Tujuan Hidup Manusia Menurut Islam

Tujuan Hidup Manusia Menurut Islam

“Apa tujuan Anda hidup di dunia ini?” Saya yakin akan ada banyak versi jawaban ketika pertanyaan itu diajukan kepada Anda.

Ada yang mengatakan tujuan hidup adalah untuk berbuat sebaik mungkin kepada sesama manusia.

Ada yang mengatakan tujuan hidup adalah untuk menjadi kaya.

Ada juga yang mengatakan tujuan hidup adalah untuk membahagiakan orang tua.

Bahkan ada juga yang menjadikan kekuasaan sebagai tujuan hidupnya.

Tentu semua jawaban itu tidak terlepas dari apa yang mendorongnya untuk meniti jalan tersebut.

Ketika kita masih kecil, sering kali kita ditanya oleh bapak atau ibu guru kita tentang apa yang menjadi tujuan hidup kita atau tentang apa yang kita cita-citakan. Jawabannya pun juga bermacam-macam.

Ada yang ingin jadi orang kaya, ada yang ingin jadi dokter, ada yang ingin jadi polisi dan sebagainya. Semua itu dengan mudah kita ucapkan seakan pasti kita akan menjadi apa yang kita impikan.

Namun, rupanya semua itu berubah tatkala kita menginjak usia dewasa. Di usia ini kita mulai mengetahui bahwa hidup tidak semudah apa yang kita bayangkan. Kita sadar bahwa semua itu perlu usaha yang keras untuk sukses mencapainya.

Betapa banyak usaha dan upaya kita lakukan demi mencapai apa yang menjadi tujuan kita. Waktu dan harta juga harus kita korbankan demi sukses menggapai apa yang kita impikan.

Sekolah bertahun-tahun, menghabiskan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Pergi pagi, pulang sore, tugas bertumpuk, tuntutan rangking tinggi dari orang tua, rasa malu kalau tidak naik kelas atau tidak lulus, semua itu menjadi beban yang sangat berat untuk kita.

Dilanjutkan lagi dengan kuliah demi memperoleh gelar sarjana. Biaya yang mahal, makalah dirobek, dosen killer, skripsi ditolak, semua itu harus kita hadapi untuk meraih gelar sarjana.

Lalu kita ikuti seminar-seminar untuk meraih apa yang kita tuju. Bahkan pergi jauh meninggalkan keluarga, istri, anak-anak, dan orang tua juga kita tempuh demi sebuah impian.

Namun, tak sedikit dari kita justru gagal meraih mimpi yang kita jadikan sebagai tujuan hidup.

Dan memang begitulah kehidupan dunia. Penuh dengan ketidakpastian dan tidak menentu. Apa yang kita perjuangkan mati-matian ternyata tak membuahkan hasil seperti apa yang diinginkan.

Apabila kita pikir-pikir, kegagalan dan kesuksesan akan selalu ada dalam kehidupan kita. Kalau tidak sukses maka ya kita gagal. Sebaliknya, kalau tidak gagal maka ya kita sukses. Hanya salah satu diantara dua pilihan itulah yang akan kita alami.

Tahukah Anda bahwa dibalik kedua pilihan tersebut ternyata ada fenomena yang jarang kita sadari. Apakah itu? Yaitu “Kematian!”

Keberhasilan dan kegagalan yang baru saja kita persepsikan ternyata bukanlah akhir dari segalanya. Karena, sesungguhnya ada “kematian” yang akan memisahkan kita dari kedua hal tersebut.

Kematian adalah perkara yang nyata, jelas dan dekat. Semua yang kita jadikan impian dan tujuan hidup duniawi akan sirna ditelan oleh kematian. Tak ada satupun dari kita yang mampu menolak, mengundur dan memajukan waktu kematian kita.

Allah ta’ala berfirman :

مَا تَسْبِقُ مِنْ أُمَّةٍ أَجَلَهَا وَمَا يَسْتَأْخِرُونَ

Tidak (dapat) sesuatu umatpun mendahului ajalnya, dan tidak (dapat pula) mereka terlambat (dari ajalnya itu).
(QS. Al-Mu’minun : 43)

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menggambarkan hidup manusia bagaikan didalam sebuah persegi empat yang mengelilinginya. Di dalam persegi empat itu terdapat sebuah garis lurus yang melewati persegi empat yang digambarkan sebagai cita-cita manusia.

Apabila manusia keluar dari persegi empat tersebut berarti dia sudah keluar dari kehidupannya. Ini menunjukkan bahwa cita-cita manusia terlalu jauh untuk dicapai dan melampaui batas ajalnya.

Dalam sebuah hadits dijelaskan :

خَطَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا مُرَبَّعًا وَخَطَّ خَطًّا فِي الْوَسَطِ خَارِجًا مِنْهُ وَخَطَّ خُطَطًا صِغَارًا إِلَى هَذَا الَّذِي فِي الْوَسَطِ مِنْ جَانِبِهِ الَّذِي فِي الْوَسَطِ وَقَالَ هَذَا الْإِنْسَانُ وَهَذَا أَجَلُهُ مُحِيطٌ بِهِ أَوْ قَدْ أَحَاطَ بِهِ وَهَذَا الَّذِي هُوَ خَارِجٌ أَمَلُهُ وَهَذِهِ الْخُطَطُ الصِّغَارُ الْأَعْرَاضُ فَإِنْ أَخْطَأَهُ هَذَا نَهَشَهُ هَذَا وَإِنْ أَخْطَأَهُ هَذَا نَهَشَهُ هَذَا

Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam membuat gambar persegi empat, lalu menggambar garis panjang di tengah persegi empat tadi dan keluar melewati batas persegi itu.

Kemudian beliau juga membuat garis-garis kecil di dalam persegi tadi, di sampingnya: (persegi yang digambar Nabi).

Lalu beliau bersabda : “Ini adalah manusia, dan (persegi empat) ini adalah ajal yang mengelilinginya, dan garis (panjang) yang keluar ini, adalah cita-citanya. Dan garis-garis kecil ini adalah penghalang-penghalangnya.

Jika tidak (terjebak) dengan (garis) yang ini, maka kena (garis) yang ini. Jika tidak kena (garis) yang itu, maka kena (garis) yang setelahnya. Jika tidak mengenai semua (penghalang) tadi, maka dia pasti tertimpa tua renta.
(HR. Bukhari : 6417)



 Keterangan :
  • Garis Biru : Batas hidup manusia
  • Garus Merah : Cita-cita atau angan-angan manusia
  • Garis Hitam : Masalah/rintangan yang dihadapi manusia
Subhanallaah..! Betapa pendeknya umur kita dan betapa jauhnya apa yang kita angan-angankan!

Lalu, apa hakikat tujuan hidup ini apabila ternyata ujungnya adalah kematian? Untuk apa kita meraih angan-angan setinggi langit sementara kematian dapat memisahkan kita dengan angan-angan tersebut?

Maka ketahuilah wahai saudaraku, bahwa tujuan kita hidup di dunia ini adalah semata-mata untuk beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala. Allah ta’ala berfirman :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepadaKu”
(Q.S Adz-Dzariyat : 56)

Ayat tersebut mengisyaratkan kepada kita bahwa tujuan diciptakannya dua makhluk –jin dan manusia– adalah untuk beribadah kepada Allah ta’ala. Tidak ada tujuan lain kita dihidupkan di dunia ini selain untuk beribadah kepada-Nya.

Betapa banyak dari kita yang tidak sadar akan hal ini. Padahal kita menyadari bahwa ujung dari kehidupan kita adalah kematian.

Namun, betapa banyak dari kita yang justru menjadikan finish dalam hidupnya adalah kehidupan dunia karena menyangka tidak akan dibangkitkan setelah kematian. Allah ta’ala berfirman :

أَلَا يَظُنُّ أُولَٰئِكَ أَنَّهُم مَّبْعُوثُونَ ﴿٤﴾ لِيَوْمٍ عَظِيمٍ ﴿٥﴾ يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿٦﴾

Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, (4)

pada suatu hari yang besar, (5)

(yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam? (6)
(QS. Al-Muthaffifin : 4-6)

Tahukah Anda? Adanya kehidupan akhirat adalah bukti bahwa Allah Maha Adil! Seandainya tidak ada kehidupan setelah mati niscaya kehidupan di dunia kita saat ini hanyalah sia-sia.

Seandainya tidak ada kehidupan setelah kematian maka dengan apa lagi permasalahan yang belum terselesaikan di dunia akan di adili?? Maka sangatlah mustahil apabila tidak ada kehidupan setelah kematian sebagaimana mustahilnya Allah tidak berbuat Adil.

Apabila kita ibaratkan, dunia ini bagaikan ladang bercocok tanam untuk kehidupan kelak di akhirat. Sedangkan akhirat adalah tempat dimana kita akan menuai apa yang telah kita tanam ketika di dunia.

Pengibaratan tersebut menunjukkan bahwa dunia hanyalah fasilitas dan sarana untuk menuju akhirat. Ia bukan tujuan hidup kita yang sesungguhnya. Karena kita akan berpisah dengannya melalui kematian kita.

Dunia ini telah didesain oleh Allah sebagai fasilitas untuk beribadah. Allah menciptakan langit, bumi beserta isinya dengan tujuan yang jelas.

Tidak ada satupun ciptaan Allah yang sia-sia. Semua ciptaan Allah selalu ada fungsi dan hikmahnya. Allah subhanahu wata’ala berfirman :

مَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ مُسَمًّى ۚ وَالَّذِينَ كَفَرُوا عَمَّا أُنْذِرُوا مُعْرِضُونَ

Kami tiada menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan. Dan orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka.
(QS. Al-Ahqaaf : 3)

Segala yang ada di dunia telah Allah sediakan agar manusia bisa mengambil manfaatnya. Allah telah menyediakan hewan untuk dimakan agar manusia tidak kelaparan dalam menjalankan ibadah.

وَالْأَنْعَامَ خَلَقَهَا لَكُمْ فِيهَا دِفْءٌ وَمَنَافِعُ وَمِنْهَا تَأْكُلُونَ

Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu; padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai-bagai manfaat, dan sebahagiannya kamu makan.
(Q.S Al-An’am : 5)

Allah telah menurunkan pakaian untuk manusia agar bisa menutup auratnya ketika beribadah kepada-Nya.

يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ

Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.
(Q.S Al-A’raf ayat 26)

Allah juga telah menurunkan besi untuk dimanfaatkan oleh manusia untuk kendaraan, tempat tinggal, dan semacamnya. Ia berfirman :

وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ

dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu)
(Q.S Al-Hadid : 25)

Allah telah menurunkan hujan untuk diminum agar manusia tidak kehausan dalam melaksanakan ibadahnya. Dengan hujan inilah Allah tumbuhkan tumbuh-tumbuhan agar manusia bisa memakannya.

وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ

dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu
(QS. Al-Baqarah : 22)

Semua ayat tersebut menunjukkan kepada kita bahwa dunia ini hanyalah fasilitas, bukan tujuan hidup. Ia diciptakan untuk memudahkan kita beribadah kepada-Nya. Karena tujuan hidup kita di dunia ini adalah untuk beribadah.

Oleh karena itu, hendaknya kita jadikan dunia yang kita miliki saat ini sebagai sarana penunjuang kelancaran ibadah kita. Janganlah kita jadikan ia sebagai tujuan hidup!

Mari kita ubah prioritas kehidupan kita hanya untuk akhirat. Hilangkanlah kecintaan terhadap dunia dan ketakutan terhadap kematian. Karena betapapun kita mencintai dunia dan takut akan kematian, maka pasti kita akan jumpai kematian itu.

Apabila kita jadikan dunia sebagai tujuan hidup, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya semua yang ada di dunia ini akan hancur dan binasa! Allah ta’ala berfirman :

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ

Semua yang ada di bumi itu akan binasa.
(QS. Ar-Rahman : 26)

Kemudian kita akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang telah kita lakukan semasa di dunia. Bila kita menjalankan ibadah yang Allah amanatkan kepada kita maka selamatlah kita. Namun, bila kita tidak menjalankan ibadah yang Allah amanatkan kepada kita maka celakalah kita.

Demikianlah sedikit nasehat tentang tujuan hidup manusia menurut Islam. Semoga dengan nasehat ini kita bisa merubah pola pikir kita terhadap dunia dengan menjadikannya sebagai sarana ibadah dan akhirat sebagai tujuan kita. Amiin.

Oleh : Adam Rizkala

Berlangganan untuk menerima pembaruan email gratis:

3 Responses to "Tujuan Hidup Manusia Menurut Islam"

  1. Nasihat ini mengingatkan saya kepada kematian dan jauhkan cinta dunia.
    Sangat bermanfaat artikel, lanjtukan tulisan mu kak. Adam Rizkala sukses selalu

    BalasHapus
  2. Dalil tujuan hidup apa ya kak,beserta tujuan nya ?🙏

    BalasHapus
    Balasan
    1. وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

      “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepadaKu”
      (Q.S Adz-Dzariyat : 56)

      Hapus