Adab Bermedia Sosial dalam Islam


Etika Bermedia Sosial dalam Islam
Adab dan Etika Bermedia Sosial
Siapakah yang tidak kenal dengan media sosial? Ya! di zaman yang modern ini hampir seluruh lapisan masyarakat pasti memiliki setidaknya satu akun media sosial. 

Media sosial adalah sebuah sarana yang dengannya kita dapat bersosialisasi secara daring. Sarana ini sangat memudahkan kita untuk saling bersosialisasi bersama siapapun yang kita mau. 

Dengan media sosial kita tidak perlu repot untuk jauh-jauh mengunjungi rumah teman. Cukup miliki akun sosial media maka kita dapat dengan mudah berkomunikasi dengan siapapun di seluruh dunia.

Namun, ada satu hal yang tidak akan pernah mungkin kita hindari, yaitu dampak positif dan negatif dari media sosial itu sendiri. Media sosial banyak sekali memberikan dampak positif kepada kita, akan tetapi ia juga andil dalam memberikan dampak yang negatif. 

Tak jarang kita jumpai permusuhan, penyebaran berita hoax, pembullyan, pembunuhan karakter, dan dampak negatif lainnya karena media sosial. Hal ini disebabkan karena kurangnya etika kita dalam menggunakan media sosial.

Pada hakikatnya berinteraksi di media sosial sama dengan berinteraksi sosial secara langsung. Namun, dalam berinteraksi di media sosial kita harus lebih berhati-hati, karena arus informasi dimedia sosial adalah arus yang sangat cepat dan apabila sudah tersebar kemana-mana maka akan sangat sulit kita cegah.

Atas dasar tersebut maka kami mencoba merangkum beberapa hal penting terkait adab dan etika yang perlu kita implementasikan dalam bermedia sosial. Berikut rangkumannya :

1. Etika Media Sosial Saat Memosting

Pada hakikatnya memosting sebuah postingan adalah sama dengan memberikan informasi kepada orang lain, entah itu berbentuk tulisan, gambar, ataupun video. 

Maka dalam membuat postingan hendaknya kita benar-benar memperhatikan karena setiap apa yang kita informasikan kepada orang lain akan tercatat di dalam buku amal dan akan dipertanggung jawabkan besok di hari kiamat. Allah ta’ala berfirman :

وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ (10) كِرَامًا كَاتِبِينَ (11) يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ (12)

Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), [10] yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), [11] mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan. [12] (Q.S Al-Infithor : 10 – 12)

Semua postinganmu tercatat di dalam buku amalmu
Berikut ini beberapa adab yang berkaitan dengan postingan:

a. Berbicara dengan Kalimat yang Baik

Tidak hanya di dunia nyata, di dunia maya pun kita dituntut untuk berbicara dengan perkataan yang baik. Allah ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar (Q.S Al-Ahzab : 70)

Apabila kita perhatikan ayat tersebut maka kita akan mengetahui kalimat “katakanlah perkataan yang benar”  memiliki pengertian yang tegas dan menyeluruh. Dalam penjelasan kitab-kitab tafsir dapat kita ambil bahwa inti yang dimaksud mencakup dua hal, diantaranya :

Perkataan yang Jujur dan Tidak Dusta

Dalam memberikan informasi di media sosial seperti berita, artikel, kejadian, tips dan apapun itu hendaknya kita berkata jujur dan hindarilah informasi dusta (hoax)

Berhati-hatilah pada kalimat dusta (hoax) karena ia merupakan kalimat yang menerjunkan kita ke dalam api neraka. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam berbsada :

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّهُ مَعَ الْبِرِّ، وَهُمَا فِي الْجَنَّةِ، وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّهُ مَعَ الْفُجُورِ، وَهُمَا فِي النَّارِ

Diwajibkan bagi kalian berkata jujur, sesungguhnya jujur bersama kebaikan dan keduanya berada di surga. Dan takutlah kalian dengan dusta, sesungguhnya dusta bersama kedurhakaan, dan keduanya berada di neraka. (HR. Ahmad : 5)

Perkataan yang Baik dan Tidak Buruk

Tahukah Anda? Bahwa kita diperintahkan untuk menjaga diri kita dari neraka walapun dengan menyedekahkan sedekah biji kurma. 

Akan tetapi, ada yang lebih ringan dari pada itu namun sungguh kebanyakan dari kita sulit sekali mengamalkannya, yaitu sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam:

اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقَّةِ تَمْرَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ شِقَّةَ تَمْرَةٍ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ

Jagalah diri kalian dari neraka walaupun dengan sedekah setengah biji kurma. Jika tidak memilikinya maka dengan perkataan yang baik. (HR. Bukhari : 3595)

Namun, sayanganya betapa banyaknya saat ini dijumpai kalimat-kalimat yang buruk bertebaran di media sosial. Padahal semua bentuk kalimat tersebut telah dilarang oleh Allah ta’ala dalam firmannya :

Larangan Menghina Satu Sama Lain

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. (Q.S Al-Hujurat : 11)

Larangan Mencela Diri Sendiri

وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ

Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri (Q.S Al-Hujurat : 11)

Larangan Memberi Gelar yang Buruk

وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ

dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan (Q.S Al-Hujurat : 11)

b. Postingan Ketaatan dan Kemaksiatan

Apabila kita memosting sesuatu yang berkaitan dengan ketaatan kepada Allah seperti nasehat, peringatan, kajian agama, dakwah, dan lain sebagainya maka Allah akan memberikan pahala atas postingan tersebut selama postingan itu ada. 

Jika ternyata ada orang yang berubah menjadi lebih baik karena sebab postingan kita maka Allah akan memberikan kita pahala sebagaimana pahala orang yang mengerjakan kebaikan yang kita sampaikan.

Kebalikan dari pada itu, apabila kita memosting hal-hal yang berkaitan dengan kemaksiatan kepada Allah seperti, mengajak pada kemungkaran, ujaran kebencian, mengolok-olok pihak lain, gambar atau video yang terbuka aurat, dan lain sebagainya maka Allah akan memberikan dosa atas postingan tersebut selama postingan itu ada. 

Lebih dari itu, apabila ada orang yang berbuat kemaksiatan disebabkan postingan kita maka Allah akan menambahkan dosa itu pada kita sebagaimana dosa orang yang bermaksiat sebab apa yang kita postingan.  

Lalu seberapa banyak dosa kita apabila ternyata postingan kita ditonton, dan dicontoh oleh ribuan bahkan jutaan orang?

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَنْ سَنَّ سُنَّةَ خَيْرٍ فَاتُّبِعَ عَلَيْهَا فَلَهُ أَجْرُهُ وَمِثْلُ أُجُورِ مَنْ اتَّبَعَهُ غَيْرَ مَنْقُوصٍ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ سَنَّ سُنَّةَ شَرٍّ فَاتُّبِعَ عَلَيْهَا كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهُ وَمِثْلُ أَوْزَارِ مَنْ اتَّبَعَهُ غَيْرَ مَنْقُوصٍ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا

Barang siapa yang mencontohkan perbuatan yang baik lalu diikutilah perbuatan itu maka ia mendapatkan pahala sebagaimana orang yang mengikuti perbuatan itu tanpa dikurangi pahalanya sedikitpun. 

Dan barang siapa yang mencontohkan perbuatan yang buruk lalu diikutilah perbuatan itu maka ia mendapatkan dosa sebagaimana dosanya orang yang mengikutinya tanpa dikurangi dosanya sedikitpun. (HR. Tirmidzi : 2675)

Maka janganlah sekali-kali memosting hal-hal yang berbau maksiat di media sosial!

Siapa yang memosting kebaikan, maka pahala berlipat baginya. Siapa yang memosting keburukan, maka dosa berlipat baginya.

c. Perbanyak Postingan yang Bermanfaat

Betapa mirisnya saat ini mulai banyak timbul postingan-postingan yang tidak bermanfaat; seperti candaan yang berlebihan, gambar meme yang tidak bermanfaat, video tik tok yang menampilkan kemaksiatan, dan lain sebagainya. 

Padahal banyaknya postingan yang berlebihan dalam bercanda dan yang tidak bermanfaat itu membuat hati menjadi keras dan menunjukkan buruknya keislaman seseorang. 

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

لَا تُكْثِرُوا الضَّحِكَ، فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ

Jangan memperbanyak tertawa, karena sesungguhnya banyak tertawa itu mematikan hati. (HR. Ibnu Majah : 4193)

إِنَّ مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ المَرْءِ تَرْكَهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

Sesungguhnya termasuk baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya. (HR. Tirmidzi : 2318)

Maka dari itu, perbanyaklah postingan yang bermanfaat untuk diri kita dan seluruh masyarakat penghuni internet (netizen).

Muslim sejati adalah muslim yang meninggalkan hal yang tidak bermanfaat

d. Berpikir Sebelum Memosting

Apabila kita memosting sebuah postingan di media sosial maka postingan yang kita buat dapat dilihat, direkam, disebarkan dan dimanipulasi oleh siapapun, dimanapun dan kapanpun. Sehingga, jika postingan kita mengandung hal-hal yang negatif kemudian dilaporkan disertai bukti jejak digital yang valid maka mau tidak mau kita akan menanggung resikonya.

Selain itu, apa yang kita posting juga akan sangat susah untuk ditarik kembali apabila sudah tersebar luas. Belum lagi penyebaran informasi di media sosial saat ini begitu sulit dikendalikan. 

Apalagi jika postingan kita adalah postingan yang berbau maksiat, tentu postingan itu akan menjerumuskan kita ke dalam neraka. Maka dari itu berfikirlah terlebih dahulu terhadap dampak postingan tersebut sebelum memostingnya di media sosial.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ لَا يَرَى بِهَا بَأْسًا يَهْوِي بِهَا سَبْعِينَ خَرِيفًا فِي النَّارِ

Sesungguhnya seorang lelaki niscaya mengatakan sebuah kalimat yang dianggapnya tidak mengapa, padahal ia akan terjun kedalam api neraka selama 70 tahun sebab kalimatnya itu (HR. Tirmidzi : 2314)

Berfikirlah sebelum memosting karena bisa jadi postingan itulah yang akan memasukkanmu ke dalam surge atau menjerumuskanmu ke dalam neraka

e. Jangan Memosting Hal yang Bersifat Pribadi

Termasuk perkara yang tidak dibenarkan dalam agama adalah membuka aib dan privasi dimuka umum, baik privasi rumah tangga, menampakkan aurat, menceritakan perbuatan dosa yang telah kita lakukan dan lain sebagainya. 

Perhatikanlah sabda-sabda Rasululla shallallaahu ‘alaihi wasallam berikut ini :

إِنَّ مِنْ أَشَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ، الرَّجُلَ يُفْضِي إِلَى امْرَأَتِهِ، وَتُفْضِي إِلَيْهِ، ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا

Sesungguhnya termasuk orang yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah seorang lelaki yang menyetubuhi istrinya dan istri bersetubuh dengan suaminya kemudian ia menyebarkan rahasia istrinya. (HR. Muslim : 1437)

احْفَظْ عَوْرَتَكَ إِلَّا مِنْ زَوْجَتِكَ أَوْ مَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ

Jagalah auratmu kecuali dari istri atau budakmu. (HR. Abu Dawud : 4017)

لَا يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ، وَلَا الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ

Janganlah seorang lelaki melihat aurat lelaki lain, dan jangan pula wanita melihat aurat wanita lain. (HR. Muslim : 338)

كُلُّ أُمَّتِي مُعَافَاةٌ، إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ

Setiap umatku diampuni kecuali al-Mujaahirun [yaitu orang yang menampakan dan dan menceritakan perbuatan maksiatnya] (HR. Muslim : 2990)

Jagalah rahasiamu! Maka terjagalah kehormatanmu!

f. Hindari Curhat di Media Sosial

Pernahkah Anda jumpai teman, saudara, keluarga atau bahkan Anda sendiri yang curhat di media sosial? Ya, bahkan sangat banyak! Betapa banyaknya kita jumpai saat ini postingan-postingan yang berisi curhatan yang tidak semestinya untuk diposting. 

Terkadang ketika kita diberikan cobaan oleh Allah, justru kita malah melalaikan-Nya dan mendahulukan media sosial sebagai tempat curhat. Padahal, di dalam agama Islam seorang muslim diperintahkan untuk curhat kepada Allah walaupun itu masalah yang sangat sepele.

Di dalam hadits telah dijelaskan, bahwa masalah sekecil apapun yang dihadapi oleh seorang muslim hendaknya diadukan langsung kepada Allah ta’ala. Rasulullah shallallaahu ‘alaih wasallam bersabda :

لِيَسْأَلْ أَحَدُكُمْ رَبَّهُ حَاجَتَهُ كُلَّهَا حَتَّى يَسْأَلَ شِسْعَ نَعْلِهِ إِذَا انْقَطَعَ

Hendaknya salah seorang kalian memohon seluruh keperluannya kepada Rabbnya hingga (karena) tali sandal yang putuspun ia (tetap) memohon kepada-Nya. (HR. Tirmidzi : 3604)

Mengeluhlah pada Allah! Bukan pada sosial media

g. Jangan Membuat Cerita Dusta Agar Orang Lain Tertawa

Bercanda adalah aktivitas yang diperbolehkan di dalam Islam. Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam pun terkadang bercanda dengan keluarga dan para sahabatnya. 

Namun, beliau melarang ummatnya untuk bercanda dengan candaan yang mengandung unsur dusta, penipuan, membohongi, dan lain sebagainya. Bahkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam mengancam dalam sabdanya :

وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ، وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ

Celakalah bagi orang yang bercerita lantas berdusta untuk membuat suatu kaum tertawa! Celakalah dia! Celakalah dia! (HR. Abu Dawud : 4990)

Celakalah bagi mereka yang membuat dusta untuk melawak

2. Etika Media Sosial Saat Berkomentar

Sebenarnya ada kesamaan antara adab memosting dan adab berkomentar. Hal ini dikarenakan memosting dan berkomentar sama-sama menunggah tulisan ke media sosial yang tidak terlepas dari kalimat-kalimat yang perlu diperhatikan; seperti berucap yang baik, tidak mengolok-olok, dan lain sebagainya. Namun, antara memosting status dan komentar ini ada sedikit perbedaan. 

Berikut ini hal-hal yang hendaknya kita perhatikan sebelum berkomentar :

a. Lihatlah Konten Postingan Secara Menyeluruh

Kebanyakan dari kita mudah terkecoh dengan judul dan malas membaca atau melihat postingan secara menyeluruh sehingga langsung menyimpulkan dan berkomentar. Inilah perbuatan yang kurang bijak ketika berkomentar. 

Selayaknya kita lihat terlebih dahulu konten postingan secara menyeluruh sebelum memberikan komentar.

Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa orang yang memberikan informasi hampir sama dengan orang yang berbicara. Ketika kita memotong apa yang dibicarakan dengan mengomentarinya secara langsung maka ini adalah hal kurang pantas. 

Dari sisi syari’at memang tidak ada dalil yang secara eksplisit menyebutkan tentang hal ini, tetapi ada kesamaan yang bisa kita ambil dibalik sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam berikut ini :

إِذَا قُلْتَ لِلنَّاسِ: أَنْصِتُوا، وَهُمْ يَتَكَلَّمُونَ، فَقَدْ أَلْغَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

Ketika engkau katakan “Diamlah” pada orang yang sedang berbicara, maka engkau telah mengecewakan dirimu sendiri. (HR. Ahmad : 8235, isnadnya shahih berdasarkan syarat bukhari dan muslim)

Baca dulu, baru komentar

b. Berdebat di Kolom Komentar

Secara umum debat bisa kita bagi menjadi dua: yaitu debat ilmiah dan debat kusir. Perdebatan ilmiah atau diskusi ilmiah memang tidak dilarang dalam syari’at. 

Akan tetapi kolom komentar bukanlah tempat untuk berdebat walaupun bersifat ilmiah. Ada beberapa sikap yang perlu kita perhatikan terkait perdebatan di kolom komentar :

Jangan Menyengaja Membuat Komentar yang Memicu Perdebatan

Perdebatan di kolom komentar adalah perbuatan yang kurang pantas. Hal ini dikarenakan akan menimbulkan siapapun yang mau berdebat dalam komentar itu bisa saling berdebat. 

Ingatlah, bahwa media sosial adalah media yang sangat terbuka sehingga arus komentar akan susah di kontrol. Ketika satu orang menyengaja berkomentar dengan komentar yang memicu perdebatan maka siapapun yang mau berdebat bisa membuat suasana menjadi semakin panas.

Diamlah Ketika Diajak Berdebat

Tatkala kita sudah berusaha membuat komentar yang tidak menimbulkan berdebatan kemudian ternyata terjadi perdebatan maka diam adalah yang terbaik. Orang yang mengajak debat kusir di kolom komentar adalah orang bodoh yang tidak mengerti etika. 

Meskipun kita tampaknya kalah dalam perdebatan tersebut, namun sejatinya kitalah yang menang. Karena kita telah mempraktekkan adab sedangkan mereka tidak.

Selayaknya kita diam sebagaimana salah satu sifat hamba-hambanya Allah yang difirmankan oleh Allah ta’ala :

وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, maka mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. (Q.S Al-Furqon : 63)

Ibnu Katsir menafsirkan ayat tersebut :

إِذَا سَفه عَلَيْهِمُ الْجُهَّالُ بِالسَّيِّئِ، لَمْ يُقَابِلُوهُمْ عَلَيْهِ بِمِثْلِهِ، بَلْ يَعْفُونَ وَيَصْفَحُونَ، وَلَا يَقُولُونَ إِلَّا خَيْرًا، كَمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَزِيدُهُ شِدَّةُ الْجَهْلِ عَلَيْهِ إِلَّا حِلْمًا

Ketika orang-orang jahil menilai bodoh pada mereka dengan ungkapan yang buruk, maka mereka tidak membalasnya dengan hal yang semisal. 

Bahkan mereka memaafkan dan hanya berkata pada perkataan yang baik. Sebagaimana sikap Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam yang apabila orang bodoh semakin bersikap keras pada beliau maka beliau malah menjadi semakin penyantun. (Tafsir Ibnu Katsir 6/122)

Hapus Komentar yang Telah Terjadi Perdebatan di Dalamnya

Terkadang ketika kita berkomentar kita tidak berniat sama sekali untuk memicu perdebatan. Namun ternyata tiba-tiba komentar kita dibanjiri perdebatan yang sama sekali tidak berfaedah. 

Maka sikap yang paling layak kita ambil adalah menghapus komentar tersebut sebelum menimbulkan kerusakan yang lebih besar.

Menghindari perdebatan lebih utama dari pada terus menanggapinya

c. Spam Komentar

Pernahkah postingan Anda dipenuhi dengan komentar yang mengganggu dan tidak bermanfaat? Tentu Anda kesal bukan? 

Ya, termasuk seorang muslim yang baik adalah seorang muslim yang tidak mengganggu saudara muslim yang lain dengan lisan dan tangannya. 

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya oleh seseorang tentang siapakah seorang muslim yang baik maka beliau menjawab :

مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

(Seorang muslim yang baik) adalah yang mana muslim yang lain selamat dari (gangguan) lisan dan perbuatannya. (HR. Muslim : 40)

Muslim sejati adalah yang menjaga lisan dan perbuatannya agar tidak mengganggu muslim lainnya

3. Etika Media Sosial saat Menyebarkan Informasi (Sharing)

Sebetulnya sharing ini juga bisa dikatakan menyebarkan informasi kepada orang lain yang sumber informasinya berasal dari kita sendiri. Namun pada umumnya sharing yang kita fahami adalah membagikan informasi kepada orang lain yang informasi tersebut berasal dari pihak lain.

Berikut ini beberapa hal yang perlu kita perhatikan dalam menyebarkan informasi yang ada di internet maupun media sosial :

a. Asal Sharing

Gegabah dalam menyebarkan informasi adalah perbuatan yang buruk. Bahkan ia cukup untuk dicap sebagai pendusta karena menyebarkan apa saja yang ia dengar tanpa klarifikasi. 

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

Cukuplah seseorang dikatakan pendusta apabila ia menceritakan setiap apa yang ia dengar (HR. Muslim : 5)

Pendusta adalah mereka yang selalu menyebarkan postingan dimana ia jumpai

b. Konfirmasi Kebenaran Berita

Siapakah yang tidak tertarik untuk menyebarkan berita heboh yang diterimanya? 

Bahkan banyak diantara kita yang terpengaruh pada berita yang cukup menghebohkan sehingga terpancing untuk menyebarkannya keseluruh akun media sosialnya. 

Inilah kurangnya etika yang sangat disayangkan karena hampir sebagian besar penghuni internet pernah melakukannya. 

Akibatnya, banyak kehormatan seseorang jatuh dan buruk nama baiknya karena tersebarnya informasi-informasi miring yang sudah menyebar luas ke mana-mana. Bahkan perbuatan ini juga dapat memecah belah persaudaraan kita.

Di dalam Islam, kita diperintahkan untuk menjaga kehormatan seseorang. Kita tidak diperkenankan untuk menyebarkan informasi yang menjatuhkan kehormatan seseorang tanpa mengetahui kebenarannya terlebih dahulu. 

Perhatikanlah firman Allah ta’ala berikut ini :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (Q.S Al-Hujurat : 6)

Bahkan seandainya berita itu benar maka kita tetap dilarang untuk menyebarkan berita saudara kita yang bersifat merendahkan kehormatannya. Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda :

كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ، دَمُهُ، وَمَالُهُ، وَعِرْضُهُ

Setiap muslim kepada muslim yang lain itu haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya. (HR. Ibnu Majah : 3933)

Konfirmasi dulu, baru di share!

c. Mengatas Namakan Diri Sendiri Terhadap Karya Orang Lain

Pernah berjuang susah payah membuat sebuah karya yang begitu menarik? 

Apabila iya maka betapa kesalnya kita ketika memosting sebuah karya baik itu tulisan, gambar maupun video yang bagus dan menarik tiba-tiba orang lain menyebarkan atas nama karya orang tersebut. 

Ya, budaya plagiat ini memang tidak selayaknya kita contoh karena ia akan menumpulkan kreatifitas seseorang. Bahkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam mengancam perbuatan ini, beliau bersabda :

وَمَنِ ادَّعَى مَا ليْسَ لَهُ فَلَيْسَ مِنَّا، وَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

Barang siapa yang mengaku-ngaku pada apa yang tidak ia miliki maka ia bukan golongan kami, dan hendaklah ia bertempat pada tempat duduknya di neraka. (HR. Muslim : 61)

d. Mencari Kesalahan Orang dan Menyebarkannya

Apakah Anda seorang tokoh publik? Apabila iya maka betapa kesalnya tatkala perkataan kita baik itu berupa tulisan, gambar, atau video yang dicari-cari kesalahannya lantas disebarkan ke media sosial.

Tak jarang kita jumpai video-video para tokoh seperti politikus, pendakwah, ustadz, pembicara, pejabat, dan lain sebagainya yang dicari-cari kesalahannya dan dipotong-potong kemudian disebarkan keseluruh media.

Akibanya, perbuatan tersebut akan menimbulkan permusuhan, kebencian, dan saling menggunjing dan mengumpat satu sama lain. 

Padahal dengan tegas Allah ta’ala telah melarang perbuatan tersebut dengan berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (Q.S Al-Hujurat : 12)

Demikianlah sedikit dari banyaknya adab bermedia sosial yang bisa kami rangkum. Semoga artikel ini bisa membawa manfaat bagi siapa saja yang mau membaca, mengamalkan, dan menyebarkannya. Amiin.

Oleh : Adam Rizkala

Berlangganan untuk menerima pembaruan email gratis:

0 Response to "Adab Bermedia Sosial dalam Islam "

Posting Komentar