Penerapan Al Quran Sebagai Solusi Permasalahan di Indonesia

Penerapan Al Quran

Apakah Anda seorang muslim...?

Apakah Anda mengakui Al Quran sebagai pedoman hidup...?

Sudahkan Anda menerapkannya dalam kehidupan...?

Sudahkah Anda menjadikannya nomor satu di hati Anda...?

Apabila tidak maka keislaman Anda perlu dipertanyakan lagi.

Setiap muslim di Indonesia sepakat dan meyakini bahwa Al Quran adalah pedoman hidup yang paling utama. Al Quran adalah petunjuk hidup nomor satu dan tiada duanya.

Tidaklah layak Al Quran dijadikan pedoman hidup yang kedua, karena ia merupakan kalam Allah azza wa jalla yang Maha Mengetahui atas makhluk yang diciptakan-Nya.

Fenomena Penerapan Al Quran di Indonesia

Indonesia adalah salah satu negara yang dikenal dengan mayoritas penduduk beragama Islam. Berdasarkan data dari badan pusat statistik (sp2010.bps.go.id) yang diakses pada tanggal 28/08/18 pukul 02.51 WIB menyebutkan bahwa jumlah penduduk Indonesia yang beragama Islam adalah 207.176.162 dari 237.641.326 jiwa.

Artinya jumlah penduduk muslim di Indonesia hampir mendekati 90%. Namun sayang, status agama Islam di Indonesia sebagian orang di Indonesia hanyalah sekedar pelengkap identitas alias Islam KTP/Islam warisan.

Disadari maupun tidak, faktanya banyak muslim di Indonesia yang tidak menjadikan Al Quran sebagai pedoman utama dalam kehidupannya. Bahkan tak sedikit pula muslim di Indonesia yang menganggap Al Quran hanya sebagai pedoman hubungan manusia dengan Tuhannya saja.

Padahal Al Quran adalah kitab yang menjelaskan segala aspek kehidupan; termasuk kehidupan bernegara, bersosialisasi, berumah tangga, bermasyarakat, berpolitik dan seluruh aspek kehidupan lainnya.

1. Mengapa Fenomena Ini Terjadi?

Apabila fenomena ini terjadi dikarenakan kurangnya jumlah ulama di Indonesia maka Indonesia tidaklah kekurangan ulama sedikitpun. Ada ratusan, ribuan, atau bahkan jutaan ulama yang telah dicetak oleh pesantren-pesantren di Indonesia.

Belum lagi ditambah ribuan pelajar yang mencari ilmu agama langsung di tempat lahir dan wafatnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Tetapi anehnya, mengapa fenomena menomorduakan Al Quran ini masih terjadi di Indonesia??

Tentu banyak faktor yang menyebabkan, salah satunya adalah kurangnya pengetahuan masyarakat di Indoensia terhadap kandungan Al Quran itu sendiri.

Mengingat pembahasan kita kali ini adalah penerapan Al Quran sebagai solusi permasalahan di Indonesia maka tidaklah pas rasanya apabila faktor tersebut dibahas satu persatu dalam artikel ini.

2. Apa Akibat dari Fenomena Ini?

Akibat tidak terapkannya Al Quran dalam seluruh aspek kehidupan adalah timbulnya permasalahan yang banyak di negara kita; baik itu kondisi ekonomi, teknologi, moral, pendidikan, sosial, politik, agama, kesehatan dan lain sebagainya.

Maka tak perlulah kita melulu menyalahkan pemerintah atas munculnya permasalahan-permasalahan tersebut. Cukup salahkan diri kita sendiri, mengapa tidak kita terapkan saja Al Quran dalam kehidupan kita. Mulailah dari diri kita terlebih dahulu!

Al Quran Sebagai Solusi Permasalahan di Indonesia

Al Quran sebagai petunjuk yang menerangkan dan menjelaskan segala sesuatu memberikan solusi terbaik yang tiada tandingannya untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi saat ini. Allah ta’ala berfirman :

مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ وَلَٰكِن تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.
(QS. Yusuf : 111)

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ

Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.
(QS. An-Nahl : 89)

Kedua ayat tersebut menunjukkan kepada kita bahwa Al Quran selaku firman Rabb semesta alam adalah kitab yang menjelaskan segala sesuatu. Hal itu diperkuat dengan banyaknya penemuan akhir-akhir ini yang membuktikan kebenaran Al Quran.

Namun, akan sangat lucu apabila kebenaran Al Quran dari satu sisi ilmu pengetahuan telah kita akui secara ilmiah akan tetapi mengabaikan kebenaran ilmiah dari sisi yang lain.

Sebetulnya ada banyak hal yang perlu kita benahi terkait permasalahan kondisi negara kita saat ini. Namun, akan sangat panjang apabila semua permasalahan tersebut kita bahas satu-persatu dalam artikel ini.

Maka dari itu, berikut ini akan kita bahas bersama tiga hal (setidaknya menurut saya) yang paling penting dan memiliki pengaruh cukup besar terhadap kondisi negara kita, yang apabila ketiga hal ini dibenahi maka insya Allah akan secara otomatis membenahi permasalahan yang lainnya; yaitu (1) ekonomi, (2) pendidikan, (3) ilmu pengetahuan dan teknologi.

1. Ekonomi

Ekonomi merupakan siklus aktivitas manusia yang berkaitan dengan produksi, distribusi dan konsumsi. Ia merupakan salah satu faktor terpenting dalam menunjang kemajuan suatu negara.

Lemahnya perkembangan ekonomi mengakibatkan terhambatnya kemajuan suatu negara. Kita mengetahui bahwa hampir seluruh aspek kemajuan suatu negara sangat dipengaruhi oleh faktor ekonomi.

Maka dari itu, Al Quran sebagai petunjuk bagi seluruh manusia hadir memberikan solusi terbaik untuk membangkitkan kekuatan ekonomi di negara kita.

A. Sedekah, Infak, dan Zakat

Fenomena kemiskinan di Indonesia adalah hal yang tidak asing lagi di telinga kita. Kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya infak, sedekah, dan zakat merupakan faktor utama dari fenomena ini.

Di dalam Al Quran sendiri telah dijelaskan dengan tegas bahwa kita diperintahkan menyisihkan harta untuk sedekah, infak, dan zakat :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ يَوْمٌ لَّا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ ۗ وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, infaqkanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa'at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim.
(QS. Al-Baqarah : 254)


وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ

akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya
(QS. Al- Baqarah : 177)

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنفُسِكُم مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِندَ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.
(QS. Al-Baqarah : 110)

Dari ayat tersebut bisa kita ketahui bahwa sedekah, infak, dan zakat adalah perintah dari Allah yang memiliki banyak hikmah dan manfaat yang besar.

Apabila ketiga syariat tersebut kita terapkan maka perputaran uang akan lebih merata.  Sehingga kesenjangan ekonomi di Indonesia dapat diselesaikan dengan diterapkannya ketiga syariat tersebut.


Sedekah, infak, dan zakat adalah cara terbaik untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Apalagi zakat yang mana di dalam Islam pemerintah berhak menarik secara paksa dan memberikan hukuman bagi siapa yang tidak mau mengeluarkan zakat.

Terlebih lagi zakat mal, yang mana tidak hanya dibagikan kepada fakir miskin, namun juga kepada delapan golongan. Tentu hal ini juga menambah banyaknya orang-orang yang mendapatkan manfaat dari zakat tersebut.

Apabila kita masih pelit menyisihkan harta untuk diberikan pada orang-orang miskin maka hanya akan menambah jumlah orang miskin di Indonesia.

Tahukah Anda? Bahwa menyisihkan harta untuk disedekahkan pada hakikatnya tidaklah mengurangi harta sedikitpun. Justru semakin banyak harta yang kita sedekahkan semakin bertambah pula rezeki yang Allah berikan kepada kita.

Faktanya, banyak orang yang memperbanyak infak dan sedekah justru semakin bertambah kaya dan sukses. Inilah janji Allah yang telah di jelaskan dalam firman-Nya dimana Allah menggandakan ganjaran infak sebanyak 700 kali lipat :

مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.
(QS. Al-Baqarah : 261)

B. Utang Piutang Berbasis Syariat (al-Qordhu asy-Syar’i)

Membuka pintu utang adalah hal yang kurang diperkenankan dalam Islam. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pun menganjurkan kita untuk berlindung kepada Allah dari piutang.

Meskipun demikian, utang piutang diperkenankan tatkala kita benar-benar membutuhkan atau dalam keadaan terdesak.

Tujuan diperbolehkannya transaksi utang piutang adalah agar manusia bisa saling bantu membantu dan saling tolong menolong. Namun sayang, ketidaktahuan masyarakat Indonesia akan aturan utang piutang dalam Al Quran menjadikan mereka membuat aturan utang piutang semaunya sendiri.

Akibatnya transaksi utang piutang ini digunakan oleh sebagian masyarakat Indonesia untuk mencari keuntungan. Sehingga cara-cara yang diharamkanpun diterjang demi meraup keuntungan sebanyak mungkin.

Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia mengisyaratkan kepada kita bahwa transaksi utang piutang yang sesungguhnya adalah utang piutang dengan konsep ta’awun (saling menolong).

Konsep ini bisa kita ketahui dari salah satu aturan utang piutang dalam Al Quran yang menyatakan bahwa tatkala orang yang berutang benar-benar belum sanggup membayar di tempo yang sudah ditentukan maka orang yang mengutangi wajib menunggu sampai orang yang berutang mampu membayarnya, bukan malah memberikan denda. Dalam Al Quran disebutkan :

وَإِن كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَىٰ مَيْسَرَةٍ

Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan.
(QS. Al-Baqarah : 180)

Bahkan apabila utang tersebut disedekahkan (dianggap lunas) kepada yang berutang maka hal itu jauh lebih baik. Dalam Al Quran disebutkan Allah ta’ala berfirman :

وَأَن تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.
(QS. Al-Baqarah : 180)

Ayat tersebut menunjukkan betapa besarnya pahala orang yang menyedekahkan utang saudaranya. Dengan bersedekah Allah akan memberikan kesuburan pada harta kita.

Akan tetapi, apabila kita memberikan denda hanya karena telat pembayaran utang maka itulah riba yang akan memusnahkan harta kita. Inilah utang piutang ribawi (al-Qordhu ar-Ribawi) yang Allah haramkan :

يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ

Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.
(QS. Al-Baqarah : 276)

Riba sangatlah merugikan orang yang berutang dan sama sekali tidak menguntungkan orang yang mengutangi. Seandainya riba itu menguntungkan maka tidaklah ada keuntungan kecuali keuntungan yang semu.

Riba adalah transaksi yang terburuk serta merugikan orang lain. Maka ia tidak layak untuk dimasukkan ke dalam transaksi utang piutang berkonsep ta’awun.

Dari ayat tersebut juga kita dapat mengambil pelajaran bahwa Allah akan menyuburkan sedekah. Apabila semua orang di Indonesia yang kelebihan harta dari kebutuhan mau menyedekahkannya maka niscaya sedekah itu akan menyuburkan dirinya dan tentu efeknya adalah meningkatkan ekonomi di negara kita tercinta.

C. Jual Beli Berbasis Syariat (al-Bai’u asy-Syar’i)

Jual beli adalah salah satu sumber kekuatan ekonomi terbesar bagi masyarakat Indonesia. Namun, sangat sedikit sekali kaum muslimin di Indonesia yang mengetahui dan menerapkan aturan jual beli yang telah dijelaskan dalam Al Quran.

Akibatnya, banyak terjadi jual beli dengan cara yang bathil sehingga sadar tidak sadar cara jual beli ini sangatlah merugikan satu sama lain.

Tahukah Anda? Konsep jual beli yang ditunjukkan dalam Al Quran adalah jual beli dengan konsep taraadhin (sama suka) dimana antara penjual dan pembeli sama-sama senang dan tidak dirugikan atas jual beli yang dilakukannya. Allah ta’ala menyebutkan dalam Al Quran :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَن تَكُونَ تِجَارَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu.
(QS. An-Nisa’ : 29)

Konsep sama suka ini bisa kita ketahui dari sabda-sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dimana beliau tidak memperbolehkan transaksi jual beli yang merugikan orang lain seperti; jual beli barang haram, jual beli untuk kemaksiatan, jual beli barang yang sedang ditawar orang lain, jual beli mulaamasah, jual beli munaabadzah, jual beli barang najis, bai’ataani fii bai’ah, dan lain sebagainya.

Selain itu, suka sama suka dalam jual beli juga dibuktikan dengan adanya khiyar. Dengan adanya khiyar maka antara penjual dan pembeli tidak akan ada yang dirugikan.

Tetapi sayang, khiyar kini perlahan mulai lenyap bahkan di pasar tradisional sekalipun. Hal ini disebabkan pengaruh-pengaruh bodoh dari pasar modern yang tidak mengetahui aturan perdagangan yang benar.

Akibat dari ketidaktahuan akan aturan jual beli inilah menjadikan jual beli di Indonesia dilakukan semaunya sendiri. Akibatnya yang terjadi adalah jual beli yang justru saling merugikan. Atau satu pihak diuntungkan namun pihak lainnya dirugikan serugi-ruginya.

Seandaninya sistem perdagangan di Indonesia dibenahi dengan sistem perdagangan berbasis syari’ah maka antara penjual dan pembeli akan saling untung menguntungkan sehingga membuat ekonomi rakyat semakin menguat.

D. Menggunakan Uang yang Sesungguhnya

Tahukah Anda? Bahwa uang kertas yang kita gunakan saat ini bukanlah uang yang sesungguhnya. Ia hanyalah selembar kertas tanpa nilai yang merupakan tipu daya segelintir elit.

Apabila kita menengok sejarah, maka kita akan mengetahui betapa liciknya mereka menyulap emas menjadi selembar kertas sebagai alat tukar.

Memang kita tidak dapat membaca sejarah-sejarah kelicikan mereka di buku-buku pelajaran sekolah. Karena salah satu dari kelicikan mereka adalah menghapuskan sejarah itu di bangku-bangku sekolah.

Akan tetapi, kita akan mendapati banyak refrensi di situs internet maupun buku-buku yang menyingkap kelicikan mereka. Cukup cari di google dengan kata kunci "Sejarah Uang Kertas" kita akan menemukan bagaimana liciknya perbuatan mereka.

Alat tukar yang sesungguhnya adalah emas dan perak, atau dalam Islam kita kenal dengan dinar dan dirham. Apabila kita bandingkan, maka dinar dan dirham akan jauh lebih berhaga dari pada uang kertas. Seandainya uang kertas itu kita sobek-sobek menjadi beberapa bagian, maka tidak akan pernah bisa kita jadikan sebagai alat tukar berapapun nilainya.

Berbeda halnya dengan emas dan perak. Sekecil apapun emas dan perak itu kita hancurkan hingga menjadi butiran debu sekalipun maka ia tetaplah sebuah emas dan tetap berlaku sebagai alat tukar. Karena yang jadi tolak ukur nilai emas dan perak adalah berat yang dimilikinya.

Uang kertas yang kita gunakan saat ini hanyalah selembar kertas yang bertuliskan "angka" di atasnya. Bahkan sebenarnya, uang kertas tidak memiliki nilai sama sekali.

Meskipun demikian, kami tidak mengajak Anda untuk membuang uang kertas, mengingat saat ini mau tidak mau kita dituntut untuk menggunakan uang kertas. Ada baiknya apabila segera kita tukarkan uang kertas yang kita miliki ke dalam wujud emas ataupun perak.

Tahukah Anda? Uang kertas yang beredar saat ini ternyata tidak di backup dengan emas. Inilah yang membuat nilai mata uang tidak jelas dan tidak pernah stabil.

Bukti dinar dan dirham sebagai alat tukar yang sesungguhnya sejak zaman dahulu dapat kita dapati dalam Al Quran pada ayat berikut ini :

وَشَرَوْهُ بِثَمَنٍ بَخْسٍ دَرَاهِمَ مَعْدُودَةٍ وَكَانُوا فِيهِ مِنَ الزَّاهِدِينَ

Dan mereka menjual Yusuf dengan harga yang murah, yaitu beberapa dirham saja, dan mereka merasa tidak tertarik hatinya kepada Yusuf.
(QS. Yusuf : 20)

وَمِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ إِن تَأْمَنْهُ بِقِنطَارٍ يُؤَدِّهِ إِلَيْكَ وَمِنْهُم مَّنْ إِن تَأْمَنْهُ بِدِينَارٍ لَّا يُؤَدِّهِ إِلَيْكَ إِلَّا مَا دُمْتَ عَلَيْهِ قَائِمًا

Di antara Ahli kitab ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu; dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu dinar, tidak dikembalikannya kepadamu kecuali jika kamu selalu menagihnya.
(QS. Ali Imran : 75)

2. Pendidikan

Menurut UU No. 22 tahun 2003 pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampialn yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

Pendidikan memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap peradaban suatu negara. Kita bisa melihat betapa kurangnya kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak, dan ketrampilan yang dimiliki bangsa kita saat ini.

Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia menjelaskan kepada kita betapa pentingnya mutu suatu pendidikan. Berikut ini beberapa petunjuk dari Al Quran yang perlu kita benahi terkait pendidikan di Indonesia.

A. Pendidikan Al Quran

Betapa banyak diantara kita yang notabennya adalah seorang muslim tetapi lebih membanggakan teori-teori pendidikan barat dari pada pendidikan Al Quran. Padahal Al Quran selaku petunjuk hidup manusia telah menyajikan metode pendidikan terbaik bagi manusia.

Al Quran tidak hanya memuat petunjuk ibadah saja, akan tetapi ia juga memuat seluruh aspek yang merupakan tujuan dari pendidikan itu sendiri, diantaranya :

1. Kecerdasan Spiritual (Ketakwaan Kepada Allah)

Termasuk bagian dari tujuan pendidikan di Indonesia adalah terwujudnya insan yang bertakwa pada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan ketakwaan yang kuat maka dimanapun kita berada baik ada orang lain maupun tidak niscaya akan senantiasa taat akan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya.

Tahukah Anda? Lebih dari 80 ayat dalam Al-Quran menuntut kita untuk menjadi insan yang bertakwa, salah satunya:

Baca Juga : Ciri-ciri Orang Bertakwa

وَاتَّقُوا الَّذِي أَمَدَّكُم بِمَا تَعْلَمُونَ

Dan bertakwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu apa yang kamu ketahui.
(QS. Asy-Syu’ara’ : 132)

2. Pengendalian Diri yang Baik

Kemampuan mengendalikan diri di dalam setiap kedaan adalah kemampuan yang harus dimiliki oleh setiap manusia. Allah menyematkan gelar ketakwaan dan kebaikan serta memberikan cinta-Nya kepada orang yang mampu mengendalikan dirinya.

الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

(orang yang bertakwa yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.
(QS. Ali Imran : 134)

3. Akhlak yang Mulia

Ketika sayyidah Aisyah ditanya tentang akhlak Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, maka ia mengatakan “Akhlak beliau adalah Al Quran.”.

Ini menunjukkan bahwa sumber utama dari akhlak yang mulia adalah Al Quran. Hal ini dibuktikan pula dengan banyaknya ayat-ayat Al Quran yang membicarakan perihal akhlak yang harus dimiliki oleh setiap orang, salah satunya :

لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا ۖ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.
(QS. Al-Baqarah : 177)

4. Kecerdasan Intelektual

Al Quran tidak hanya menuntun manusia agar cerdas secara emosional dan spiritual saja. Bahkan ia sangat menekankan penggunaan akal untuk meningkatkan kecerdasan intelektual.

Banyak sekali ayat-ayat yang memancing manusia agar senantiasa menggunakan akal untuk lebih banyak berfikir, salah satunya :

لَوْ أَنزَلْنَا هَٰذَا الْقُرْآنَ عَلَىٰ جَبَلٍ لَّرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللَّهِ ۚ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.
(QS. Al-Hasyr : 21)

B. Metode Pendidikan dalam Al Quran

Apabila kita membaca karya tulis ilmiah yang berkaitan dengan metode pendidikan Al Quran maka kita akan mendapati banyak sekali metode pendidikan yang ditunjukkan dalam Al Quran.

Dalam mengambil metode ini bisa diambil dari dua sisi, yakni dari sisi kandungan dan juga dari sisi gaya bahasanya. Berikut ini beberapa metode pendidikan dalam Al Quran yang coba kami rangkum menjadi beberapa metode sebagai berikut :

1. Metode Targhib dan Tarhib

Targhib adalah pemberian rangsangan berupa janji-janji yang menyenangkan apabila melakukan suatu perbuatan tertentu sehingga timbul harapan untuk memperolehnya dengan mengerjakan perbuatan tersebut.

Sedangkan tarhib adalah sebaliknya, yaitu pemberian rangsangan berupa janji-janji yang mengerikan apabila melakukan suatu perbuatan tertentu sehingga timbul rasa takut dengan menjauhi perbuatan tersebut.

Dalam Al Quran, targhib selalu disandingkan dengan tarhib. Sebagaimana yang tertuang dalam surat Al-Qoriah :

Targhib

فَأَمَّا مَن ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ (6) فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَّاضِيَةٍ

Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan.
(QS. Al-Qoriah : 6 – 7)

Tarhib

وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ (8) فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ

Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.
(QS. Al-Qoriah : 8 – 9)

2. Metode Dialog

Metode ini sangatlah cocok bagi mereka yang memiliki kemampuan berpikir kritis. Sehingga metode ini sangatlah ampuh untuk memberikan pengaruh yang kuat pada peserta didik. Karena pada umumnya seseorang akan lebih mudah menerima pendapatnya sendiri ketika dipancing melalui sebuah dialog.

Adapun ayat yang menunjukkan metode ini sangatlah banyak. Salah satunya tertuang pada surat Maryam ayat 41 – 48 dimana disitu terjadi dialog antara Ibrahim dan ayahnya.

3. Metode Tanya Jawab

Pertanyaan adalah salah satu cara agar seseorang terpancing untuk berfikir. Dengan metode inilah Al Quran membuat manusia bisa lebih berfikir jauh lebih dalam dari pada diberikan informasi secara langsung.

Adakalanya Al Quran memberikan pertanyaan dan dijawab pada ayat berikutnya, adakalanya Al Quran memberikan pertanyaan tanpa ada jawaban agar memancing manusia untuk menjawabnya. Salah satu metode ini dapat kita jumpai pada surat Al-Qiyamah.

Pertanyaan :

أَيَحْسَبُ الْإِنسَانُ أَلَّن نَّجْمَعَ عِظَامَهُ

Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya?
(QS. Al-Qiyamah : 3)

Dilanjut jawaban dari pertanyaan tersebut yang tertuang pada ayat selanjutnya :

بَلَىٰ قَادِرِينَ عَلَىٰ أَن نُّسَوِّيَ بَنَانَهُ

Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna.
(QS. Al-Qiyamah : 4)

Pertanyaan tanpa jawaban secara eksplisit dari Al Quran :

أَلَيْسَ ذَٰلِكَ بِقَادِرٍ عَلَىٰ أَن يُحْيِيَ الْمَوْتَىٰ

Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?
(QS. Al-Qiyamah : 40)

4. Metode Teladan

Seorang pendidik tidak hanya menjadi penghantar informasi kepada peserta didiknya. Namun, seorang pendidik harus memberikan uswah (teladan) kepada peserta didiknya.

Sebagaimana yang ditunjukkan Al Quran terhadap keteladanan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.
(QS. Al-Ahzab : 21)

5. Metode Hikmah, Mauidzoh dan Debat Ilmiah

Ibnu Jarir menjelaskan dalam kitab tafsirnya, yang dimaksud hikmah adalah Al-Quran dan As-Sunnah.

Mendidik seseorang dengan apa yang terdapat dalam Al Quran dan As-Sunnah adalah suatu keharusan. Karena di dalamnya terdapat segala hal yang dibutuhkan oleh manusia dalam kehidupan.

Sedangkan yang dimaksud dengan mauidzoh adalah peringatan dan teguran terhadap suatu kejadian yang menimpa manusia. Mauidzoh perlu diterapkan dalam mendidik anak-anak agar mereka dapat mengambil pelajaran dari suatu kejadian yang pernah menimpa manusia.

Adapun membantah adalah metode yang digunakan seorang pendidik saat peserta didik yang tidak mau menerima nasehat. Tentunya bantahan yang dibolehkan adalah bantahan yang baik serta ilmiah dan bukan debat kusir.

Ketiga metode tersebut disebutkan dalam Al Quran :

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
(QS. An-Nahl : 125)

6. Metode Perumpamaan (Amtsal)

Informasi yang abstrak akan sangat sulit difahami oleh orang-orang yang hanya mampu berfikir secara konkret. Maka seorang pendidik harus menggunakan perumpamaan yang konkret untuk menjelaskan hal-hal yang abstrak. Metode amtsal dapat kita jumpai pada Al-Quran :

وَلَقَدْ ضَرَبْنَا لِلنَّاسِ فِي هَٰذَا الْقُرْآنِ مِن كُلِّ مَثَلٍ لَّعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam Al Quran ini setiap macam perumpamaan supaya mereka dapat pelajaran.
(QS Al-Zumar : 27)

7. Metode Kisah (Qishah)

Siapakah diantara kita yang tidak tertarik dengan kisah?

Ya, salah satu metode pendidikan yang paling disukai banyak peserta didik adalah menyampaikan sebuah kisah. Dengan kisah itulah seorang peserta didik dapat mengambil pelajaran di dalamnya :

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ وَلَٰكِن تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.
(QS. Yusuf : 111)

C. Memperbaiki Kualitas Pendidik

Pendidik memiliki arti yang lebih luas dari pada guru. Baik itu guru, dosen, pakar pendidik, orang tua, ustadz, kiayi dan siapapun bisa disebut sebagai seorang pendidik.

Para pendidik merupakan ujung tombak yang berperan langsung dalam kegiatan pendidikan. Mereka memiliki peran yang sangat besar dalam mempengaruhi kualitas pendidikan.

Kualitas pendidik yang kurang memadai mengakibatkan kegagalan dalam mencapai dari tujuan pendidikan itu sendiri. Maka dari itu Al Quran menganjurkan agar seorang pendidik memiliki sifat rabbani di dalam dirinya :

وَلَٰكِن كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنتُمْ تَدْرُسُونَ

Akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.
(QS. Ali Imron : 79)

Dalam tafsir ibnu Jarir dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan rabbani adalah orang-orang yang ahli fiqih, ahli hikmah, sholih, ahli mendidik dengan mengajarkan manusia pada kebaikan, dan mengajak mereka pada kemaslahatan.

Disebut pula sebagai rabbani adalah seorang ahli hikmah yang bertakwa kepada Allah dan pemimpin yang mengatur urusan manusia dengan adil serta senantiasa memperbaiki perkara manusia dengan menegakkan kebaikan untuk urusan mereka dalam masalah dunia maupun akhirat.

D. Mendahulukan Pendidikan Spiritual dan Karakter

Adalah salah apabila pelajaran yang paling utama bagi anak adalah matematika, IPA, ataupun bahasa inggris.

Al Quran telah memberikan petunjuk kepada kita bagaimana seorang Luqman Al-Hakim mendidik anaknya ketika masih usia dini. Kita dapat mengetahui apa yang ditanamkan pertama kali oleh Luqman ketika mendidik anaknya.

Berikut ini urutan pendidikan yang ditanamkan oleh Luqman kepada anaknya :

1. Tauhid

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".
(QS. Luqman : 13)

2. Bakti Kepada Orang Tua

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.
(QS. Luqman : 14)

3. Tidak Meremehkan Amalan Sekecil Apapun

يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِن تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُن فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ

(Luqman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.
(QS. Luqman : 16)

4. Kedisiplinan Ibadah, Amar Ma’ruf Nahi Munkar, dan Kesabaran

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).
(QS. Luqman : 17)

5. Akhlak : Rendah Hati

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
(QS. Luqman : 18)

6. Adab : Berjalan dan Berbicara

وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِن صَوْتِكَ ۚ إِنَّ أَنكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ

Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.
(QS. Luqman : 19)

3. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Ilmu Pengetahuan dan Teknologi adalah salah satu faktor terbesar yang mempengaruhi kemajuan suatu negara. Tanpa mengembangkan IPTEK maka suatu negara akan tertinggal jauh dengan negara-negara lain.

Selain itu perkembangan IPTEK juga sangat berpengaruh pada kualitas kehidupan manusia. Oleh karena itu, diperlukan adanya usaha manusia untuk terus mengembangkan IPTEK.

Tentunya, kemajuan IPTEK tidak akan pernah lepas dari peran kalangan akademisi, baik itu dari kalangan mahasiswa, guru, dosen, sarjana, magister, doktor, maupun profesor.

Sebagai kalangan akademisi mereka memiliki tugas untuk belajar, mempelajari, meneliti, dan mengembangankan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Tak hanya mereka saja, seluruh elemen masyarakat pun harus memiliki andil dalam kemajuan IPTEK itu sendiri. Karena dengan adanya kemajuan teknologi informasi terkini, ilmu pengetahuan sangat mudah diperoleh dari manapun.

Betapa banyaknya karya tulis ilmiah baik berbentuk artikel, jurnal, skirpsi, tesis bahkan disertasi yang dengan mudah kita baca dan kita unduh melalui media daring.

Namun sayangnya, kesadaran akan pentingnya pengembangan IPTEK ini sepertinya sangat kurang sekali di kalangan masyarakat Indonesia, bahkan di kalangan akademisi sendiri.

Kebanyakan dari kita menempuh pendidikan tinggi hanya untuk mencari gelar guna memenuhi syarat pekerjaan yang kita inginkan. Akibatnya kemajuan negara kita di bidang ini sangat tertinggal jauh oleh negara-negara maju lainnya bahkan dengan negara tetangga sebelah yang notabennya hanyalah negara berkembang seperti negara kita.

Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia sangatlah memperhatikan ilmu pengetahuan dan teknologi. Betapa banyak ayat-ayat Al Quran yang menunjukkan kepada kita akan pentingnya ilmu pengetahuan dan teknologi, diantaranya sebagai berikut :

A. Ilmu Pengetahuan Guna Memahami Fenomena Alam

Al-Quran tidak hanya memberikan petunjuk tata cara ibadah kepada manusia. Ia juga memuat perumpamaan-perumpamaan agar kita dapat memahami maksud dari perumpamaan tersebut.

Perumpamaan yang digambarkan dalam Al Quran biasanya berupa fenomena alam dimana fenomena tersebut tidaklah mampu dipahami kecuali oleh orang yang memiliki ilmu pengetahuan.

وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ ۖ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ

Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.
(QS. Al-Ankabut : 43)

Dari ayat tersebut kita dapat mengambil hikmah bahwa fenomena-fenomena yang terjadi di sekitar kita tidak akan mampu dipahami kecuali dengan ilmu pengetahuan. Maka satu-satunya alat untuk memahami dan mempelajari fenomena alam adalah ilmu pengetahuan.

B. Memfungsikan Akal

Akal adalah alat untuk menerima, mempelajari, memahami, dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Tanpa memfungsikan akal kita tidak akan mampu menerima pelajaran dan ilmu pengetahuan.

Dengan akal inilah yang awal mulanya manusia dilahirkan tanpa mengetahui apapun maka ia akan mengetahui segala hal dengan akalnya.

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.
(QS. Az-Zumar : 9)

C. Mengadakan Penelitian

Untuk mengembangkan ilmu pengetahuan maka perlu diadakan penelitian terhadap gejala-gejala yang terjadi di alam ini.

Tahukah Anda? Apabila kita senantiasa berfikir, memerhatikan, dan meneliti semua ciptaan Allah maka keimanan kita akan semakin bertambah, menjadi semakin rendah diri karena betapa banyak hal yang belum kita ketahui, semakin menganggungkan Allah, dan tentunya dapat memunculkan cabang ilmu pengetahuan baru.

Al-Quran yang merupakan kalam Allah subhanahu wata’ala selalu mengisyaratkan akan adanya tanda-tanda kekuasaan-Nya terhadap fenomena alam, baik itu dari sudut pandang ilmu hayat (biologi), fisika, kima, humaniora, sosiologi, antropologi, psikologi, bahasa, pendidikan, dan semua fenomena yang terjadi di alam ini.

Dan setiap gejala yang terjadi di alam ini hanya mampu diketahui oleh orang-orang yang memikirkan dan memperhatikannya, berdasarkan Al Quran :

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,
(QS. Ali Imran : 190)

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi
(QS. Ali Imran : 191)

وَهُوَ الَّذِي مَدَّ الْأَرْضَ وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْهَارًا ۖ وَمِن كُلِّ الثَّمَرَاتِ جَعَلَ فِيهَا زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ ۖ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Dan Dialah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.
(QS. Ar- Ra’du : 3)

فَلْيَنظُرِ الْإِنسَانُ مِمَّ خُلِقَ

Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan?
(QS. At-Thoriq : 5)

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا نَسُوقُ الْمَاءَ إِلَى الْأَرْضِ الْجُرُزِ فَنُخْرِجُ بِهِ زَرْعًا تَأْكُلُ مِنْهُ أَنْعَامُهُمْ وَأَنفُسُهُمْ ۖ أَفَلَا يُبْصِرُونَ

Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwasanya Kami menghalau (awan yang mengandung) air ke bumi yang tandus, lalu Kami tumbuhkan dengan air hujan itu tanaman yang daripadanya makan hewan ternak mereka dan mereka sendiri. Maka apakah mereka tidak memperhatikan?
(QS. As-Sajadah : 27)

Kesimpuan dan Saran

Dari penjelasan yang telah kita uraikan diatas kita bisa mengetahui bahwa betapa banyaknya ayat-ayat Al Quran yang belum kita terapkan dalam kehidupan kita.

Padahal, kita sepakat bahwa Al Quran adalah petunjuk bagi kehidupan kita.

Selain itu, kurangnya pengetahuan kita terhadap kandungan Al Quran membuat kita semakin terperosok dalam jurang kebodohan.

Memang tidak semua apa yang di dalam Al Quran dapat langsung kita terapkan sekaligus. Apalagi menerapkan sistem pemerintahan khilafah yang didamba-dambakan oleh kaum muslimin.

Maka dari itu langkah awal untuk memperbaiki kondisi negeri ini adalah menerapkan sedikit demi sedikit apa yang ada di dalam Al Quran tetapi memiliki pengaruh yang besar dalam kemajuan negara kita.

Insya Allah, dengan kita terapkan ekonomi, pendidikan, dan IPTEK secara qur’ani dengan segenap kemampuan kita maka permasalahan yang ada di Indonesia akan semakin berkurang.

Apabila ketiga hal tersebut berhasil kita terapkan secara keseluruhan maka segala yang ada di dalam Al Quran akan lebih mudah untuk diterapkan sedikit demi sedikit.

Tentu semua itu atas izin dari Allah subhanahu wata’ala. Wallahu a’lam.

Oleh : Adam Rizkala

Berlangganan untuk menerima pembaruan email gratis:

0 Response to "Penerapan Al Quran Sebagai Solusi Permasalahan di Indonesia"

Posting Komentar