Pengertian Akhlak dalam Islam Sesuai Al-Quran dan As-Sunnah


Pengertian Akhlak dalam Islam

Islam adalah agama yang sempurna. Agama Islam tidak hanya mengatur hubungan seorang hamba dengan tuhannya. Akan tetapi, Islam juga mengatur hubungan sesama manusia.

Islam sangatlah menekankan pentingnya akhlak. Bahkan, salah satu diantara tujuan diutusnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.

Pada kesempatan kali ini, kita akan mengetahui bersama bagaimana konsep dan pengertian akhlak dalam Islam; mulai dari pengertiannya, urgensinya, sumber pengambilannya dan lain sebagainya.

A. Apa Itu Akhlak?

Akhlak (الأخلاق) secara etimologi, berasal dari bahasa Arab yang merupakan bentuk jamak dari kata khu-lu-qun (خُلُقٌ) yang berarti budi pekerti; perangai; watak; atau tabiat.

Adapun pengertian akhlak secara terminologi dapat kita ketahui dari pendapat beberapa ulama sebagai berikut :

1. Al-Jurnjaani

عِبَارَةٌ عَنْ هَيِّئَةٍ لِلنَّفْسِ رَاسِخَةٍ تَصْدُرُ عَنْهَا الأَفْعَالَ بِسُهُوْلَةٍ وَيُسْرٍ مِنْ غَيْرِ حَاجَةٍ إِلَى فِكْرٍ وَرَوِيَّةٍ

Ungkapan terus-menerus dari jiwa seseorang yang menimbulkan perbuatan secara spontan tanpa memikirkannya atau merencanakannya (terlebih dahulu).[1]

2. Ibnu Miskawaih

حَالٌ لِلنَّفْسِ دَاعِيَة لَهَا إِلَى أَفْعَالِهَا مِنْ غَيْرِ فِكْرٍ وَلَا رَوِيَّةٍ

Adalah suatu keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk berbuat sesuatu tanpa berfikir atau direncanakan (terlebih dahulu).[2]

3. Al-Jaahidz

حَالُ النَّفْسِ، بِهَا يَفْعَلُ الْإِنْسَانُ أَفْعَالَهُ بِلَا رَوِيَّةٍ وَلَا اخْتِيَارٍ

Adalah kondisi jiwa, yang mana dari jiwa itu seseorang bertingkah laku tanpa berencana atau membuat keputusan (terlebih dahulu).[3]

Dari ketiga definisi tersebut bisa kita pahami bahwa akhlak adalah watak atau sifat asli dari seseorang. Watak asli ini tidak bisa dibuat-buat dan akan muncul dengan spontan.

Apabila perilaku spontan yang muncul dari seseorang adalah perilaku yang baik maka bisa dikatakan bahwa orang itu berakhlak baik. 

Sebaliknya, apabila perilaku yang muncul dari seseorang adalah perilaku yang buruk maka bisa dikatakan bahwa orang itu berakhlak buruk.

B. Urgensi Pembinaan Akhlak dalam Islam

Akhlak merupakan simbol yang mewakili jiwa seseorang. Karena dari jiwa itulah tabiat dan perilaku atau akhlak seseorang muncul.

Baik buruknya manusia tidak dinilai dari rupanya; baik itu tingginya, warna kulitnya, ataupun harta kekayaannya. 

Akan tetapi baik buruk manusia itu dinilai dari hati dan perbuatannya, yang mana perbuatan itu merupakan buah dari akhlak yang dimilikinya.

Allah subhanahu wata’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.

Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
(QS. Al-Hujurat : 13)

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَادِكُمْ، وَلَا إِلَى صُوَرِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ

Sesungguhnya Allah tidak melihat jasad dan rupa kalian. Akan tetapi Allah melihat pada hati kalian.
(HR. Muslim no. 2564)

Dari firman Allah dan sabda Rasul tersebut kita bisa mengetahui bahwa Allah tidak menilai baik buruk seorang hamba dari jasad dan rupa.

Akan tetapi Allah menilai kebaikan seseorang dari hati dan ketakwaan yang dimilikinya, serta perbuatannya yang merupakan cerminan dari hatinya.

Hal ini menunjukkan bahwa, kepribadian dan tingkah laku seseorang berasal dari jiwa atau hatinya. Apabila hati itu baik maka baik pula seluruh jasadnya, begitu pula sebaliknya.

Oleh karena itu pembinaan akhlak sangatlah penting dalam rangka memperbaiki kepribadian dan tingkah laku seseorang. Karena kedua hal itulah yang dinilai oleh Allah subhanahu wata'ala.

Dengan pembinaan melalui akhlaqul kariimah inilah seseorang dibentuk kepribadiannya. Tujuannya adalah agar ia memiliki kepribadian muslim yang sesungguhnya.

C. Sumber Akhlak dalam Islam

1. Al Quran

Tidak diragukan lagi, bahwa sumber utama akhlak dalam Islam adalah Al-Quran. Hal ini dikarenakan Al-Quranlah yang menunjukkan jalan terbaik dalam berakhlak.

Allah ta’ala berfirman :

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus,
(QS. Al-Israa’ : 9)

Bahkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pun juga menilai dirinya sendiri dengan Al-Quran. Oleh karena itulah Aisyah radhiyallahu ‘anhaa menyatakan bahwa akhlak beliau adalah akhlak Al-Quran.

Aisyah radhiyallahu ‘anhaa menuturkan :

فَإِنَّ خُلُقَ نَبِيِّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ الْقُرْآنَ

Sesungguhnya akhlak Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam adalah Al-Quran
(HR. Muslim : 746)

2. As-Sunnah

Sumber yang kedua adalah sunnah Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam. Beliaulah manusia terbaik yang paling patut dijadikan sebagai teladan dalam berakhlak.

Allah subhanahu wata’ala berfirman :

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.
(QS. Al-Ahzaab : 21)

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.
(HR. Ahmad : 8952)

D. Pembagian Akhlak dalam Islam

1. Akhlak kepada Allah

Akhlak kepada Allah adalah akhlak yang paling penting dan paling utama. Karena, konsekuensi berakhlak kepada Allah adalah berakhlak juga kepada selain-Nya.

Diantara akhlak kepada Allah ialah : beriman pada-Nya, mengakui kesempurnaan sifat-sifatNya dan perbuatan-Nya, membenarkan apa yang dikabarkan-Nya dan lain sebagainya.

Diantara penyebab seseorang kufur kepada penciptanya setelah ditegakkannya hujjah adalah karena akhlaknya yang buruk; seperti sombong, tidak mau mentaati perintah-Nya, dan sebagainya.

2. Akhlak kepada Sesama Manusia

Berakhlak kepada manusia adalah sebuah keniscayaan. Akhlak kepada sesama manusia yang wajib dimiliki oleh seorang muslim adalah akhlak yang terpuji, atau disebut juga dengan akhlaqul karimah.

Diantara akhlak terpuji tersebut misalnya : jujur, amanah, iffah, adil, berbuat baik, pemaaf, baik dalam bergaul, melaksanakan kewajiban, memberikan hak pada yang berhak menerimanya, dan lain sebagainya.

Adapun akhlak tercela, atau disebut juga akhaqul madzmuumah, adalah akhlak yang wajib dihindari oleh seorang muslim, seperti : berbohong, khianat, zalim, saling bermusuhan, kikir, tidak memberikan hak pada yang berhak menerimanya, dan sebagainya.

3. Akhlak kepada Diri Sendiri

Yaitu akhlak yang berhubungan dengan dirinya sendiri. Diantara akhlak terpuji terhadap diri sendiri yaitu : sabar dalam menghadapi musibah, tidak tergesa-gesa dalam setiap perkara, disiplin, dan lain sebagainya.

Sebaliknya, akhlak tercela terhadap diri yang harus dihindari oleh seorang muslim diantaranya : tergesa-gesa dalam suatu perkara, tidak bersabar menghadapi musibah, tidak disiplin, dan lain sebagainya.

4. Akhlak kepada Lingkungan Alam

Akhlak kepada lingkungan alam juga perlu diperhatikan oleh kita sebagai seorang muslim. Lingkungan sekitar yang dimaksud disini bukan hanya kepada tumbuhan saja. Akan tetapi akhlak kepada hewan pun juga harus diperhatikan.

Diantara akhlak yang harus dihindari seorang muslim kepada lingkungan sekitarnya adalah berbuat zalim kepada hewan.

Seperti yang disabdakan oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam :

عُذِّبَتِ امْرَأَةٌ فِي هِرَّةٍ سَجَنَتْهَا حَتَّى مَاتَتْ، فَدَخَلَتْ فِيهَا النَّارَ، لاَ هِيَ أَطْعَمَتْهَا وَلاَ سَقَتْهَا، إِذْ حَبَسَتْهَا، وَلاَ هِيَ تَرَكَتْهَا تَأْكُلُ مِنْ خَشَاشِ الأَرْضِ

Ada seorang wanita disiksa disebabkan seekor kucing yang dikurungnya hingga mati kelaparan. Lalu wanita itupun masuk neraka karena dia tidak memberinya makan dan minum ketika mengurungnya. Ia juga tidak melepaskannya agar dapat menyantap serangga tanah.
(HR. Bukhari : 3482)

E. Keutamaan Akhlak Mulia

1. Merupakan Amalan Penghuni Surga

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا، وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ

Aku menjamin rumah di tepi surga bagi seseorang yang meninggalkan perdebatan meskipun ia berada di pihak yang benar.

Aku juga menjamin rumah di tengah surga bagi seseorang yang meninggalkan kedustaan meskipun bercanda.

Dan aku juga menjamin rumah di surga yang paling tinggi bagi seseorang yang berakhlak baik.
(HR. Abu Dawud : 4800)

سُئِلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الجَنَّةَ، فَقَالَ: تَقْوَى اللهِ وَحُسْنُ الخُلُقِ، وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ، فَقَالَ: الفَمُ وَالفَرْجُ

Rasulullah ditanya tentang perkara yang banyak memasukkan manusia ke dalam surga, beliaupun bersabda : “Bertakwa kepada Allah dan akhlak yang baik.”

Beliau juga ditanya tentang perkara yang banyak memasukkan manusia ke dalam neraka, maka beliau bersabda : “Mulut dan kemaluan.”
(HR. Tirmidzi : 2004)

2. Dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya

قَالُوا: فَمَنْ أَحَبُّ عِبَادِ اللَّهِ إِلَى اللَّهِ؟ قَالَ: أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

Orang-orang Arab pedalaman bertanya : “Siapakah hamba Allah yang paling dicintai?”

Rasulullah menjawab : “Mereka yang paling baik akhlaknya.”
(HR. Hakim : 8214)

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ القِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلاَقًا

Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat kedudukannya denganku di hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya.
(HR. Tirmidzi : 2018)

3. Amalan yang Paling Berat Timbangannya di Hari Kiamat

مَا شَيْءٌ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ، وَإِنَّ اللَّهَ لَيُبْغِضُ الفَاحِشَ البَذِيءَ

Tidak sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin kelak pada hari kiamat daripada akhlak yang baik. Sesungguhnya Allah amatlah murka terhadap seorang yang keji lagi jahat.
(HR. Tirmidzi : 2002)

4. Kedudukan yang Tinggi

إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَةَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ

Sesungguhnya seorang mukmin akan mendapatkan kedudukan ahli puasa dan shalat dengan ahlak baiknya.
(HR. Abu Dawud : 4798)

5. Sebaik-baiknya Amalan Seorang Hamba

لَقِيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيه وَسَلَّم أَبَا ذَرٍّ فَقَالَ: يَا أَبَا ذَرٍّ أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى خَصْلَتَيْنِ هُمَا خَفِيفَتَانِ عَلَى الظَّهْرِ وَأَثْقَلُ فِي الْمِيزَانِ مِنْ غَيْرِهِمَا؟ قال: بلى يارسول اللَّهِ قَالَ: عَلَيْكَ بِحُسْنِ الْخُلُقِ , وَطُولِ الصَّمْتِ , فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا عَمِلَ الْخَلائِقُ بِمِثْلِهِمَا

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam berjumpa dengan Abu Dzar, lantas bersabda :

“Wahai Abu Dzar, maukah engkau aku tunjukkan tabiat yang ringan di punggung akan tetapi berat di timbangan amal?”

Abu Dzar berkata : “Tentu, wahai Rasulullah.”

Beliau bersabda : “Hendaknya engkau berakhlak dengan baik dan perbanyaklah diam. Demi Dzat yang diriku berada di tangan-Nya, tidak ada makhluk yang beramal yang bisa menyamai keduanya.”
(HR. Al-Bazzar : 7001)

6. Menambah Kemakmuran dan Memakmurkan Surga

إِنَّهُ مَنْ أُعْطِيَ حَظَّهُ مِنَ الرِّفْقِ، فَقَدْ أُعْطِيَ حَظَّهُ مِنْ خَيْرِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَصِلَةُ الرَّحِمِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ وَحُسْنُ الْجِوَارِ يَعْمُرَانِ الدِّيَارَ، وَيَزِيدَانِ فِي الْأَعْمَارِ

Sesungguhnya, barang siapa yang diberikan bagian sifat lemah lembut, maka sungguh ia telah diberikan bagian dari kebaikan dunia dan akhirat. Sedangkan menyambung silaturrahim, akhlak yang baik dan berbuat baik pada tetangga, keduanya memakmurkan surga dan menambah kemakmuran.
(HR. Ahmad : 25259)

F. Perbedaan Akhlak Setiap Manusia

Pada hakikatnya akhlak setiap manusia sudah diberikan sesuai dengan kadarnya masing-masing oleh Allah. Diantara manusia itu ada yang penyabar, ada yang tergesa-gesa, ada yang mudah marah, ada yang penyayang, dan lain sebagainya.

Hal ini sebagaimana fisik manusia yang Allah ciptakan dengan bentuk yang bermacam-macam dan tidak sama antara satu dengan yang lainnya. 

Diantara mereka ada yang tinggi, ada yang pendek, ada yang gemuk, ada yang kurus, dan lain sebagainya.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ آدَمَ مِنْ قَبْضَةٍ قَبَضَهَا مِنْ جَمِيعِ الْأَرْضِ، فَجَاءَ بَنُو آدَمَ عَلَى قَدْرِ الْأَرْضِ: جَاءَ مِنْهُمُ الْأَحْمَرُ، وَالْأَبْيَضُ، وَالْأَسْوَدُ، وَبَيْنَ ذَلِكَ، وَالسَّهْلُ، وَالْحَزْنُ، وَالْخَبِيثُ، وَالطَّيِّبُ

Allah menciptakan Adam dari segenggam tanah dari semua jenis tanah. Kemudian keturunannya datang beragam sesuai dengan unsur tanahnya. Ada di antara mereka yang berkulit merah, putih, hitam, dan antara warna-warna itu. Ada yang lembut dan ada yang kasar, ada yang buruk dan ada yang baik.
(HR. Abu Dawud : 4693)

Dari hadits tersebut kita mengetahui bahwa fisik telah diciptakan dengan bentuk yang bermacam-macam oleh Allah. Maka, tabiat yang bersifat abstrak dan tidak dapat diukur dengan pasti tentu jauh lebih kompleks dari pada fisik.

Hal ini tidak dapat dipungkiri lagi, mengingat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallampun juga menyatakan demikian. Beliau bersabda :

إِنَّ اللهَ قَسَمَ بَيْنَكُمْ أَخْلَاقَكُمْ، كَمَا قَسَمَ بَيْنَكُمْ أَرْزَاقَكُمْ

Sesungguhnya Allah telah membagi akhlak di antara kalian sebagaimana membagi rezeki di antara kalian.
(HR. Ahmad : 3672)[4]

أَلاَ إِنَّ بَنِي آدَمَ خُلِقُوا عَلَى طَبَقَاتٍ شَتَّى . . . أَلاَ وَإِنَّ مِنْهُمُ البَطِيءَ الغَضَبِ سَرِيعَ الفَيْءِ، وَمِنْهُمْ سَرِيعُ الغَضَبِ سَرِيعُ الفَيْءِ، فَتِلْكَ بِتِلْكَ، أَلاَ وَإِنَّ مِنْهُمْ سَرِيعَ الغَضَبِ بَطِيءَ الفَيْءِ، أَلاَ وَخَيْرُهُمْ بَطِيءُ الغَضَبِ سَرِيعُ الفَيْءِ، أَلاَ وَشَرُّهُمْ سَرِيعُ الغَضَبِ بَطِيءُ الفَيْءِ

Ingat, bahwa Anak adam diciptakan dengan tingkatan yang bermacam-macam . . .

diantara mereka ada yang lamban marah dan cepat sadar.

Ada juga yang cepat marah dan cepat sadar. Maka itu sebagai ganti yang itu.

Ingat, diantara mereka ada yang cepat marah dan lamban sadar.

Ingat, yang terbaik dari mereka adalah yang lamban marah tapi cepat sadar.

Ingat, yang terburuk dari mereka adalah yang cepat marah dan lamban sadar.
(HR. Tirmidzi : 2191)

G. Mungkinkah Akhlak Seseorang Dapat Diubah?

Setelah kita mengetehui bahwa akhlak yang kita miliki telah dibagi oleh Allah berdasarkan kadarnya masing-masing sesuai dengan kehendak-Nya, mungkinkan akhlak yang kita miliki saat ini diubah menjadi lebih baik??

Secara umum, ada dua pendapat dalam masalah ini. Ada yang berpendapat bahwa akhlak tidak dapat diubah sama sekali. Ada pula yang berpendapat bahwa akhlak dapat diubah secara mutlak.

Tentunya pembahasan dalam masalah ini sangatlah panjang dan luas. Dalam sebuah bahasan disebutkan bahwa pendapat yang benar adalah akhlak terbagi menjadi dua.[5]
  • Akhlak fithriyyah
  • Akhlak muktasabah
Akhlak fithriyyah adalah akhlak atau tabiat yang sudah ada sejak lahir. Akhlak ini tidak dapat diubah sama sekali, karena memang Allah-lah yang menghendaki demikian.

Sedangan akhlak muktasabah adalah akhlak atau tabiat yang dapat diubah. Akhlak ini dapat diubah dengan mengupayakannya. 

Seandainya akhlak tidak bisa diubah sama sekali maka niscaya semua nasehat, pituah, dan wasiat tidak ada yang bermanfaat sama sekali.

Perumpamaan pembagian akhlak ini dapat kita analogikan dengan bentuk atau rupa tubuh manusia. 

Bagian-bagian tubuh manusia tidak semuanya dapat diubah; seperti letak kedua tangan, kedua kaki, kepala dan sebagainya. 

Tidaklah mungkin kepala dipindahkan di bawah sedangkan kaki dipindah ke atas leher. Begitu pula hidung, kedua telinga, dan kedua mata yang letaknya tidak bisa ditukar-tukar.

Namun, sebagian tubuh yang lain masih bisa diubah dengan cara mengupayakannya. Seperti badan yang gemuk bisa diubah menjadi kurus dengan cara mengatur pola makan dan berolahraga. 

Demikian pula hal-hal lain yang bersifat keterampilan, seperti kemampuan menulis, berbicara, berjalan, berlari, berkendara dan lain sebagainya. Semua itu dapat diubah dengan belajar dan berlatih.

H. Ringkasan

  • Akhlak adalah tabiat manusia yang muncul secara spontan tanpa ada perencanaan terlebih dahulu.
  • Allah tidak melihat jasad dan rupa hamba-Nya, akan tetapi Allah melihat hati dan amalnya.
  • Sumber akhlak dalam Islam adalah Al-Quran dan As-Sunnah.
  • Akhlak terbagi menjadi empat, yaitu : (1) Akhlak kepada Allah (2) Akhlak kepada sesama manusia (3) Akhlak kepada diri sendiri (4) Akhlak kepada lingkungan sekitar.
  • Akhlak mulia merupakan amalan penghuni surga, dapat mendatangkan kecintaan Allah dan Rasul-Nya, memberatkan timbangan amal, mencapai derajat yang tinggi di surga, dan menambah kemakmuran.
  • Akhlak setiap manusia berbeda-beda sesuai apa yang dikehendaki oleh Allah.
  • Akhlak ada yang bisa diubah dengan cara mengusahakannya dan ada yang tidak bisa diubah yang sudah ditentukan oleh Allah sejak lahir.
Oleh : Adam Rizkala


[1] Lihat : At-Ta’riifaat (Lebanon: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah Bairuut, 1983) oleh Al Jurjaaniy, hlm. 101.
[2] Lihat : Tadzhiib Al-Akhlaaq (Maktabah Ats-Tsaqaafah Ad-Diiniyyah) oleh Ibnu Miskawaih, hlm. 41.
[3] Lihat : Tadzhiib Al-Akhlaaq (Dar Ash-Shahaabah li At-Turaats, 1989) oleh Al-Jaahidz, hlm. 12.
[4] Menurut Syu’aib Al-Arnauth isnad yang diriwayatkan dari jalur ini lemah karena lemahnya As-Sobbah bin Muhammad. Syaikh Albani juga mendhaifkan hadits ini dalam kitabnya “Dhaif Al-Jaami’ no. 1625”.
[5] Silahkan lihat pembahasan lengkapnya dalam kitab yang dibahas oleh Syaikh Alwi bin Abdul Qadir As-Saqqaf yang berjudul Al-Mausu’ah Al-Akhlak Al-Islamiyyah, juz. 1, hlm. 19 – 22.

Berlangganan untuk menerima pembaruan email gratis:

0 Response to "Pengertian Akhlak dalam Islam Sesuai Al-Quran dan As-Sunnah"

Posting Komentar