri. Karena Al-Quran adalah petunjuk ke jalan yang lurus sebagaimana yang telah dibahas panjang lebar sebelumnya.
  • As-Sunnah

Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam adalah seorang penunjuk kepada jalan yang lurus. Oleh karena itu, bila kita istiqomah meniti sunnah Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam berarti kita telah meniti jalan yang lurus.
  • Pemahaman Sahabat

Demikian pula para sahabat tentu juga berada di jalan yang lurus. Maka, dengan mengikuti cara mereka dalam memahami Al-Quran dan As-Sunnah berarti kita telah menempuh jalan yang lurus.

Oleh : Adam Rizkala


[1] Lihat tafsir Ibnu Katsir tentang tafsir ayat ini
[2] Diantaranya Ibnu Katsir dan selainnya yang dijelaskan dalam kitab-kitab mereka perihal tafsir ayat ini.

Berlangganan untuk menerima pembaruan email gratis:

0 Response to "Nasehat Islami : Jalan yang Lurus VS Jalan yang Menyimpang"

Posting Komentar